Akibat Terlalu Serius Menanggapi Foto Parodi Gunung di Sosial Media

Pengguna sosial media saat ini memang kejam, karena bisa seenaknya membully, menghujat melalui kolom komentar tanpa mencari tahu kebenarannya. Hal itu belakangan terjadi pada seorang instagramer dengan akun @meliapancarani. Fotonya yang berada di Puncak Mega, Gunung Puntang, Jawa Barat, tapi sedang memegang plang bertuliskan Puncak Mahameru 3676 mdpl beredar luas di sosial media. Hal itu dipermasalahkan karena di Puncak Mahameru yang sebenarnya tidak ada rumputnya, dan itu diperkuat dengan topi bertuliskan “Dieng” yang dikenakannya. Oleh kebanyakan orang, Melia dianggap bodoh, terlalu ambisius, melakukan penipuan, bahkan dianggap mencari sensasi belaka.

11202999_936391456421213_1563592191_nTapi hal itu tidak terjadi pada saya, karena saat melihat pertama kali foto tersebut saya spontan langsung berkata,

“Anjritt, ini foto gokil banget idenya. Sumpahh kereen”.

Jujur, saya memang terkesan dengan idenya tersebut. Saya yakin bahwa apa yang dilakukan Melia Pancarani hanya untuk guyonan semata dengan mengekspresikannya melalui “karya” foto yang berbanding terbalik dengan kenyataan. Jadi, seolah-olah dia ingin melawan arus yang ada melalui foto satire-nya.

Satire adalah gaya bahasa untuk menyatakan sindiran terhadap suatu keadaan atau seseorang. Satire biasanya disampaikan dalam bentuk ironi, sarkasme, atau parodi. Parodi digunakan oleh Melia untuk memelesetkannya dalam bentuk visual yang sederhana namun menarik.

Sebenarnya saya juga memiliki ide yang sama dengan Melia, yaitu memindahkan “identitas” gunung ke gunung yang lainnya, karena masih ada orang yang beranggapan bahwa belumlah mencapai puncak jika belum foto dengan plang/triangulasi.

UPN2Tidak cuma postingan dari orang personal saja yang mempermasalahkan foto tersebut. Tapi juga dari website Mapala UPN Jogja (http://www.mapalaupn.com/2015/12/heboh-foto-cewek-di-puncak-mahameru.html) yang membahasnya hingga 3 postingan. Lucunya, mereka meminta bantuan “pakar” Photoshop untuk menganalisa foto tersebut, daaaann…hasilnya…menurut mereka foto tersebut adalah hasil rekayasa intelektual. Waaww !!!

UPNSaya memang bukan ahli Photoshop, bukan pula pakar telematika, apalagi metafisika. Hanya penikmat seni fotografi. Menurut saya yang awam ini, foto tersebut asli, meskipun baru dilihat sekilas juga nampak asli, bukan digital imaging.

Saat foto Melia di-repost oleh @mountainparody dan @id_pendaki banyak timbul komentar negatif dari instagramer. Dari situ saya cukup gerah dan greegett untuk membahas masalah ini. Karena saya juga pernah jadi “korban”, padahal di situ jelas-jelas tertulis PARODI, namun orang-orang malas membaca dan mencernanya, lalu jadilah komentar negatif bersahutan.

Setelah itu saya mencoba menghubungi @meliapancarani melalui DM di instagramnya untuk melakukan kroscek dengan meminta foto-foto asli yang di permasalahkan itu. Setelah saya analisa foto yang Hi-res tidak ada kejanggalan manipulasi, semua tampak normal. Bahkan Melia juga mengirimkan foto temannya yang juga memegang plang Mahameru tersebut dan juga ingin membuktikan bahwa ia pernah ke Mahameru di foto yang lain. Meskipun jika ternyata ada manipulasi foto, buat saya tidak jadi masalah, karena itu konsepnya dia, salah satu bentuk ekspresi humor lewat foto.

Foto temen

IMG_5590Saat ini banyak sekali pengguna sosial media yang gemar melakukan aktifitas petualangan alam bebas. Tapi banyak juga dari mereka yang malas membaca dan berpikir melalui sisi yang berbeda. Selalu melihat dan menilainya secara negatif dan mudah menyebarkan berita tanpa diketahui kebenarannya.

Saya sungguh miris terhadap orang-orang demikian. Karena percuma sering bertualang naik gunung, traveling ke mana-mana, tapi pemikirannya masih sempit dan kaku kayak kanebo kering. Smartphone itu diciptakan untuk membuat penggunanya menjadi lebih pintar, bukan sebaliknya. Janganlah mudah terprovokasi, dan jangan hujat orang yang tidak bersalah. Menikmati hidup dan bersosialisasi itu jangan selalu serius. Jika dirimu mudah emosi dan selalu berpikir/berkomentar negatif terhadap foto parodi, berarti anda….Kurang Piknik !
Karena yang tersurat belum tentu tersirat secara visual.

 

Semoga berkenan🙂

 

 

16 thoughts on “Akibat Terlalu Serius Menanggapi Foto Parodi Gunung di Sosial Media

  1. awwank

    wah iya ya kurang piknik. senang banget menyebar kebencian di sosmed. salut deh kakak sudut pandangnya. kayaknya kakak banyak piknik nih

  2. Kayak foto ala ala gt ya sebenernya. Misalkan fotonya di pantai yang ada resort apung ala Maldives, tapi di captionnya ditulis Maldives ala ala.

    Well sebenernya ga ada salahnya si kl bikin joke gt. People just respond waaay waaay terlalu berlebihan, atau mungkin sense of humour mereka ga sampai kesana, makanya diseriusin hihi

  3. keellllllll

    Mereka yang menertawakan itu amat sangat jauh berbeda dengan yang tertawa bersama hahahaha dan orang2 yang berfikir negatif untuk mencela itu cuma sampah dan hanya memiliki 1pandangan saja 😊😊😊 hidup mereka tak asik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s