Hammocking di Pulau Tangkil

Tak terasa sudah 2 jam lebih kami menyusuri jalan yang hancur parah menuju kota Bandar Lampung. Selepas dari Way Kambas, kami mengambil jalan tembus dari pertigaan yang sebelumnya kita lewati.  Saya pilih jalan itu karena menurut Google Map aksesnya lebih dekat daripada harus memutar dulu ke utara.

BPRO0431

Hari semakin gelap, jalan hancur tak kunjung usai. Karena sudah terlanjur, kami harus terpaksa ber”off road” menggunakan motor matic ini. Kali ini giliran Iqbal yang menyetir, dan saya selalu waspada mengamati jikalau ada ancaman yang datang. Maklum, sepanjang jalan ini minim sekali penerangan, karena melewati jalan panjang yang kanan kirinya berupa kebun dan semak belukar. Ternyata di jalan ini rawan sekali pembegalan, bahkan untuk mengebut atau teriak minta tolong pun rasanya percuma.

Sejenak kami berhenti di sebuah perkampungan untuk memastikan bahwa jalan yang kami pilih itu bukan jalan yang salah. Jam sudah menunjukkan pukul 21.00 tapi kota yang kita tuju belum juga sampai. Hal ini membuat kami frustasi dan emosi, dan sempat juga berpikiran untuk mencari penginapan atau masjid karena sudah terlalu lelah berkendara. Setelah yakin dengan jarak di peta digital, akhirnya kami paksakan untuk melanjutkan perjalanan. Sekitar 30 menit kemudian kami sampai juga di kota Bandar Lampung.  Target selanjutnya adalah mencari penginapan.

20160710_113050

Setelah searching di aplikasi booking online akhirnya saya pilih Guest House Palapa yang letaknya sekitar 50 meter dari Bundaran Gajah. Awalnya saya mengira penginapannya sudah tutup, karena tidak ada tanda-tanda kehidupan. Setelah saya telusuri ternyata pintu masuk lobinya berada di dalam gang sebelahnya, jadi penginapannya berada di lantai 2. Tempat ini cocok sekali buat backpacker, karena tarifnya murah. Untuk 1 kamar berdua dikenakan tarif Rp 200.000 per malamnya. Fasilitas yang didapatkan berupa kamar bersih, nyaman, ber-AC, ada televisi, wifi, dan sarapan. Tapi sayangnya di dalam kamarnya tidak ada kamar mandinya. Jadi jika ingin mandi, e’ek, atau pipis, harus ke kamar mandi di luar. Tapi jangan khawatir, karena kamar mandinya bagus, bersih, dan bisa buat selfie. Oh iya, buat yang mau indehoy, nonton bokep, ngegosip, dll, di penginapan ini bukanlah tempat yang tepat, karena dinding kamarnya bukan terbuat dari beton, tapi dari kayu/triplek tebal, jadi suara mu bisa terdengar ke kamar sebelah.

Esok paginya pukul 09.00 kami segera check out karena harus melanjutkan perjalanan. Kali ini kami blank sama sekali belum tau mau ke mana. Akhirnya salah seorang penjaga penginapan memerikan referensi, yaitu Panti Mutun yang letaknya sekitar 14 km dari sini. Dari pantai tersebut bisa juga menyeberang ke Pulau Tangkil menggunakan perahu.

BPRO0444

Setelah sampai lokasi, ternyata di sini telah ramai pengunjung, maklum hari terakhir libur lebaran. Menurutku pantainya cukup bagus dan airnya pun bersih. Tidak jauh dari pantai ini terlihat jelas Pulau Tangkil. Karena penasaran akhirnya kami mencoba ke sana dengan menyewa perahu dengan tarif Rp 60.000 untuk berdua. Sampai di pulau ini ternyata harus membayar retribusi lagi Rp 5.000. Awalnya kami bingung mau ke mana dan ngapain, karena di sini ternyata juga ramai. Akhirnya saya menelusuri sebuah jalan setapak dan melewati semak-semak, sampai tibalah di tempat berbatu dan di dekatnya terdapat tiang kayu bekas ayunan sepeti di Gili Trawangan – Lombok.

BPRO0482-01

Tanpa basa-basi saya langsung memasang hammock di tiang tersebut untuk bersantai menikmati suasana, sekaligus mengetes kekuatan hammock yang belum pernah saya pakai, karena menurut penjualnya bisa menahan berat maksimal 300 kg. Saya cukup beruntung mengeksplor hingga sampai sini, karena tempatnya bagus dan juga sepi. Namun sayang, tidak lama kemudian hujan pun turun dan memaksa kami untuk mengevakuasi barang-barang dan mencari tempat berteduh, padahal tadi ada mbak-mbak yang mau ikut santai di hammock, siapa tau dia minta dipangku sambil dibacain cerita. Ya sudahlah…akhirnya hujan pun membuyarkan impian anehku tersebut.

Advertisements

Mencari Gajah Berbelalai Dua di Way Kambas

A : Bona Gajah Kecil Berlalai Panjang.

B : Bukan berlalai, tapi “berbelalai”.

A : Gak mauu…pokoknya Berlalai !”

A : Ya udah, terserahlahh…

Sampai sekarang masih teringat jelas bagaimana waktu kecil saya ngeyel sama papa tiap kali baca cergam Bona si gajah pink di majalah Bobo. Memang, waktu kecil saya agak kesulitan untuk melafalkan “Berbelalai”, sama halnya dengan kata “kelelawar” menjadi “kelawar”. Bagi saya, gajah merupakan hewan yang sangat unik. Banyak sekali pertanyaan yang menghinggapi selama ini, apakah gajah takut tikus ? mengapa gajah tidak bersin ketika menyedot debu ? mengapa gajah yang berat bisa berenang, sementara saya gak bisa-bisa ? mengapa gajah yang duduk dipakai buat cap sarung ? dan masih banyak lagi.

Pagi itu Iqbal sudah menunggu di Pelabuhan Merak. Awalnya saya pengen berangkat sendiri ke Way Kambas, tapi baru ingat kalo sendirian nanti gak ada yang motretin, ya sudah kami berangkat berdua naik motor dengan menyeberang menggunakan kapal Ferry. Di pelabuhan ini tidak terlalu ramai, karena yang mudik sudah pada sampai di kampung halaman masing-masing. Kapal yang kami naiki saat itu hanya kapal biasa, padahal saya berharap bisa menaiki lagi Kapal Portlink III yang mewah itu. Perjalanan dari Merak menuju Bakauheni Lampung ditempuh selama 2 jam. Jika membawa motor dikenakan tarif sebesar Rp 45.000 dan kendaraan roda 4 sekitar Rp 325.000. Cukup mahal juga ternyata.

Screenshot_2016-07-12-14-38-47

Ini adalah kali keempat saya menjejakkan kaki di tanah Sumatera. Jarak yang terjauh hanya cuma sampai menara Siger yang letaknya tidak jauh dari pelabuhan, tapi kali ini saya akan menempuh perjalanan yang sangat jauh. Sebelum melakukan perjalanan ini, saya membekali referensi dulu dari blognya Satya Winnie agar bisa sampai tujuan, namun saya memilih melewati jalur pantai timur, karena menurut orang sekitar jalannya bagus dan tidak macet, daripada harus memutar melewati kota Bandar Lampung.

IMG_20160709_105301

Dari Bakauheni menuju Way Kambas ditempuh hampir 4 jam lamanya. Saat baru melewati jalur ini saya bingung karena merasa seperti berada Bali. Selepas menara Siger, di sepanjang kanan dan kiri jalan banyak terdapat pura dan bangunan-bangunan khas umat Hindu Bali. Ternyata di daerah ini terdapat perkampungan Bali. Dari sini perjalanan masih sangat jauh, dengan melewati Way Jepara dan Rajabasa Lama. Sampai akhirnya kami menemukan plang penunjuk arah Taman Nasional Way Kambas kemudian belok kanan menyusuri jalan yang agak rusak sepanjang 7 km.

IMG_20160709_142257

Pukul 14.22 tibalah kami di pintu gerbang Taman Nasional. Ketika sampai di sini saya kembali bingung, karena sebagian besar orang di sini berbicara menggunakan bahasa Jawa, mulai dari pedagang, karyawan Alfamart, petugas Taman Nasional, pawang gajah, bahkan pengunjungnya, cuma gajahnya saja yang gak bisa, mungkin kurang sinau :p

Saat masuk lokasi sudah ramai sekali oleh warga yang berwisata libur lebaran. Dengan membayar Rp 15.000/motor (tanpa diberi tiket oleh petugas) kami masuk ke dalam dan membayar parkir Rp 5.000. Saat masuk di sini saya sangat kecewa sekali, karena banyaknya sampah berceceran ulah pengunjung yang tidak bertanggungjawab Di area ini ada taman bermain anak-anak, ada wahana menunggang gajah, tempat atraksi sepakbola gajah, dan juga rumah sakit gajah.

IMG_20160709_150858 IMG_20160709_150647

Saat selesai melakukan atraksinya, saya mencoba mendekati gajah dan menyentuh kulit bagian sampingnya. Ternyata kulitnya sangat tebal dan teksturnya mirip itu 😀 Untuk membedakan gajah Sumatera yang jantan dan betina cukup mudah sekali. Jika terdapat gadingnya itu adalah gajah jantan. Selain memiliki gading, gajah Sumatera jantan juga memiliki 2 belalai, yang satu di depan dan yang satu di belakang. Suatu ketika pandangan saya tertuju pada seekor gajah jantan yang sedang ngangkang. Saya mencoba memperhatikan dengan seksama benda panjang yang berada di antara kaki belakangnya.

IMG_20160709_151323DSC_0155

“Belalai gajah yang belakang kok diam aja gak bergerak-gerak, hanya gondal-gandul ?”

Eh, ternyata itu bukan belalai, melainkan penis gajah. Untung saja saya gak bersalaman dengan “belalai” belakangnya itu, hihihi :p

Ukuran gajah Asia lebih kecil dibandingkan gajah Afrika. Ada banyak perbedaan fisik antara keduanya, seperti ukuran telinga, bentuk punggung dan kepala. Gajah Afrika memiliki 2 “bibir” pada ujung belalainya, sedangkan gajah Asia hanya 1. Semua gajah Afrika memiliki gading, baik yang jantan maupun betina, sedangkan gajah Asia hanya jantan saja yang memiliki gading.

Perbedaan Gajah Asia dan Gajah Afrika.
Perbedaan Gajah Asia dan Gajah Afrika.

Gajah-gajah yang sehabis melakukan atraksi, pada sore harinya dimandikan oleh pawangnya di kolam yang besar. Tampak gajah Pepi sedang ditunggangi oleh Pawang yang sedang mengajarkan anaknya mengendalikan gajah. Di seberang kolam itu terdapat padang rumput yang luas untuk digunakan menggembala gajah seperti layaknya menggembala sapi/kerbau. Setelah dimandikan, gajah-gajah itu digiring menuju tempat seperti lapangan lalu dirantai dan diberi makan.

DSC_0127 DSC_0100

Gajah memiliki ingatan yang sangat kuat, karena memiliki volume otak yang besar. Mereka akan berjalan di jalur yang sama meskipun tempat itu sudah berubah menjadi pemukiman. Punya ingatan kuat memang bagus, tapi akan percuma jika yang diingat hanya kenangan bersama mantan. #eeaa

Bagi pengunjung yang ingin trekking bersama gajah cukup membayar Rp 150.000/orang. Dari situ kita bisa menunggangi gajah berkeliling masuk ke hutan layaknya Tarzan selama 20 menit.

IMG_20160709_173107DSC_0112

Di tempat pengamatan gajah, jika ingin berfoto bersama gajah haruslah ada pawangnya, karena meskipun mereka sudah jinak, gajah tetaplah hewan liar yang bisa menyerang jika merasa terganggu atau terancam. Sempat juga si Iqbal dan pengunjung lainnya lari tunggang-langgang karena dikejar gajah Yeti. Padahal sebenarnya mungkin Yeti bukan bermaksud untuk menyerang, tapi ingin mengajak bermain gajah-gajahan.

IMG_20160709_173712

Matahari sudah semakin turun, para pengunjung dan pawang pun pulang ke rumah masing-masing. Belum puas rasanya berada di sini, karena masih banyak keingintahuan tentang gajah yang belum didapatkan.

Saat tiba di tempat parkir, saya mendapati motor sudah pindah tempat tidak jauh dari posisi awal. Di area parkir masih banyak pemuda setempat yang sedang rapat dan menghitung uang hasil parkir. Tinggal hanya ada motor saya dan beberapa motor orang-orang itu. Salah seorang dari mereka menduduki motor saya dan meminta tambahan uang parkir karena melewati batas waktu parkir. Padahal sebenarnya jarak waktu pengunjung lain dan kami pulang tidak terlalu jauh. Orang itu berdalih demikian. Dengan nada tinggi dan sangat tidak sopan, dia meminta uang itu, awalnya dia bilang terserah, lalu saya beri Rp 5.000 dia menolak.

“Buat apa uang segitu ?” katanya merendahkan.

“Lhahh…kan parkirnya tadi Rp 5.000, ya sudah saya tambahin 5000 lagi” balasku.

Ternyata dia minta jadi Rp 10.000, lalu saya tambahi beberapa dia tetap menggerutu. Salah seorang dari temannya sempat melerai kami untuk menyudahi perdebatan. Karena tidak mau berlama-lama karena sudah mulai gelap dan harus ke kota, akhirnya saya mengalah dan terpaksa memberi si brengsek itu Rp 10.000 tanpa keikhlasan.

Sungguh sangat kecewa sekali dengan pariwisata Indonesia, khususnya TN. Way Kambas, karena masih ada saja pungli dan pemerasan seperti ini. Semoga ditindak lanjuti oleh pihak yang berwenang.

Akhirnya dengan rasa jengkel dan penuh dendam, malam itu kami langsung melanjutkan perjalanan menuju kota Bandar Lampung…