Serunya Menikmati Liburan Musim Panas Dengan Budget Murah di Maldives.

Liburan musim panas selalu identik dengan pantai, karena saat itulah waktu yang tepat untuk berenang, menikmati hangatnya sinar matahari, atau bahkan mencoba tanning seperti yang dilakukan orang-orang bule. Sebenarnya ada banyak pantai yang indah di Indonesia untuk berlibur saat musim panas, tapi jika ingin mencoba sensasi yang berbeda, cobalah merencanakan liburan musim panas di Maldives.

Saat kita bicara tentang Maldives, biasanya yang ada di pikiran kita adalah liburan mahal dan tinggal di resort mewah. Memang tidak bisa dipungkiri, pulau-pulau di Maldives sudah banyak dikelola oleh resort-resort mewah dan tidak bisa sembarangan masuk ke sana. Tapi bukan berarti kita tidak bisa berlibur ke sana dengan biaya yang murah. Ada banyak cara untuk bisa liburan hemat dan murah di Maldives, seperti yang saya baca di blognya Reddoorz. Di blog itu pula terdapat banyak referensi lokasi-lokasi yang menarik, baik di dalam maupun luar negeri, beserta tips-tips traveling, jadi sangat berguna untuk menambah informasi panduan wisata kita sebelum traveling.

Salah satu kabar baiknya lagi, pemerintah Maldives telah memudahkan kita sebagai pemegang paspor Indonesia untuk berkunjung ke sana dengan membebaskan biaya Visa selama 30 hari, hal itu sangat membantu memangkas budget kita saat traveling. Jadi, kita tinggal mencari waktu yang tepat untuk pergi ke Maldives, karena biasanya banyak maskapai penerbangan yang menawarkan berbagai tiket murah. alternatif untuk bisa liburan murah di Maldives adalah dengan mengunjungi pulau-pulau yang dihuni masyarakat lokal seperti Maafushi, Gulhi, Guraidho, dan lain-lain. Karena di pulau tersebut tersedia banyak penginapan dan restoran yang sangat terjangkau. Oh iya, penduduk Maldives memeluk agama Islam, jadi di pulau lokal sini tidak bisa sembarangan berenang menggunakan bikini, ada area tertentu yang diperbolehkan.

Maldives terdiri dari banyak pulau karang yang eksotis. Tiap sudutnya menawarkan keindahan, maka tidak salah negara ini menjadi salah satu tujuan utama berbulan madu. Ada banyak hal yang bisa kita lakukan di Maldives selain berenang di pantai, yaitu kita bisa bermain olahraga air seperti kayaking, paddle board, sailing, snorkling, diving, surfing dan bahkan kalau beruntung bisa berenang bersama lumba-lumba di laut lepas. Pada malam harinya, yang paling penting adalah mencoba makan malam romantis di pinggir pantai. Suasana di sana syahdu sekali, rasanya bikin betah, dan jadi malas pulang ke rumah.

Jika ingin merasakan liburan dan berfoto ala resort mewah, kita bisa berkunjung ke pulau-pulau resort tersebut, tapi tentunya tidak gratis. Tergantung dari kebijakan resort masing-masing pulau. Pengunjung yang memasuki pulau dikenakan biaya mulai dari Rp 1.000.000 per orang. Dengan biaya sebesar itu, kita bisa makan ala buffet sepuasnya dan bebas berfoto-foto dan berenang di pantai mulai dari pagi hingga sore hari. Jadi tetap hemat, namun bisa mendapatkan foto-foto bagus di resort mewah.

Untuk oleh-oleh, kita bisa membelinya di toko souvenir di Male, ibukota Maldives. Para penduduk di sana ramah-ramah, dan sebagian besar mampu berbicara menggunakan bahasa Inggris. Untuk harganya tidak beda jauh dengan souvenir di Indonesia, dan harus pintar-pintar menawar juga. Oh iya, berhubung Maldives negara muslim, mereka sangat senang bila dikunjungi oleh muslimin dari negara lain, jadi ada istilahnya “Harga Muslim”, dengan diskon khusus. Seperti yang diberikan mereka kepada kami setelah melihat rekan saya mengenakan jilbab. Jadi jangan heran, jika toko-toko pada tutup saat adzan berkumandang, karena mereka pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat berjamaah.

Sungguh ini perjalanan musim panas yang penuh berkah di Maldives, kita bisa menikmati keindahan alam di sana dengan puas, dan tentunya dengan budget yang sangat hemat, dan sangat layak untuk dicoba kembali.

#RedSummerHoliday

Advertisements

Menikmati Malam Minggu di Hobbit Hill Cileungsi

Di saat bingung mau mengisi akhir pekan di mana, akhirnya saya teringat undangan dari mas Diman Caldera Indonesia untuk mengunjungi obyek wisata terbaru yaitu Hobbit Hill di Cileungsi Kab. Bogor.

Berhubung lokasinya dekat Cibubur, saya langsung mengajak @meriyasmine yang memang berdomisili di sana, yah seenggaknya gak ngenes jalan sendirian lagi deh.

Untuk akses menuju lokasi ini sangat mudah, dari Jakarta ambil ke arah Cibubur. Dari Cibubur Plasa lalu jalan terus ke timur menuju Cileungsi, sekitar 30 menit dari situ belok kiri masuk ke kawasan Harvest City.


Sesampainya di lokasi, saya disambut oleh mas Ari dan Mbak Iyel sebagai managernya dan juga mas Yadi dari Caldera. Jadi Hobbit Hills ini merupakan bagian dari jaringan Caldera Adventure Indonesia di Sukabumi yang menyediakan resort dan rafting di sungai Citarik. Selain itu juga mereka mempunyai Pirates Bay dan Sobek Rafting di Bali, jadi sudah cukup terkenal di kalangan penggiat arung jeram.

Saat masuk ke areanya saya cukup antusias dengan suasananya, meskipun ini masih dalam tahap pembangunan. Di bagian depan kita akan melewati lorong bambu dan di sebelah kirinya terdapat telaga buatan, jadi di sini kita bisa mengeksplor telaga menggunakan perahu karet yang biasa digunakan untuk rafting.

Ada beberapa fasilitas permainan di sini untuk ketangkasan seperti wall climbing untuk anak dan dewasa, lorong ban, dan juga nantinya akan dibangun flying fox, camping ground, dan arena outbound untuk keluarga.

Berdiri di atas tanah seluas 4 hektar ini, nantinya Hobbit Hills akan menjelma menjadi Eco Village dengan penginapan berbentuk ala rumah Hobbit seperti di film, namun tetap mengusung konsep yang ramah lingkungan dengan menggunakan bahan-bahan bangunan yang diambil langsung dari alam.


Saat ini yang sudah tersedia baru berupa restoran, namun awal tahun depan sudah mulai dibangun penginapannya. Jadi, selain menginap, nantinya kita bisa merasakan hidup yang ramah lingkungan selaras dengan alam ini dan bisa ikut belajar bercocok tanam dan mengolah lahan pertanian di sini bersama para pakarnya.

Oh iya, lahan pertanian di sini digarap bekerjasama dengan para petani lokal lho, jadi para petani ini telah diberi edukasi agar bisa mengolah secara organik yang ramah lingkungan. Selain itu juga hasil perkebunannya juga dibeli dengan harga yang sangat layak, dan diolah menjadi masakan. Jadi sayuran yang disajikan benar-benar segar karena diambil langsung dari perkebunan di sebelahnya.

Sebenernya waktu terbaik untuk ke Hobbit Hill ini adalah saat sore hari, karena pada siang hari di tempat ini cukup panas terik matahari. Namun tidak terlalu masalah juga, karena jam buka tempat ini mulai pukul 10.00-22.00, jadi bisa memilih kapan saja mau datang.


Saat itu saya datang bertepatan dengan malam Minggu. Di tiap akhir pekan inilah ada hiburan musiknya, jadi kita bisa memilih mau makan di luar atau di dalam ruangan rumah Hobbits. Tapi agar lebih tenang, sebelum datang ke lokasi sebaiknya melakukan reservasi terlebih dahulu agar mendapatkan tempat, karena saat malam Minggu pengunjungnya cukup ramai.

Makanan yang tersedia di sini cukup beragam, ada makanan Indonesia dan juga Western. Soal rasa jangan diragukan lagi, karena kokinya sudah berpengalaman memasak di berbagai tempat di luar negeri. Selain itu juga harganya masih sangat terjangkau kok.


Bagi yang makan-makanan Indonesia, cobalah nasi liwet, karena di sini penyajiannya cukup unik yaitu dengan botram ala Sunda atau bisa disebut juga bancakan yaitu dengan menggunakan daun pisang sebagai alasnya. Jadi konsep dari penyajian makanan ini adalah kebersamaannya, meskipun yang dimakan adalah makanan sederhana seperti itu.


Di resto ini terdapat 11 bangunan ala Hobbit untuk tempat makannya. Uniknya lagi, bangunan ini dibuat tanpa menggunakan batu bata, jadi sebagai penggantinya, mereka menggunakan karung-karung yang diisi kerikil dan pasir yang disusun melingkar. Untuk tiang penyangganya menggunakan kayu cengkeh dan atapnya berupa jerami.



Meja dan tempat duduknya pun beragam, ada yang panjang, ada yang lesehan, dan ada juga yang berupa meja bundar layaknya di film King Arthur.
Jadi, tempat ini sangat cocok digunakan untuk Candle Light Dinner yang romantis bersama pasangan ataupun keluarga. Selain itu bisa juga kok untuk pesta pernikahan, karena banyak spot bagus dan unik untuk berfoto.

Wahh, jadi gak sabar deh menunggu tahun depan untuk bisa merasakan menginap di rumah Hobbit dan belajar bercocok tanam di sini.

 

Untuk reservasi dan info selengkapnya bisa hubungi :
0813 8199 2725 
www.hobbit-hill.com

Mengenang Berkah Erupsi Merapi 7 Tahun Silam di Balerante

Ramadan adalah bulan yang dinantikan oleh seluruh umuat Islam di seluruh dunia. Di bulan penuh berkah inilah umat muslim berlomba-lomba beribadah serta meningkatkan iman dan takwanya kepada Allah SWT. Alhamdulilah, di tahun ini saya bisa kembali dipertemukan dengan bulan Ramadan yang penuh kemuliaan ini. Nah, kebetulan sekali saat hari pertama ramadan saya sedang ada trip di Yogyakarta dan akan mengeksplor beberapa tempat di sana, dan tentunya tetap menjalankan ibadah puasa seperti biasa.

Selepas sholat Subuh, saya Jetrani dan teman-temannya bergegas ke utara menuju kaki Gunung Merapi, tepatnya di Klangon. Di lokasi ini kita bisa melihat puncak Merapi lebih dekat tanpa perlu mendaki hingga ke atas. Untuk mencapai ke sini harus melalui jalan yang menanjak dan agak rusak, karena merupakan jalur truk pasir, namun masih bisa menggunakan motor matic, tapi harus hati-hati. Dari gardu pandang, terlihat dari kejauhan namun masih jelas, puncak Merapi yang kawahnya lebar menganga.


Dari situ, perjalanan dilanjutkan ke Kalitalang, Balerante, dan masuk wilayah Klaten, Jawa Tengah. Suatu ketika saya melewati masjid yang tampak tidak asing sekali bagi saya. Saya tercengang, setelah dicermati ternyata itu adalah Masjid Al Qodr yang selamat dari terjangan awan panas erupsi Gunung Merapi 2010 silam. Yapp, pada tahun 2010 saya bergabung dengan relawan dan SAR dalam membantu menangani erupsi bencana Merapi, dan kebetulan wilayah Balerante ini terkena dampak yang parah karena lokasinya yang dekat dengan Merapi.


Saat tahun 2010, awalnya seluruh relawan di tempatkan di posko ini yang letaknya tepat di depan masjid sebagai tempat pemantauan Merapi dan tempat berkoordiansi. Sekitar 3 hari setelah status Merapi di naikkan, kemudian para relawan bergegas mengevakuasi penduduk di sana ke tempat yang aman. Ternyata keputusan mereka tepat. Malamnya setelah evakuasi terjadilah terjangan awan panas yang menerjang desa itu.

Lantunan doa dan takbir yang diucapkan mengiringi para relawan yang melakukan evakuasi saat itu menuju tempat yang aman. Kami dihadapkan antara hidup dan mati, karena awan panas dengan cepat sekali turun, dan khawatir kami tidak selamat terkena sapuannya. Alhamdulilah, kami berhasil mengevakuasi penduduk desa ini ke tempat yang aman, meskipun banyak yang mencaci karena kami tidak sempat menyelamatkan hewan ternak mereka.


Beberapa hari setelah terjangan awan panas itu, saya dan rekan-rekan mencoba naik kembali untuk mengecek kondisi desa tersebut. Ternyata sebagian besar pemukiman hancur, rata dengan tanah. Begitu juga dengan posko relawan yang hancur dan hanya menyisakan minuman yang kemasannya hangus terbakar. Sementara itu tak disangka, di seberangnya masih kokoh berdiri Masjid kecil yang telah tertutup abu vulkanik. Allah telah menunjukkan kekuasaannnya saat itu, dan saya hanya bisa terharu mengucap syukur mengagumi kebesaran-Nya.


Tujuh tahun berlalu pasca erupsi Merapi akhirnya tidak sengaja saya dipertemukan kembali dengan tempat ini saat bulan ramadan. Sejenak saya berhenti di depan masjid untuk bernostalgia, mengenang masa-masa itu.


Setelah itu, saya lanjutkan menuju destinasi berikutnya, yaitu Kalitalang yang lokasinya tidak jauh dari tempat ini. Saat sampai di lokasi saya dibuat terheran-heran, karena sudah banyak yang berubah. Dulu yang hanya tempat pengamatan Merapi dan tempat warga mencari rumput, kini berubah menjadi tempat wisata yang bagus dan unik yang dikelola dengan baik oleh warga sekitar. Mereka sangat kreatif dalam membuatnya. Di sana terdapat beberapa spot untuk melihat pemandangan Merapi, lalu ada juga ayunan dan tulisan kata-kata mutiara penyemangat hidup yang lucu dan sangat menghibur.



Merapi tak pernah ingkar janji. Bencananya di masa lalu kini berubah menjadi salah satu sumber berkah penghidupan warga sekitar. Allah memang Maha Adil, memberikan rejeki yang tidak disangka dengan jalan yang berbeda. Kita sebagai manusia harus selalu bersyukur telah diberi kenikmatan yang luar biasa, apalagi di bulan yang penuh berkah ini. Sekarang tinggal menjaga dan merawatnya untuk dinikmati demi kebaikan bersama.