img-20160717-wa0009-01

Traveling Berkedok “Kondangan”

Saat Baly mengirimkan undangan pernikahan, saya pikir-pikir dulu, kemungkinan besar saya tidak bisa datang karena lokasinya berada di Semarang. Sedangkan jarak Jakarta – Semarang itu sangat jauh. Setelah diiming-imingi Iqbal kalo dia mau ke Brown Canyon, akhirnya tanpa pikir-pikir lagi saya langsung meng”iya”kan untuk datang ke nikahan Baly.
img-20160629-wa0002
Sudah lama saya tidak mengunjungi Semarang, terakhir ke sana tahun 2008, karena waktu itu masih pacaran dengan orang Semarang. Mungkin dia sekarang sudah beranak-pinak, dan sekarang saya masih begini-begini aja 😦

Setelah sampai di stasiun Semarang, kami coba cari penginapan yang terdekat. Awalnya saya pikir Iqbal sudah memesan tempat atau setidaknya sudah tahu lokasi penginapan yang dituju. Setelah lama berpikir, akhirnya seorang pengemudi becak motor menawarkan kami untuk mengantar ke penginapan yang terdekat dengan stasiun dan berada di Kawasan Kota Lama agar memudahkan untuk eksplorasi nantinya.
Sebenernya gw males foto begini
Jarak dari stasiun ke penginapan sekitar 20 menit, lokasinya memang berada di kawasan Kota Lama, tapi penginapannya berada di tengah-tengah pasar Johar, sehingga sangat ramai sekali jika pagi-pagi.
img_20160716_112527-01

Bagi saya penginapan ini cukup mahal untuk kelas dan fasilitas seperti ini. Tarif per kamarnya Rp 150.000 untuk yang biasa, sedangkan yang AC Rp 250.000, tanpa adanya wifi dan sarapan hanya roti kecil. Tapi tak apalah, karena hari pertama tujuannya ke Kota Lama akhirnya kami putuskan untuk menginap di sini.
ren_4593

Di Semarang rombongan kami berjumlah 10 orang, diantaranya ada beberapa remaja yang merupakan kerabat dari Baly yang dititipkan ke kami. Awalnya kami ingin menyewa motor, tapi karena jumlah kami banyak dan agak sulit mencari penyewaan motor maka kami memutuskan untuk naik angkot untuk berkeliling Semarang.

Saat di angkot, Iqbal mencoba bertanya-tanya dengan supirnya tentang kendaraan yang bisa kami sewa selama di Semarang. Karena kami berjumlah 10 orang, akhirnya Iqbal berinisiatif untuk menyewa angkot tersebut untuk berkeliling Semarang esok harinya. Dengan tarif Rp 250.000 kami akhirnya menyewa angkot tersebut selama seharian, berikut dengan supir dan termasuk bensinnya.
cemez
Ada hal yang lucu saat Iqbal sms-an dengan supirnya. Ternyata sang supir masih menggunakan bahasa 4LaY 😀 Baru saja membaca isi smsnya kami dibuat ngakak karena tulisan dan bahasanya itu agak sulit dimengerti. Kami menyebutnya mas Cemezz.

Supir yang gigi depannya patah dan berambut sebahu berwarna agak kecoklatan ini ternyata sudah berkeluarga dan memiliki anak. Menurut pengakuannya, dia baru berumur 20 tahun, dan saya yang sudah hampir 30 masih begini-begini aja. Haduhh…hebat sekali kau mas Cemezz, lebih laku daripada saya.

Sampai di Masjid Agung Jawa Tengah, kami langsung menuju Convention Hall tempat berlangsungnya resepsi pernikahan Baly. Ini adalah kali kedua saya mengunjungi masjid terbesar di Jawa Tengah yang sangat ikonik itu.

Tak lupa saya membawa tas daypack Magneto ke dalam ruangan. Agak aneh memang, kondangan di gedung tapi membawa daypack sebesar ini. Tapi ya mau bagaimana lagi, karena di dalamnya berisi barang-barang penting yang menyangkut masa depan, seperti perlengkapan kamera, jadi tidak mungkin saya tinggalkan di angkot maupun di penginapan.
img-20160717-wa0000
img-20160717-wa0007-01

Pernikahan Baly diselenggarakan menggunakan adat Jawa, karena pasangannya juga berasal dari Jawa. Ornamen dan interior khas Jawa yang dipadukan dengan modern menghiasi gedung yang megah itu. Sesekali saya membayangkan bagaimana saya nikah nanti, bagaimana konsepnya, dan yang penting dengan siapa (yang mau) itulah masalahnya. Karena Baly sendiri dipertemukan dengan pasangannya saat traveling. Jadi, jodoh itu bukan gak ke mana, tapi harus ke mana dan dicari 😀

Saya udah ke mana-mana tapi kok belum…..aahhhh….syudahlahh 😦
img_20160717_112611-01_1469262953631
Setelah kenyang menyantap hidangan yang enak-enak, siang itu kami lanjutkan ke destinasi lain. Karena siapa tau…dapet jodoh yang konon (jangan dibalik) gak ke mana-mana. Pokoknya saya gak boleh kalah sama mas Cemezz yang udah nikah dan punya anak.

img_20170101_160209-01

Perjalanan Pertama di Awal 2017 ke Tanjung Tuha

Bingung rasanya kalau tahun baru di rumah saja. Biasanya menjelang tahun baru selalu ada saja yang ngajak jalan entah ke mana. Tapi di tahun baru ini beda, karena temen-temen sudah banyak yang nikah dan mungkin mereka lebih fokus sama keluarga barunya itu. Dan sampai sekarang saya pun belum….Ahh sudahlah….

Seperti biasa, saya pun harus pergi meskipun seorang diri (lagi), karena itu salah satu jalan yang terbaik, bukan untuk melarikan diri dari kenyataan, tapi justru mencari dan mendapatkan sesuatu…sesuatu yang belum tahu dan belum saya dapatkan dan saya yakin itu akan berguna untuk saya di masa yang akan datang.

Tak sengaja saya lihat postingan Yasin di instagram, lalu dia merekomendasikan saya untuk ke Tanjung Tuha yang letaknya tidak jauh dari Pelabuhan Bakauheni Lampung. Awalnya saya berniat untuk pergi sendiri, tapi seketika terbesit untuk mengajak Sarah jalan-jalan, karena kasian, sepanjang hari dia selalu berada di rumah terus dan jarang keluar karena sibuk berkutat di depan komputer dan berinteraksi dengan teman-teman dunia maya di belahan negara lainnya. Mengetahui hal itu, si Epil pun mau ikut, dan dia juga turut mengajak Nida.
img_20170101_130205 img_20170101_125549
Dari rumah di Cilegon menuju Lampung jaraknya tidak terlalu jauh, cukup 30 menit ke Pelabuhan Merak dan menyeberang ke Lampung sekitar 2 jam perjalanan. Sayangnya kami saat itu tidak naik kapal “favorit” Port Link III, tapi kapal Suki yang ukurannya lebih kecil dan interior yang biasa saja. Jika beristirahat di dalam yang ruangannya ber-AC akan dikenakan biaya tambahan sebesar Rp 10.000 per orang, berbeda sekali dengan kapal Port Link III yang mewah justru memberikan gratis.

Sampai di Bakauheni kami menuju jalan arah Bandar Lampung, tidak jauh dari pelabuhan terdapat Pom Bensin di sebelah kiri, lalu belok menuju jalan yang baru di bangun itu. Saat bertemu perempatan di kampung berbeloklah ke kanan lalu ikuti saja jalan itu dan berbeloklah sesuai petunjuk yang ada. Untuk menuju Tanjung Tuha ditempuh sekitar 30 menit dari pelabuhan. Saya tidak menyarankan untuk menggunakan mobil, karena masih akan melewati jalan yang sempit, bahkan motor yang berpapasan dengan arah yang berlawanan pun kadang bergantian, belum lagi tanjakan yang terjal dan cukup licin, jadi harus berhati-hati di sini.
img_20170101_164653
Tanjung Tuha atau juga bisa disebut Tanjung Tua awalnya hanya digunakan untuk memancing warga sekitar saja, namun saat ini sudah berkembang menjadi tempat wisata yang dikelola warga sekitar. Untuk masuknya dikenakan biaya Rp 5.000 per orang. Dari parkiran kami langsung menuju arah barat yang terdapat batuan di pantai. Untuk dapat melewati batuan ini agak sedikit memanjat. Tidak sulit, tapi tetap harus berhati-hati. Memang di luar ekspektasi saya sebelumnya mengenai medan yang akan di tempuh. Untungnya Sarah pernah mengenyam pendidikan pecinta alam, meskipun sudah tidak menggeluti dunia alam bebas lagi, jadi kemampuannya dimulai dari 0 lagi, persis seperti mengisi BBM di SPBU.
img_20170101_163510-01
img_20170101_153234-01
Setelah eksplorasi, saya memutuskan untuk naik ke atas bukit yang berada di ujung. Di sini spotnya bagus sekali, bisa untuk memasang hammock dan menggelar matras. Ada pohon yang menjuntai ke arah laut dan tepat di bawahnya terdapat batu yang langsung ke jurang. Di tempat inilah spot biasa digunakan untuk memancing. Jika ingin turun ke bawah harus melewati pohon terlebih dahulu, namun harus berhati-hati karena jika terjatuh akan langsung tercemplung ke lautan.
img_20170101_163735
Selain memancing dan bersantai ria, di Tanjung Tuha juga bisa melakukan aktivitas Cliff Jumping atau lompat dari atas tebing ke lautan, namun ini diperlukan keberanian dan kemampuan berenang yang cukup baik. Sebenernya saya juga mau mencoba Cliff Jumping, namun berhubung saat itu tidak membawa baju ganti, saya mengurungkan niat itu (alasan).
img_20170101_165658
Perjalanan dilanjutkan menuju tower mercusuar di atas bukit, untuk naik ke tower dikenakan biaya lagi sebesar Rp 3.000 per orang. Di tengah perjalanan saya melihat susunan bebatuan puitis. Di batu-batu itu terdapat tulisan orang-orang tentang curhatan, puisi, dan juga gombalan, intinya tentang cinta. Bahkan ada juga yang menulis biodata layaknya batu nisan. Lucu sekali saya melihatnya dan merasa terhibur. Tapi sayangnya ya batunya jadi kotor, dan terkesan vandalisme di alam bebas.
img_20170101_174411
Saat sampai di bawah tower kita harus bergantian naik ke atas, karena maksimal dapat menampung 10 orang. Tower ini adalah mercusuar milik Departemen Perhubungan dan digunakan untuk membantu navigasi kapal-kapal. Setelah diamati, ternyata tower ini merupakan area terbatas, khusus orang-orang tertentu yang memiliki ijin yang boleh naik ke atas. Namun, justru oleh para warga sekitar dimanfaatkan untuk kepentingan wisata. Perlu kehati-hatian untuk menaiki tower ini, karena kondisinya cukup memprihatinkan. Beberapa baut di kakinya sudah terlepas, dan ada beberapa besi yang rusak. Belum lagi guncangan yang dapat menambah sensasi bahaya di sini.
img_20170101_173144

img_20170101_180221
Jam sudah menunjukkan pukul 17.30, angin berhembus semakin kencang di puncak tower. Matahari sudah mulai menunjukkan warna keemasannya di lautan. Dari ujung sana pun cukup terlihat Anak Gunung Krakatau, Pulau Rakata, Sertung, dan Sabesi. Waktunya untuk turun dan kembali pulang ke rumah.

ren_5692re

Pengalaman Pertama ke Bromo

JT       : “Mas, di Bromo itu dingin banget gak sih ?”
JRW  :  “Ya dinginlah, namanya juga gunung”.
JT      : “Oh, ya wis, nanti kalo gitu aku tak nggowo kemul”.
JRW  : (((KEMUL)))
              Karepmu dekk :p

Banyak sekali temen-temen saya yang mempertanyakan kenapa saya belum pernah ke Bromo. Mereka semua pada heran karena saya sering naik gunung tapi belum pernah ke Bromo yang terkenal sampai mancanegara itu. Begitu juga temen-temen bule sewaktu kuliah dulu. Padahal mereka baru sebentar di Indonesia udah pernah ke Bromo dan bertualang keliling Pulau Jawa hingga ke Nusa Tenggara, sementara saya masih di sini-sini aja.

Sudah lama rasanya saya memendam hasrat untuk pergi ke Bromo, mengelilingi kalderanya yang luas itu, bercengkrama dengan penduduk Tengger dan sebagainya. Saya memang sudah ke Semeru, tapi kurang lengkap rasanya jika belum pernah ke Bromo, padahal mereka itu kan satu kawasan Taman Nasional.

Semua keinginan itu akhirnya terwujud setelah saya dan Jetrani berencana pergi ke sana. Kala itu kami sedang di motor saat perjalanan pulang dari Gathering Cozmeed di Dieng. Akhirnya saya dapet temen senasib yang belum pernah ke Bromo.

p_20161210_174613

Hari yang dinanti pun tiba. Kamis malam setelah pulang dari kantor saya langsung berangkat menuju Stasiun Senen untuk melaju ke Jogja. Rencana awalnya kami akan langsung berangkat saat Jumat pagi, tapi ternyata Jetrani salah menanggapi tanggal keberangkatan. Jumat itu dia masih kerja, sehingga baru bisa berangkat keesokan harinya. Walhasil rencana untuk eksplorasi Probolinggo dan mengunjungi Padepokan Dimas Kanjeng Taat Mendaki pun sirna sudah. Ya sudahlah, tidak apa-apa, yang penting bisa ke tujuan utamanya yaitu Bromo.

Pukul 07.15 kereta Sri Tanjung yang penuh kenangan itu akhirnya datang juga di stasiun Lempuyangan. Yapp…dulu di kereta inilah saya dan temen-temen menjelajah Banyuwangi dan sekitarnya, ada banyak cerita seru dan beberapa tragedi di kereta ini, tapi tidak mungkin saya ceritakan di sini soalnya kepanjangan.

p_20161210_173352

Kami sampai di Stasiun Probolinggo pukul 16.33. Dari situ awalnya sempat ditawari untuk naik mobil travel, karena harganya mahal maka kami tetap pada rencana sebelumnya yaitu naik mini bus atau orang di sini menyebutnya bison. Saat di angkot, kami tidak sengaja ketemu sepasang pria dan wanita, sebut saja Dani dan Fitri, mereka dari Jogja juga, kebetulan sekali karena kita bisa patungan untuk sewa jeepnya.

p_20161210_194523
Sebelum berangkat, kami sempatkan makan malam dulu. Saya memesan Soto ayam, sementara Jet memesan Pecel Lele. Saat makanannya datang, ternyata di luar ekspektasi, yaitu lele yang disajikan benar-benar sesuai harfiah nya, yaitu “pecel lele”, nasi pecel dengan sayuran dan bumbu kacang ditambah ikan lele. Hal itu berbeda sekali dengan pecel lele di kebanyakan tempat yang menyajikan nasi, ikan lele, sambal dan lalapan. Lalu kami berdua terbengong-bengong keheranan seakan tidak percaya yang terjadi. Setelah itu Jet tampak kebingungan untuk makannya, karena dia kurang suka dengan bumbu kacang, tapi karena perutnya sudah bergejolak, mau tidak mau lele tersebut harus masuk ke perutnya.

Hari pun semakin malam. Awalnya kami pikir bisa langsung jalan, tapi ternyata supirnya menunggu mobilnya penuh supaya tidak rugi. Setelah menunggu lama sampai pukul 21.00, mobilnya tidak kunjung penuh, hanya ada 2 orang lagi yang datang, mereka adalah Opik dan Sayiful, dua pemuda dari Depok. Setelah bernegosiasi harga, akhirnya sang supir yang bernama Maksum memberangkatkan kami semua menuju Cemoro Lawang.

Jarak dari Probolinggo ke Cemoro Lawang sekitar 1,5 jam. Ketika turun dari mobil saya heran, karena tidak merasakan dingin seperti biasanya di gunung. Mungkin karena pengaruh musim hujan, jadi malam itu saya hanya mengenakan kaos saja.

p_20161210_224649
Jam menunjukkan pukul 23.00 WIB, jadi masih ada sekitar 4 jam lagi untuk berangkat ke Pananjakan 1. Kami memang tidak memesan penginapan, karena rencananya mau cari tempat nongkrong seperti warung untuk sekedar istirahat sambil menunggu jemputan Jeep. Saat sampai di depan penginapan, kok rasanya tidak enak yahh, kalau cuma numpang duduk-duduk di terasnya. Akhirnya sang pemilik Home Stay mempersilahkan kami untuk melihat kamar yang kosong. Saat itu mereka mematok harga Rp 250.000 per kamar, karena saat itu peak season. Untungnya Pak Maksum membantu menawar harganya karena kami hanya istirahat beberapa jam saja. Ya sudahlah, akhirnya pemiliknya menyetujui dengan harga Rp 200.000 untuk 4 orang, karena Dani dan Fitri menginap di tempat lain.

Pukul 03.00 tepat kami semua sudah bangun dan siap untuk melanjutkan perjalanan melihat sunrise di Pananjakan 1. Tapi sayangnya sopir Jeepnya telat, dan baru datang sekitar pukul 04.00. Saat musim liburan seperti ini memang harus lebih pagi agar tidak terjebak macet di jalan.
p_20161211_045322_pn
Langitpun mulai membiru, menandakan fajar segera datang. Tapi saat itu kami masih berada di dalam Jeep dan terjebak macet saat menuju Pananjakan 1. Di area ini memang tidak ada tempat parkirnya, sehingga mobil-mobil Jeep terpaksa parkir di pinggir jalan dan sangat menyulitkan untuk menembus ke atas. Dengan sangat terpaksa kami turun mobil lalu naik menuju sebuah bukit yang letaknya tidak jauh dipinggir jalan. Di lokasi ini sudah terdapat banyak orang yang ingin memotret. Tapi sayang, saat itu cuacanya sedang berkabut, sehingga matahari tidak mengeluarkan cahayanya dengan sempurna, belum lagi Kawah Bromo dan puncak Gunung Batok yang sama sekali tidak terlihat.

Hanya 10 menit kami berada di sini lalu turun lagi menuju Jeep. Kami sudah membayar mahal dan ngotot ingin ke Pananjakan 1, tapi kondisi tidak memungkinkan karena macet dan waktu sudah semakin siang. Sang Sopir Jeep yang datang terlambat tidak ingin disalahkan. Semua ini terjadi karena miskomunikasi antara Pak Maksum dan penyedia angkutan di sana. Jetrani yang awalnya semangat jadi sangat marah kepada sopir Jeepnya karena meminta uang tambahan jika tetap naik ke Pananjakan 1. Saya pun sangat kecewa dengan hal ini, karena sudah lama ingin memotret Bromo dari spot sejuta umat tapi sirna begitu saja. Setelah berdebat cukup sengit akhirnya saya coba meredakan suasana. Sulit diterima memang, tapi ya mau bagaimana lagi. Kami tidak mendapatkan apa-apa di sini, jauh dari ekpektasi yang dibayangkan karena keterbatasan waktu.

Dari bukit tersebut kami kembali lagi dan menuju ke lautan pasir di bawah. Sujud syukur saya lakukan ketika menginjakkan kaki di sini, di tempat yang menurut saya romantis. Semua hal yang menyebalkan tadi sirna begitu saja, meskipun masih menyisakan sedikit kekecewaan. Tidak mendapatkan foto yang sudah terkonsep dengan baik memang membuat saya kecewa, tapi sebenernya bukan itu tujuan utama saya ke sini, melainkan ada misi lain meskipun itu juga gagal 😦
ren_5525
Di hadapan saya berdirilah Gunung Batok yang ikonik itu. Cerita legenda tentang kisah Roro Anteng dan Joko Seger selalu menyelimuti dan otomatis tervisualisasikan di dalam pikiranku. Ingin rasanya mendaki hingga ke puncaknya, namun apa daya, waktu terbatas yang diberikan sang supir Jeep menghalangi niat kami. Maka dari itu perjalanan dilanjutkan menuju Kawah Bromo.

ren_5558 ren_5566

Dari parkiran telah banyak penyedia jasa kuda hingga ke tangga kawah. Tarifnya sekitar Rp 30.000 pp. Dengan jarak yang tidak jauh maka kami memutuskan untuk jalan kaki. Saat sampai di tangga ternyata sudah banyak orang yang antri hingga ke atas sehingga jadi macet. Saya dan Jetrani mengambil jalur “tol” di luar tangga karena agar segera sampai puncak kawah. Perlu kehati-hatian bila melewati jalur ini karena medannya berupa pasir dan sangat terjal sekali, mirip di puncak Mahameru.

DCIM100GOPROGOPR2619.

Tidak salah memang saya jalan-jalan dengan wanita satu ini, selain rame, fisiknya juga kuat sekali, bahkan saya sampai kewalahan menyesuaikan ritme jalan ketika menanjak. Saat sampai di puncak, Jet langsung diam beribu bahasa, tidak biasanya dia seperti itu. Ternyata dia sedang mual dan sedikit pusing, pasti ini karena tenaganya terlalu diforsir dan ritmenya terlalu cepat ketika menanjak. Setelah beberapa saat, akhirnya dia pulih kembali, alhamdulilah.
ren_5600DCIM100GOPROGOPR2607.Pagi itu Kawah Bromo selalu mengeluarkan asap putihnya yang pekat. Cuaca sedang mendung disertai gerimis yang membawa abu material dari lubang kawah, mirip sekali seperti saat erupsi Merapi dan Kelud, namun intensitasnya sangat kecil. Baju, tas, dan jaket pun jadi kotor terkena abu Bromo, belum lagi mata perih dan bau belerang yang sangat pekat, hal itulah yang membuat kami harus segera turun lalu melanjutkan ke spot lain yaitu Sabana bukit Teletubbies.
ren_5622
Di sabana ini pemandangannya bagus sekali, banyak spot yang bisa dieksplor untuk pemotretan. Namun sayangnya, belum sempat puas eksplorasi hujan deras mendadak turun di area ini dan memaksa kami kembali ke dalam Jeep, padahal rencana selanjutnya harusnya kita menuju ke pasir berisik berbisik, namun cuaca tidak mendukung akhirnya terpaksa kita kembali ke penginapan.
ren_5676

DCIM100GOPROGOPR2584.

Dari segala permasalahan inilah saya dan Jet berjanji akan “balas dendam” untuk mengunjungi Bromo lagi di lain waktu, yang pastinya waktu yang tepat untuk berlibur itu adalah hari-hari biasa, bukan hari libur panjang dan bukan musim hujan. Selain itu, menggunakan sepeda motor tampaknya lebih baik daripada menggunakan Jeep, karena bisa puas bereksplorasi tanpa dibatasi waktu.

Saat sampai kembali di Cemoro Lawang kesialan saya belum hilang. Saya tidak dapet tempat duduk di mobil angkutan ke Probolinggo, walhasil selama hampir 2 jam saya harus duduk lesehan tanpa alas dan kaki terhimpit di pintu. Sontak saja orang-orang di dalam mobil yang sebagian wisatawan asing pada ngetawain semua.

Haduhhh…apes banget, udah jomblo duduk di bawah lagi T_T

 

Estimasi Biaya

Kereta Sri Tanjung Jogja – Probolinggo :Rp 74.000
Angkot Stasiun – Terminal : Rp 15.000
Bison Rp 75.000
Jeep kapasitas 6 orang : Rp 800.000 (4 destinasi).
Tiket Taman Nasional : Rp 32.000
Home Stay : Rp 200.000 (4 orang)