Wimy Maafkan Kami


Saat masih SD saya sangat benci kucing. Pasalnya, ketika pulang sekolah saya pernah memergoki seekor kucing kampung nyelonong masuk ke dalam rumah dan mencuri ayam bakar yang ada di dalam lemari makan.

Langsung saja saya kejar kucing itu dan kulempar pakai batu bata hingga kucingnya mental dan menjatuhkan ayam bakar yang digigitnya. Jadi posisi seri, dia tidak dapat ayamnya, begitu juga saya, karena ayamnya sudah jatuh ke tanah.

Saya kesal sekali, karena ayam bakar itu jatah makan siang, jadi siang itu saya tidak makan apa-apa, karena sudah tidak ada lauk lagi.

Dari kejadian itu, saya berpikir sejenak. Ternyata yang saya lakukan barusan itu kejam sekali, mungkin karena faktor lapar saya bisa berbuat demikian, apalagi saat itu saya masih kecil, emosinya tak terkendali, dan saya menyesal.

Akhirnya saya ke luar dan memungut ayam tersebut untuk diberikan kepada kucing tadi. Tapi sayangnya kucing itu sudah tidak ada, saya cari di sekeliling rumah pun tidak ada. Begitu juga pada hari-hari ke depan, kucing itu tidak pernah datang lagi ke rumah. Padahal saya mau berdamai, dan telah menyiapkan lauk makan siang saya untuk kucing tersebut sebagai penebus rasa bersalah saya.

Populasi kucing kampung seakan tidak terkeñdali. Begitu mudahnya berkembangbiak, sehingga mengisi hampir tiap sudut kota dan perumahan. Mereka bertahan hidup sendirian tanpa pemiliknya. Makan dengan mengais-ngais tong sampah dan kadang mencuri ke dalam rumah. Beberapa juga sering kencing dan BAB di dalam rumah. Itulah mengapa saya membencinya. Jika bertemu saya lebih memilih menjauh atau mendorongnya dengan kaki, karena memang takut dicakar atau digigit.

Semua itu berubah ketika pada tahun 2014, di rumah kami kedatangan seekor kucing yang di dapat dari temennya Lia. Entah campuran dari ras apa, tapi bagus, bulunya panjang warna putih, dengan garis-garis coklat di kaki dan ekornya. Dan untungnya hidungnya gak pesek, karena di keluarga kami gak ada yang pesek 😁

Oleh si Epil, kucing betina itu diberi nama Wimy.

Wimy adalah kucing pasrah dan penakut. Dia takut bila bertemu orang banyak, mendengar suara knalpot yang kencang, bahkan ketemu kucing lain pun takut, karena memang dari kecil tidak pernah keluar rumah.

Saya mulai terbiasa sejak kehadiran dia di rumah, dan mulai berani untuk mengelus-ngelus dan menggendongnya. Entah kenapa kucing ini berbeda, dia tidak bau seperti kucing-kucing pada umumnya, bahkan dia tidak bau pesing, karena dia sudah tau di mana harus pipis dan e’ek. Meskipun begitu, pernah sih beberapa kalo dia e’ek di atas sofa, sehingga mama marah-marah.

Seperti biasa, saat dimarahin mukanya berubah jadi memelas dan minta dikasihani. Terlebih lagi kalau ada orang yang bawa makanan atau buka kantong kresek, pasti dia bakal nyamperin dan duduk di depan sambil ngeliatin, berharap dikasih makanan.

Setelah lama tinggal di rumah kami, Wimy sudah mulai berani keluar rumah, naik ke lantai 2, dan nongkong di atap rumah tetangga hingga sore hari. Salah satu aktivitasnya yang paling berjasa bagi kami adalah menangkap tikus yang berkeliaran di rumah. Dia paling senang itu, dan biasanya setelah berhasil menangkap tikus, dia memamerkan hasil buruannya ke orang-orang di rumah. Langsung saja Lia dan Epil teriak-teriak karena dibuat jijik olehnya.

Wimy emang kucing yang manja. Dia gak mau makan kalau makanannya gak dituangin ke mangkoknya, meskipun di mangkoknya itu udah penuh, dia nunggu dituangin layaknya anak kecil yang belum bisa makan. Kehadirannya membuat saya terhibur tiap kali pulang ke rumah. Dia kadang menunggu di depan pintu ketika ada orang yang membuka pagar, seolah-olah akan menyambutnya. Mama dan papa pun juga suka mengelus-elus dan menggendongnya, yahh…mungkin mereka sangat mendambakan kehadiran cucu, tapi apa daya, saya belum nikah 😦

Pernah suatu ketika saat booming game Pokemon Go, saya iseng mengedit foto Wimy menjadi kuning seperti Pikachu. Saat di-upload di instagram ternyata banyak yang merespon, ada yang sekedar guyon, bahkan ada yang marah-marah, membully seolah-olah saya mengecat bulu-bulu kucing tersebut. Uniknya, setelah di-bully, Wimy jatuh sakit, entah apa hubungannya, malah seperti di film-film.

Selain manja dan pasrah, Wimy adalah kucing yang kuper, beberapa kali dikawinin gak hamil-hamil, baik sama kucing ras yang bagus maupun sama kucing kampung yang sering lewat depan rumah. Tapi pada suatu ketika dia kencing darah, sepertinya gara-gara kawin sama kucing kampung. Awalnya mau disterilisasi, namun setelah diperiksa, Wimy ternyata hamil, tapi sayangnya di janinnya itu ada nanahnya, jadi harus segera dikeluarkan dengan cara operasi.  Setelah kira-kira seminggu recovery pasca operasi, Wimy tidak mau makan dan kesehatannya memburuk. Kemudian dibawalah ke dokter lain yang jaraknya lebih dekat dari rumah, ternyata dia dehidrasi parah, lalu dokter langsung memberi tindakan infus dan sempat membaik.

Keesokan harinya, jahitan di dalam perut bocor dan mengeluarkan banyak nanah. Akhirnya dokter menyarankan untuk dibawa pulang karena tidak sanggup menanganinya, mungkin salah penanganan sebelumnya. Dokternya pun turut menyayangkan karena saat dibawa kondisinya sudah seperti ini, tapi Wimy masih memiliki semangat untuk hidup dengan merespon panggilan Epil. Saat sampai di rumah, Wimy sempat berdiri, meskipun sempoyongan ke tempat dia biasa tidur. Setelah itu dia pindah ke kamar dengan napas terengah-engah dan kejang.

Akhirnya, Wimy mati tepat di pelukan Epil. Seketika saja dia langsung menangisi seakan gak percaya apa yang terjadi. Sekeluarga sangat sedih atas kepergian Wimy, dan saya sangat kecewa gak bisa dateng untuk liat dan mengelus Wimy, karena saat itu saya masih di perjalanan dari Jakarta menuju rumah.

Hanya dari foto-foto dan video saja saya bisa melihat Wimy untuk terakhir kalinya. Saya sangat sedih sekali ketika liat Epil menangisi Wimy sedang di kubur di belakang rumah.

“Wimyyy….maafiiiin”

Itulah kalimat terakhir sebelum Wimy benar-benar ditutupi oleh tanah selama-lamanya.

Dari situ saya hanya terdiam, hampa, flashback hari-hari bersama Wimy, dan hingga tulisan ini dibuat, saya masih sulit menerima kenyataan ini, karena begitu cepat.

Tidak ada lagi yang meminta jatah makanan, tidak ada lagi yang “ndusel-ndusel” saat saya tidur, tidak ada lagi yang mengantri kamar mandi untuk sekedar minum, tidak ada lagi yang melihat langit-langit untuk mencari cicak, tidak ada lagi yang standby di dapur mencari tikus, tidak ada lagi yang menyambut di depan pintu, tidak ada lagi yang ngeliatin papa lagi sholat, tidak ada lagi yang bisa dibuat keset, tidak ada lagi yang bisa digendong dan didandani untuk difoto.

Kami semua merindukan Wimy, lebih dari seekor kucing, karena kami sudah menganggapnya menjadi bagian dari keluarga. Jika bisa, mungkin nama dia tercatat ada di Kartu Keluarga.

Kehadiran Wimy telah mengajarkan saya untuk menyayangi hewan peliharaan seperti pesan Nabi untuk menyayangi kucing peliharaan layaknya menyayangi keluarga sendiri.

Dari kejadian ini, kami sekeluarga sama sekali tidak ada niat untuk memelihara kucing lagi, karena sosok Wimy yang tidak tergantikan. Meskipun terkesan konyol, saya pun berharap ada kucing hitam yang melangkahi kuburannya supaya Wimy hidup lagi.

Sekali lagi…

Wimy….maafkan kami 😦

Advertisements

Wish You Were Here…

On the mountain we camp together
talked all the things That brings memories of lives
How to survive and how to take care each other
as a good way and the better way try to deal our life

– Kuro ! –

 
Teringat keluh kesah salah seorang temanku saat di ketinggian 1830 mdpl, ia sedang dilema dihadapkan dengan 2 pilihan antara istri atau gunung…dan sudah bisa ditebak jawaban yang keluar dari lubuk hatinya adalah…GUNUNG ! Tapi dikarenakan saat pernikahan sudah melakukan “janji” dengan Tuhan, maka dengan berat hati ia melepaskan hobinya tersebut yang sudah mendarah daging dan lebih memilih pulang ke rumah dan menemani istrinya di malam yang syahdu, karena dengan memilih istrinya tersebut otomatis juga mendapatkan “gunung” yang lain :p

*Beruntunglah wahai para penggiat alam bebas yang juga memiliki pasangan dengan hobi yang sama 🙂 Buatlah seluruh alam raya ini seolah-olah hanya menjadi milik berdua. Kalau belum punya, berusaha dan carilah pasanganmu di atas gunung, niscaya Tuhan akan memberikannya untukmu, dan mungkin saja dengan dibekali dengan kemampuan fotografis.

Kita begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam c………. ^_^!