“Selametan” di Gunung Slamet

Petang itu saya bergegas pulang dari kantor langsung ke Terminal Kampung Rambutan untuk bertemu dengan temen-temen lainnya menuju Slawi menggunakan bis Dewi Sri. Perjalanan darat ditempuh sekitar 7 jam, pada pukul 5 subuh kami tiba di terminal Slawi. Tidak lama kemudian seorang rekan kami yang tinggal di sana datang menggunakan mobil pick up untuk mengangkut kami ke obyek wisata Guci yang merupakan tempat pendakian Gunung Slamet.

Perjalanan dari terminal Slawi ke Guci sekitar 40 menit. Setelah melewati pintu gerbang obyek wisata dan bertemu pertigaan, kami belok ke kanan, menuju basecamp Gupala yang merupakan relawan Gunung Slamet jalur Guci. Saat itu basecamp mereka belum selesai dibangun, karena baru saja pindah. Tapi dari depan tampak menarik, karena dinding depannya dilapisi potongan kulit pohon yang kering, sehingga seolah-olah bangunan tersebut terbuat dari pohon seperti di film-film Eropa.

Pagi itu mas Gepeng dari Gupala menyambut kami dengan ramah, menawarkan rumahnya untuk tempat mandi buat temen-temen lainnya. Setelah selesai mandi, kami mengisi perut dulu di warung yang letaknya tidak jauh dari basecamp. Saat makan, kami semua sangat kecewa, karena makanannya seperti tidak layak dikonsumsi, karena rasanya tidak normal lagi, contohnya saja “tempe triplek” yang saya makan. Saya menyebutnya demikian karena tempe tersebut sangat keras sekali seperti triplek, sehingga saat digigit membuat gigi saya sakit.

REN_2559Setelah melakukan permanasan dan berdoa, kami memulai perjalanan mendaki. Ini adalah kali kedua saya mendaki Gunung Slamet. Terakhir kali pada Agustus 2008, namun melalui jalur Bambangan – Purbalingga. Tidak jauh dari jalan aspal, kami belok kanan menuju air terjun Jedor, dari situ perjalanan mulai menanjak melewati jalan setapak berbatu, lalu bertemu dengan jalan beraspal dan hutan pinus. Perjalanan dari basecamp menuju Pos 1 (Pondok Pinus) ditempuh sekitar 1,5 jam.

Saat sampai di Pos 1, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya, yang memaksa kami untuk menggunakan raincoat ultralight yang murah meriah😀. Saat itu saya langsung teringat perjalanan tahun lalu ke Argopuro yang sepanjang perjalanan diiringi hujan deras seharian.

Dari Pos 1 menuju Pos 2 ditempuh sekitar 2 jam, dengan melewati hutan yang masih didominasi dengan trek yang landai. Di pos 2 ini tidak terdapat shelter, hanya tempat datar  yang dapat memuat sekitar 5-6 tenda.

Pos 2Hujan pun makin menjadi, tanah yang licin cukup menghambat perjalanan kami Pos 3. Setelah 1 jam berjalan dan tiba di Pos 3, kami istirahat sejenak menikmati suasana karena hujan telah berhenti. Saat membuka jas hujan, beberapa teman saya terkena pacet di tangan dan kakinya. Saya pun jadi khawatir, saat dicek ternyata tidak ada satupun pacet yang menempel kulit saya, mungkin pacetnya tidak suka pria berdarah biru😀

PacetSebenarnya saya teringat trik untuk menghindari pacet di hutan tanpa larutan tembakau. Kebetulan saat itu di rombongan pertama berjumlah 4 orang, dan saya memutuskan untuk berjalan paling belakang, karena pacet yang biasa hinggap di dedaunan akan menempel pada orang yang urutan paling depan, kedua atau ketiga, jadi yang di belakang gak “kebagian” pacet, hihihi :p

Saat sedang istirahat kami dikejutkan oleh seseorang yang datang dari arah atas, dia tiba-tiba datang sendiri dan bertanya,

“Mas, ini Pos 4 bukan ?” kata orang itu.

“Lhaa, ini Pos 3, mas nya dari mana ?” tanya saya.

“Dari atas, tenda saya ketinggalan di Pos 4 mas”

“Lho kok bisa camp di Pos 4 tanpa ngelewatin Pos 3 ?”

“Iya mas, saya lagi nyari air di Pos 5, pas mau turun ke Pos 4 ternyata nyasar sampai di sini”

Dan orang itupun naik lagi ke jalur yang benar menuju Pos 4, karena tendanya masih terpasang dan seorang temannya ditinggal sendiri. Konyol memang.

Pos 3Perjalanan kami lanjutkan kembali, dan hari pun semakin gelap dan dingin. Jarak dari Pos 3 ke 4 lumayan jauh dan menanjak, kami pun cukup dibuat frustrasi karena tidak sampai-sampai. Akhirnya rombongan kami terbagi 2, beberapa orang yang fisiknya kuat dan membawa tenda berjalan duluan agar cepat sampai dan mendirikan tenda untuk yang lainnya. Saya berada di tim terdepan.

Setelah terpisah, terdengar teriakan minta tolong dari bawah, ternyata bang Deddy terkena hipotermia. Untung saja di tim saya ada yang membawa thermal blanket. Langsung saja saya turun kembali menembus pekatnya malam sendirian.

Bang Deddy langsung tergeletak di tengah jalur. Badannya sih gak menggigil, tapi sebenarnya hal itu cukup berbahaya, karena menggigil itu adalah proses tubuh untuk melawan hawa dingin yang menyergap. Saat itu masih terdengar suara lenguhan seperti sapi dari mulutnya. Saya mencoba menyadarkannya dengan membantu posisinya agar duduk. Setelah disenteri, matanya masih merespon adanya cahaya, jadi dia masih sadar. Dalam menangani pasien yang terkena hipotermia, usahakan orang tersebut agar tetap sadar, jangan sampai tertidur, karena berbahaya.

Setelah ditangani dengan menyelimutinya menggunakan thermal blanket, bang Deddy saya tinggal bersama tim yang di belakang, karena saya harus naik lagi untuk mencari tempat di Pos 4 dan mendirikan tenda. Sepanjang perjalanan menuju Pos 4 saya kepikiran, takutnya bang Deddy langsung bablas. Kalo udah gitu, rencana ke puncak esok hari bakal batal dan malah jadi acara evakuasi. Masalahnya bang Deddy itu kan berat :p

Akhirnya setelah jalan 2 jam lebih, sampai juga di Pos 4. Tanpa pikir panjang, kami langsung bongkar tas untuk mendirikan tenda. Ternyata di pos ini bertemu 2 orang yang nyasar ke pos 3 itu, mereka memutuskan untuk ngecamp semalam lagi di situ. Setelah selesai mendirikan tenda yang pertama, terdengar teriakan minta bantuan lagi dari bawah. Langsung saja saya dan Nazar turun untuk membantu, tak lupa kami pakai jaket dan membawa trekking pole terlebih dahulu.

Setelah sampai TKP, ternyata tim di belakang minta bantuan agar tasnya dibawakan, ya sudah kami bawa tasnya buat temen-temen yang gak kuat menuju pos 4. Dari situ saya naik turun 2 kali, karena harus mengevakuasi Bang Deddy ke atas, untung aja beliau masih bertahan hidup :p

Di Pos 4 ini kami menyantap makanan dan istirahat penuh, karena besok paginya harus Summit Attack dengan melewati pos 5 terlebih dahulu.

Keesokan harinya sekitar pukul 7 kami bergegas untuk “Summit Attack”. Tak lupa kami mengisi perut dulu dengan roti, karena gak sempat masak. Sudah telat 2 jam dari jadwal yang ditentukan, maka dari itu kami harus bergerak cepat supaya sampai puncak.

Saat Summit Attack semua tenda kami tinggal, dan saya hanya memakai Utility Bag dari Cozmeed yang di dalamnya berisi kamera, makanan ringan, minuman, obat-obatan, dan jas hujan. Tas yang saya pakai ini sangat praktis dan ringan, karena bisa dilipat seukuran coverbag, jadi cocok banget buat Summit Attack.

Dalam perjalanan menuju puncak harus melewati Pos 5 terlebih dahulu. Jalur dari Pos 4 ke Pos 5 cukup menanjak dan melewati beberapa pohon tumbang. Sampai ketika kita tiba di lorong sempit dan mengharuskan kita untuk merayap jika membawa tas carrier.

Setelah 1 jam perjalanan, akhirnya tiba juga di Pos 5, yaitu sebuah area di batas vegetasi sebelum puncak. Di Pos ini tidak begitu luas, mungkin hanya cukup untuk mendirikan sekitar 5 tenda kapasitas 5 orang.

Pos 5Pada kloter pertama hanya terdiri dari 3 orang, saya, Mas Heri, dan Suke sebagai leadernya. Setelah cukup beristirahat, perjalanan kami lanjutkan kembali. Pagi itu cuaca sangat cerah. Matahari dan langit biru bebas menampakkan keindahannya. Saat di tengah perjalanan menuju puncak ada teriakan dari bawah, ternyata Oka dan pacarnya menyusul kami ke atas. Setelah berfoto-foto, mereka tertinggal di belakang, dan ternyata pacarnnya gak sanggup lagi untuk melanjutkan perjalanan. Praktis, saat itu hanya kami bertiga.

12071067_927496260675315_1852009924_nSemakin siang kabut pun mulai pekat. Sesekali mas Heri dan Suke yang posisinya di depan saya menghilang ditelan kabut. Kami ternyata udah cukup kesiangan berangkatnya. Berhubung saat ini musim hujan, cahaya matahari pun sulit menembus kabut pekat di siang hari.

Istirahat Summit AttackMedan menuju puncak gunung Slamet didominasi oleh batuan vulkanik yang tajam, mirip Merapi, namun batuannya berwarna merah khas Gn. Slamet. Sepanjang jalur menuju puncak saya selalu memperhatikan keanehan yang ada, contohnya seperti tumpukan batu yang tersusun rapi, lalu kayu yang ditancapkan dan di ujungnya terdapat plastik. Ternyata itu semua adalah “rambu-rambu” yang dipasang pendaki untuk membantu navigasi saat mendaki atau turun dari puncak.

Rambu-rambu Patok

Semakin ke atas, jalur pun semakin terjal dan sulit. Untuk itu disarankan menggunakan gaiter agar pasir dan batu-batuan tidak masuk ke dalam sepatu. Selain itu bawalah trekking pole untuk membantu menopang badan. Saat itu saya cukup kesulitan mendaki karena gak bawa trekking pole (lebih tepatnya gak punya), jadi batuan yang saya injak mudah longsor, selain itu juga ada beberapa batuan yang cukup panas dan mengandung belerang.

Setelah 1,5 jam berjalan, jalur yang kami lewati semakin mengarah ke kanan. Saya jadi curiga kalau ini keluar dari jalur utama. Awalnya saya masih tenang karena si Suke sebelumnya udah pernah lewat jalur Guci, maka dari itu dia yang jadi leadernya. Suara gemuruh longsoran batu di lereng cukup membuat saya takut, karena teringat tregedi saat Summit Attack di Semeru.

Potong jalurSaat berhasil melipir melewati lembah yang miring, saya baru sadar setelah melihat punggungan di sebelah kiri. Saya yakin sekali kalo itu jalur yang benar. Ternyata kami berbelok sekitar 40 derajat dari titik di jalur yang benar. Kami pun beristirahat sejanak di sebuah batu yang besar.

“Gile luhh, kayaknya ini bukan jalurnya deh, soalnya ini miring banget dan bahaya, lagipula gak ada bekas jalurnya”. protes saya.

“Bener kok ini jalurnya, gw sengaja motong biar cepet sampe ke puncak itu”. kata Suke sambil menunjukkan sebuah puncak.

“Gak mungkin ini jalurnya, gw yakin banget kalo di punggungan itu jalur yang bener, dan harusnya kita gak melipir ke kanan. Udah deh, pokoknya jalur ini jangan diterusin, bahaya banget, gw gak sanggup lagi miring-miring gini, apalagi gw gak pake trekking pole. Kita balik lagi ke jalur utama, motong lewat sini”. kata saya

Akhirnya kami pun memutuskan untuk mengambil jalur kiri menuju punggungan bebatuan belerang. Sesaat menyeberang kembali melewati lembah dengan sangat pelan dan hati-hati. Tiba-tiba…

“Crasshhhh…!!!”

Saya terperosok ke bawah bersama pasir dan batuan yang labil. Gak ada batuan lagi untuk pegangan atau pijakan, semua yang berada di sekeliling pada longsor. Saya mati langkah saat berada di sini, karena jika banyak bergerak maka saya pasti ikut menggelinding ke dasar. Maka dari itu saya mencoba untuk tenang, meskipun takut bukan main.

“Mas, tolooong, bawain trekking pole ! Aku gak bisa gerak, takut longsor” teriak saya pada Mas Heri.

Mas Heri yang berada di posisi jam 11, dengan jarak 40 meter di atas saya diam sejenak. Sementara Suke udah sampai puncak duluan.

“Badannya miring aja mas biar gak longsor” kata mas Heri

Matane !!! Ini badanku semua udah nyentuh sama pasir, kurang miring apa coba ?!! kata saya

Meskipun dalam keadaan genting, saya mencoba tetap tenang dan banyak berdoa. Sekilas terbesit akan kematian jika saya menggelinding sampai ke bawah. Apalagi saat itu bertepatan sehari setelah ulang tahun saya, dan saya gak mau bernasib sama seperti Gie yang meninggal di puncak gunung sehari sebelum ulang tahunnya.

“Nggak, gw gak mau di-SAR, pokoknya harus bisa lolos dari jalur keparat ini”

Akhirnya setelah tenang dan mengumpulkan tenaga, saya mencoba berdiri dengan melakukan tolakan ke tanah menggunakan kedua lutut, dan dibantu dengan kedua tangan yang tetap masuk ke dalam pasir.

Dari kejauhan terdengar suara yang memanggil nama saya. Ternyata itu adalah Imam yang naik sambil bawa semangka dan helm titipan bang Deddy. Namun posisi dia masih di jalur yang benar dan hendak menuju ke arah saya. Langsung saja saya berteriak supaya dia berjalan lurus terus ke atas punggungan, supaya tidak terjebak di jalur bahaya ini, mengingat juga dia gak bawa trekking pole.

Setelah berhasil berdiri, dengan sangat perlahan dan hati-hati saya melanjutkan melipir jalur lagi dan tiba di sebuah punggungan. Di sini saya dihadapkan dengan bebatuan yang tingginya sekitar 3 meter. Batuan yang cukup panas tersebut terdapat banyak belerang. Asap yang keluar dari celah-celah batu sangat mengganggu napas dan penglihatan, maka dari itu saya memutuskan untuk bernapas menggunakan mulut.

Puncak SukeAkhirnya berhasil juga tiba di sebuah puncak tak bernama. Untuk mengenang “jasa-jasa” Suke yang telah menyesatkan jalur dan hampir membuat celaka, maka Mas Heri mengusulkan untuk menamakannya menjadi Puncak Suke.

Setelah berfoto-foto kami memutuskan untuk turun ke lembah dan melanjutkan lagi ke puncak tertinggi di jalur Guci ini. Di punggungan kami bertemu Imam, disusul dengan Lay dan temennya.

Siang itu kabut tidak kunjung hilang dari puncak, sehingga menghalangi pandangan ke puncak yang lebih tinggi. Saya pun masih penasaran untuk segera menginjak ke puncak bibir kawahnya. Dari kejauhan sesekali terlihat Puncak jalur Bambangan yang angkuh menjulang. Di sebelah kanannya juga terlihat jalur Baturaden yang sangat miring sekali.

Ternyata untuk mencapai puncak di jalur Guci ini harus memutar setengahnya bibir kawah yang tipis ini. Saat itu angin bertambah kencang dan masih berkabut. Maka dari itu kami mengurungkan niat untuk ke puncak yang menjadi tujuan kami. Kecewa memang, karena gak sesuai ekspektasi, apalagi saya juga punya beberapa konsep foto untuk diaplikasikan di gunung ini. Tapi mau gimana lagi, alam belum berkehendak, kalau dipaksakan akan berbahaya, lagipula bisa lain kali ke sini lagi. Gunungnya gak ke mana-mana kok.

Akhirnya kami istirahat di bibir kawah, selamatan dan menikmati semangka kuning yang dibawa dari pasar. Tak lupa Imam berfoto menggunakan helm titipannya bang Deddy. Gila memang, naik gunung bawa-bawa helm full face cuma untuk foto.

KontemplasiSementara itu saya menyendiri, berkontemplasi sejenak di atas batu pinggir kawah. Mensyukuri nikmat Tuhan atas kesehatan dan keselamatan yang diberikan selama perjalanan ini. Dan lagi-lagi jadi keingetan, ternyata saya belum nikah T_T Maka dari itu saya berdoa semoga diberikan kemudahan untuk itu, Aamiin. Karena ini merupakan suatu kebetulan bisa “merayakan” ulang tahun di gunung Slamet tanpa sepengetahuan yang lainnya.

Hari pun semakin siang, kami memutuskan untuk turun. Kami terpisah menjadi 2 kloter, saya berada di kloter terakhir, dan sempat disorientasi medan karena patok rambu-rambunya tertutup kabut pekat. Untung saja kami berhasil kembali ke jalur yang benar.

Setelah packing di Pos 4, kami semua segera turun kembali ke basecamp Guci. Saya sendiri turun sampai basecamp sekitar pukul 17.00. Oh iya, gak lupa saya pun langsung mandi air hangat, karena hampir semua rumah di sini dialiri air panas alami.

 

 

Akomodasi :

Bis Jakarta – Slawi : Rp 75.000
Angkot Slawi – Guci : Rp 20.000
Simaksi : Rp 10.000

Info Pendakian Slamet via Guci
Basecamp Gupala : 087730611412

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s