Mengarungi Liarnya Arus di Citarik Bersama Caldera Indonesia

Siang itu kami berpacu dengan waktu karena terjebak macet parah di Ciawi. Akhirnya sekitar pukul 14.10 kami sampai di Caldera Resort Citarik. Sesampainya di sana, kang Yadi selaku koordinator dari Caldera menyambut kami dan mengingatkan untuk mempercepat agar tidak terlalu sore saat rafting.

Prosedural di sini saat pukul 17.00 semua aktivitas rafting harus selesai, karena jika sudah gelap sangat berbahaya dan menyulitkan untuk navigasi. Beruntung saat itu kami masih ada kesempatan untuk mengarungi sungai sepanjang 9 km.

“Renky, kamu tampak seperti profesional, apa kamu sering rafting ?”  tanya Alban saat melihat penampilanku setelah berganti baju.

“Iya dulu sewaktu masih muda saya cukup sering rafting” canda saya untuk mencairkan suasana.

Ya memang beginilah penampilan saya kalau melakukan aktivitas di air. Menggunakan kaos ketat dry fit lengan panjang dan celananya, namun kali ini saya mengenakan celana panjang. Selain untuk melindungi dari sengatan sinar matahari yang dapat membuat kulit saya jadi hitam, juga untuk menutupi bulu kaki. Disamping itu saya juga memakai celana pendek lagi untuk menutupi sesuatu yang menonjol 😀

Dulu saat masih kuliah di Solo, saya cukup sering ikut latihan rafting di sungai Elo Magelang bersama temen-temen dari Mapala (meskipun saya bukan anggota Mapala). Karena di organisasi Mapala sendiri ada yang namanya divisi ORAD (Olahraga Arus Deras) yang berfokus pada sungai seperti ini.

Pengarungan sungai pun dimulai tanpa pemanasan karena waktu yang sangat terbatas, jadi sebelum gelap kita harus sudah sampai finish.

Di perahu yang saya naiki terdiri dari 6 orang, yaitu saya, Yasin, Ipin, Master, seorang skipper dan rescuer.

Sungai Citarik Sukabumi memang sudah sangat terkenal sebagai lokasi untuk berarung jeram. Dengan memiliki kategori Grade III, sungai ini bisa digunakan untuk pemula, tentunya dengan pemandu dan memperhatikan debit air saat itu.


Teriakan demi teriakan selalu menggema tiap melewati jeram. Inilah salah satu keseruan dalam rafting, bisa puas mengekspresikan diri melewati berbagai rintangan yang ada. Namun kita harus tetap waspada, karena beberapa kali sang skipper mengalihkan perhatian supaya kita lengah, dan saat lengah itulah dia sengaja membuat manuver agar salah satu dari kita tercebur ke sungai.

Dinomo yang sesumbar udah latihan yang 9 km tiba-tiba terjatuh ke sungai, padahal perahu baru melaju kurang dari 1 km. Untungnya dia tidak hanyut  sampai ke Pelabuhan Ratu 😀

Jika tercebur ke sungai janganlah panik, tapi tetap tenang dan posisi badan usahakan lurus mengikuti arus sungai. Posisi juga lurus untuk menahan badan agar tidak terbentur batu.

Beberapa kali perahu yang ditumpangi Alban menyangkut di batu, maka dari itu harus menggoyang-goyangkan atau pindah posisi duduknya. Lucunya, dia bukannya ikut menggoyangkan tapi malah mendayung batu besar yang ada di sebelahnya (mendayung lhoo bukan mendorong :D). Sontak saja, yang ada di perahu saya ketawa liat kelakuannya.

Jarang-jarangnya si boss mau ikutan acara beginian. Bahkan dia rela menyewa mobil, supir, dan bermacet-macetan untuk ke Sukabumi. Alban memang terkenal kaku di kantor, jarang bercanda atau tersenyum. Padahal kita berencana untuk membuat perahunya terbalik, tapi gak bisa-bisa.

Saat mengarungi sungai, hal yang saya takutkan pun akhirnya ada juga, bukan biawak atau buaya, tapi warga sekitar yang buang air besar di sungai. Saya perhatikan dengan seksama sesosok bapak-bapak tanpa mengenakan pakaian sedang jongkok di balik batu. Saat perahu kami lewat, skipper perahu kami dengan sengaja menciprati dengan air sungai, padahal kan itu alirannya bekas…hoeksss.

Haduhh….mana airnya masuk mulut lagi, semoga gak diare 😦


Pada pukul 17.00 kami sampai juga di tempat finish, di tempat inilah kami sudah disambut dengan hidangan kelapa muda nan segar, sangat cocok untuk pelepas dahaga dan mengembalikan stamina yang terkuras karena mendayung sambil teriak-teriak.

Menginap di Saung

Dari tempat finish, kami diantarkan menuju resort dan memindahkan barang-barang ke saung tempat menginap.

Di Caldera Resort ini memiliki banyak fasilitas, seperti penginapan, aula, camping ground, toilet, restoran, mushola, toko souvenir, mini shop, klinik, area paint ball dan juga flying fox.

Suasana yang tenang nan sejuk dapat membuat rileks bagi yang berkunjung ke sini. Perpaduan desain bangunan tradisional dan modern menambah suasana romantis tempat ini. Apalagi saat itu adalah malam minggu. Tapi sayangnya, saya berangkat ke sini dengan rombongan cowok-cowok.

Saung tempat kami menginap berada dekat dengan sungai dan sawah, selain itu ada lapangan kecil yang bisa digunakan untuk bermain sepak bola. Di beberapa saung terdapat lingkaran tempat kayu bakar untuk api unggun, cocok untuk pesta luar ruang.

Bangunan yang kami tempati terbuat dari bambu dan kayu dengan beratapkan jerami, namun bukan beralaskan tanah seperti lagu God Bless. Maka dari itu sangat dilarang merokok dan menyalakan kembang api di area ini.

Saung ini terdapat 2 lantai. Bagian bawah digunakan untuk berkumpul, sedangkan yang atas khusus untuk tidur. Tempat tidurnya pun unik, di kedua ujungnya terbuka sehingga angin semilir bebas masuk melewati lorong ini, namun tidak perlu khawatir karena sudah disediakan selimut dan juga kelambu untuk melindungi dari gigitan serangga.


Malam itu suacana cukup ramai dengan berbagai aktivitas di tiap saungnya. Ada yang membuat api unggun, dan ada juga yang mengundang organ tunggal dangdutan.

Inilah saat yang tepat untuk keluar dari rutinitas kantor yang padat, sejenak merelaksasikan pikiran dan melupakan pekerjaan. Tapi sayangnya, temen-temen cewek di kantor lebih memilih makan-makan mewah dibandingkan melakukan aktivitas luar ruang seperti ini.

Padahal keseruan itu kan kita yang ciptakan bersama, asal mau berusaha dan siap “sengsara” dulu 😀

Tapi gak masalah,
“No woman, no cry”

“No money, no dong”

“No retsleting, no ngol dehh”

Sampai jumpa di outing selanjutnya. Terimakasih buat Sophie Paris yang udah men-support acara ini dan juga Caldera Indonesia atas pelayanan yang menyenangkan.

#EIBandung17 #AirportID