Mengatasi Kebosanan Saat Transit di Changi Airport

Singapura adalah negara kecil yang bersebelahan dengan Indonesia. Meskipun kecil, negara tersebut merupakan negara yang sangat maju, mulai dari transportasi, tata kota, dan kebersihannya. Singapura memiliki bandara internasional Changi yang sangat besar. Biasanya yang terbang dari Indonesia dan ingin menuju negara-negara lain transit terlebih dahulu di sini, tergantung maskapai penerbangannya.

Para penumpang yang transit di bandara ini tidak akan merasa bosan, karena banyak spot fotogenik dan arena-arena hiburan gratis seperti membuat gambar digital dari foto wajah kita dengan metode pointilisme, membuat dan mengkomposisikan gambar dengan menjiplak dari cetakan yang sudah ada. Tidak hanya anak-anak, tapi orang dewasa pun banyak yang menyukainya, karena meningkatkan daya kreatifitas.


Bagi yang suka berolahraga naik sepeda bisa juga mencoba men-charge ponsel menggunakan tenaga listrik yang dihasilkan dari gowesan sepeda khusus. Selain ramah lingkungan, cara ini juga bisa membuat kita sehat lho, karena kaki harus menggowes supaya baterai ponsel bisa terisi. Jika malas mengisi baterai ponsel menggunakan sepeda, bisa juga duduk-duduk di ruang tunggu yang terdapat banyak colokan listriknya. Jadi, sambil mengisi baterai bisa sambil mengakses internet, karena di bandara ini tersedia wifi gratis yang bisa didapatkan dengan cara men-scan paspor di beberapa komputer yang telah disediakan.


Bila jarak waktu transitmu cukup lama, cobalah mengikuti City Tour keliling kota di Singapura yang telah disediakan dari pihak bandara secara gratis, tapi harus mendaftarkan terlebih dahulu dengan menunjukkan paspor dan boarding pass mu yang memiliki jarak waktu setidaknya 6 jam. Untuk akses informasi di bandara ini sangat mudah sekali, karena dibeberapa titik disediakan komputer interaktif yang menjelaskan berbagai akses untuk menuju pintu keberangkatan. Oh iya, bila terasa lelah mengelilingi dan mengikuti berbagai macam permainan di bandara Changi, kamu bisa minum air putih gratis langsung dari kran air yang siap minum. Jadi, tidak bakal bosan deh menunggu jadwal untuk penerbangan berikutnya.

#EIBandung17 #AirportID

Advertisements

Akibat Terlalu Serius Menanggapi Foto Parodi Gunung di Sosial Media

Pengguna sosial media saat ini memang kejam, karena bisa seenaknya membully, menghujat melalui kolom komentar tanpa mencari tahu kebenarannya. Hal itu belakangan terjadi pada seorang instagramer dengan akun @meliapancarani. Fotonya yang berada di Puncak Mega, Gunung Puntang, Jawa Barat, tapi sedang memegang plang bertuliskan Puncak Mahameru 3676 mdpl beredar luas di sosial media. Hal itu dipermasalahkan karena di Puncak Mahameru yang sebenarnya tidak ada rumputnya, dan itu diperkuat dengan topi bertuliskan “Dieng” yang dikenakannya. Oleh kebanyakan orang, Melia dianggap bodoh, terlalu ambisius, melakukan penipuan, bahkan dianggap mencari sensasi belaka.

11202999_936391456421213_1563592191_nTapi hal itu tidak terjadi pada saya, karena saat melihat pertama kali foto tersebut saya spontan langsung berkata,

“Anjritt, ini foto gokil banget idenya. Sumpahh kereen”.

Jujur, saya memang terkesan dengan idenya tersebut. Saya yakin bahwa apa yang dilakukan Melia Pancarani hanya untuk guyonan semata dengan mengekspresikannya melalui “karya” foto yang berbanding terbalik dengan kenyataan. Jadi, seolah-olah dia ingin melawan arus yang ada melalui foto satire-nya.

Satire adalah gaya bahasa untuk menyatakan sindiran terhadap suatu keadaan atau seseorang. Satire biasanya disampaikan dalam bentuk ironi, sarkasme, atau parodi. Parodi digunakan oleh Melia untuk memelesetkannya dalam bentuk visual yang sederhana namun menarik.

Sebenarnya saya juga memiliki ide yang sama dengan Melia, yaitu memindahkan “identitas” gunung ke gunung yang lainnya, karena masih ada orang yang beranggapan bahwa belumlah mencapai puncak jika belum foto dengan plang/triangulasi.

UPN2Tidak cuma postingan dari orang personal saja yang mempermasalahkan foto tersebut. Tapi juga dari website Mapala UPN Jogja (http://www.mapalaupn.com/2015/12/heboh-foto-cewek-di-puncak-mahameru.html) yang membahasnya hingga 3 postingan. Lucunya, mereka meminta bantuan “pakar” Photoshop untuk menganalisa foto tersebut, daaaann…hasilnya…menurut mereka foto tersebut adalah hasil rekayasa intelektual. Waaww !!!

UPNSaya memang bukan ahli Photoshop, bukan pula pakar telematika, apalagi metafisika. Hanya penikmat seni fotografi. Menurut saya yang awam ini, foto tersebut asli, meskipun baru dilihat sekilas juga nampak asli, bukan digital imaging.

Saat foto Melia di-repost oleh @mountainparody dan @id_pendaki banyak timbul komentar negatif dari instagramer. Dari situ saya cukup gerah dan greegett untuk membahas masalah ini. Karena saya juga pernah jadi “korban”, padahal di situ jelas-jelas tertulis PARODI, namun orang-orang malas membaca dan mencernanya, lalu jadilah komentar negatif bersahutan.

Setelah itu saya mencoba menghubungi @meliapancarani melalui DM di instagramnya untuk melakukan kroscek dengan meminta foto-foto asli yang di permasalahkan itu. Setelah saya analisa foto yang Hi-res tidak ada kejanggalan manipulasi, semua tampak normal. Bahkan Melia juga mengirimkan foto temannya yang juga memegang plang Mahameru tersebut dan juga ingin membuktikan bahwa ia pernah ke Mahameru di foto yang lain. Meskipun jika ternyata ada manipulasi foto, buat saya tidak jadi masalah, karena itu konsepnya dia, salah satu bentuk ekspresi humor lewat foto.

Foto temen

IMG_5590Saat ini banyak sekali pengguna sosial media yang gemar melakukan aktifitas petualangan alam bebas. Tapi banyak juga dari mereka yang malas membaca dan berpikir melalui sisi yang berbeda. Selalu melihat dan menilainya secara negatif dan mudah menyebarkan berita tanpa diketahui kebenarannya.

Saya sungguh miris terhadap orang-orang demikian. Karena percuma sering bertualang naik gunung, traveling ke mana-mana, tapi pemikirannya masih sempit dan kaku kayak kanebo kering. Smartphone itu diciptakan untuk membuat penggunanya menjadi lebih pintar, bukan sebaliknya. Janganlah mudah terprovokasi, dan jangan hujat orang yang tidak bersalah. Menikmati hidup dan bersosialisasi itu jangan selalu serius. Jika dirimu mudah emosi dan selalu berpikir/berkomentar negatif terhadap foto parodi, berarti anda….Kurang Piknik !
Karena yang tersurat belum tentu tersirat secara visual.

 

Semoga berkenan 🙂

 

 

Tips Asik Nonton Film Everest

Eperest

Saat ini dunia petualangan sedang dihebohkan dengan film yang fenomenal, yaitu film Everest. Film ini bukan film sembarangan, karena dibuat berdasarkan kisah nyata saat tragedi Everest 1996. Nah, untuk menontonnya supaya asyique simak tips berikut :

1. Sebelum nonton, carilah informasinya. Dan pastikan yg kamu tonton itu film Everest, bukan film Ganteng-Ganteng Sariawan.

2. Pesanlah tiket sebelum loketnya dibuka, supaya dapet posisi tempat duduk yang enak. Kalo perlu ngecamp dulu di depan loket :p

3. Ajaklah pacarmu, mantanmu, atau teman-teman nonton bareng supaya seru dan ada yang nanggepin kalo kamu komentarin filmnya.

4. Kalo kamu jomblo dan gak punya temen, dateng aja sendiri. Tapi pesen tempat duduknya yang deket tangga, dan masuk/keluarnya saat masih gelap, soalnya saat gelap penonton yang lain gak bakal perhatiin kamu kalo kamu jomblo dan nonton sendirian.

5. Pakailah pakaian yang biasa kamu pakai saat naik gunung, biar berasa jadi bagian dari film itu, selain itu biar keliatan keren, tapi jangan berlebihan juga.

6. Pakailah jaket tebal untuk menyisipkan makanan/minuman yang kamu bawa dari rumah. Buat ngirit, jadi gak perlu beli lagi di bioskop yang mahal banget :p

7. Meskipun di bioskop gelap, kamu gak perlu bawa senter/headlamp, nanti dikira anak gunung.

8. Kalo udah tau jalan cerita filmnya, kamu gak perlu ceritain saat nonton di bioskop, kan jadi rugi cuma denger cerita doank.

9. Setelah nonton Film Everest, jangan coba-coba meniru dengan mendaki gunung tersebut tanpa latihan dan persiapan yang matang.

10. Tontonlah film saat masih di bioskop, karena sensasinya luar biasa. Dan hargailah karya orang lain dengan tidak membeli bajakannya.