I Must be Brave !

“Berani karena benar, takut karena salah !”

Quotes itulah yang sampai saat ini masih tertanam di dalam otakku dan seakan-akan menjadi “personal guardian”. Untuk menjadi seorang pemberani memang dibutuhkan proses dan juga pengalaman, selain tekad yang kuat tentunya. Dulu, ketika aku masih SD kelas 3, seorang wali kelasku sebut saja Bu Yuni, saat pelajaran PPKN berulang kali “menanamkan” quotes itu kepada seluruh muridnya agar kelak menjadi seorang pemberani. Benar saja, sampai sekarang pun saya masih teringat dan selalu mengaplikasikan pesan yang disampaikan beliau untuk digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

***

Ngomong-ngomong soal keberanian, waktu SD aku sama temen se-gank (cieelah…anak gank) pengen banget nyobain masuk ke rumah hantu di acara pasar malam, soalnya penasaran banget sekaligus mau ngetest ilmu keberanian seperti yang diajarkan Bu Yuni. Waktu itu kita berjumlah sekitar 5-6 orang bahkan kita udah bikin rencana siapa yang berada di posisi paling depan, tengah, dan belakang. Soalnya menurut cerita yang sering terdengar, bahwa di dalem rumah hantu tuh kita bakal digangguin, dikejar-kejar, bahkan digrepe-grepe sama setan-setan terkutuk itu ! Makanya kita rencanain bikin formasi biar para setan gak merenggut keperjakaanku…

Sayangnya rencana tinggallah rencana aja…aku lupa kenapa rencana ini malah gagal. Tapi setelah 16 tahun kemudian, tepatnya hari ini, aku berhasil merealisasikannya walaupun hanya seorang diri, tapi seenggaknya rasa penasaranku udah ilang, jadi aku bukan  si Renky Penasaran lagi, soalnya yang boleh penasaran itu hanya arwah, jadinya Arwah Penasaran…

Awalnya emang gak ada rencana untuk masuk rumah hantu, tapi karena waktu siang itu aku ada sesi pemotretan di Sekaten dan lokasinya di depan Bianglala dan  berhadapan langsung dengan rumah hantu, langsung aja terbesit pikiran untuk nyoba sesuatu yang dari dulu belum terealisasikan, toh gak bakalan mati ini kalo cuma masuk, lagian juga cuma buat hiburan semata.

Sensasi ketika mau masuk pertama kali ini berbeda  banget ketika waktu masih SD. Waktu dulu baru nyium bau kemenyan sama denger suara backsound kuntilanak ketawa aja udah bikin gemeteran plus keringet dingin, tapi waktu sekarang , ngedenger suara kuntilanak malah pengen ikutan ketawa, abis asik aja ngetawain setan yang ketawa sendiri tanpa sebab.

Di dalem rumah hantu ternyata gak seseram yang kukira, cuma ada 2 setan, yaitu pocong dan kuntilanak dan mereka cuma diem aja, sesekali cekikikan…untungnya gak pake acara grepe-grepe. Jujur, sebenernya aku kurang puas masuk wahana ini, soalnya cuma begituan, gak ada tantangannya, di dalem juga cuma sebentar, mana bau pesing lagi, soalnya kan yang jadi setannya kalo pipis di situ juga…

***

Pengalaman demi pengalaman udah pernah aku dapetin seiring perkembangan sang waktu. Bahkan selepas lulus SMA, udah menjadi santapan setiap hari seperti musik dan simbol-simbol Satanism, walaupun begitu aku masih berada di jalur yang benar (thx God).

Naik-turun gunung, keluar-masuk hutan di malam hari seorang diri sangat menempa keberanianku. Biarpun sering ngelakuin aktifitas begituan, aku gak pernah punya pikiran negatif atau yang aneh-aneh yang dapat menimbulkan imaji buruk, yahh…walaupun sekelebat-dua kelebatan, tapi gak pernah aku peduliin, dan selalu berpikir positif, karena aku udah mendoktrin diri sendiri di dalam otak, “Gw ini manusia, Elo setan…dan lebih ganteng gw, jadi ngapain gw takut sama Elo !”.

Jadi, ngapain takut selama kita berbuat BENAR ?

Advertisements

1.000 Bendera Merah Putih Berkibar di Puncak Gunung Lawu

Ada banyak cara unik yang dilakukan  untuk merayakan HUT ke-68 RI. Salah satunya adalah upacara bendera di Gunung Lawu (3265 mdpl) yang ada di perbatasan Jawa Tengah-Jawa Timur. Sekitar 1.000 bendera berkibar di sana.

Rangkaian acara diawali dengan pelepasan burung di Posko Induk Cemoro Kandang, Karanganyar. Langkah ini bertujuan untuk menjaga populasi burung agar tidak punah, karena dari tahun ke tahun jumlah burung di Gunung Lawu semakin berkurang.

Keesokan harinya pada tanggal 17 Agustus 2013, sekitar pukul 08.00 WIB, sebagian besar para pendaki bergerak naik menuju puncak Hargodumilah. Mereka berfoto-foto di bawah Tugu Triangulasi yang lengkap dengan instalasi 1.000 benderanya.

Kemudian pendaki mulai turun ke arah barat menuju Tlogo Kuning tempat diadakannya upacara bendera. Tlogo Kuning adalah sebuah tanah lapang yang sangat luas, bekas kawah yang sudah mati. Di tempat tersebut para peserta langsung membentuk barisan mengelilingi tiang bendera.

Tepat pada pukul 09.00 WIB, upacara bendera peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-68 dimulai. Walaupun didera kelelahan akibat perjalanan yang panjang dan sulit, para peserta tetap khidmat dan semangat mengikuti upacara bendera tersebut hingga selesai. Setelah selesai upacara bendera, para pendaki disuguhi berbagai permainan menarik dari panitia untuk memperebutkan hadiah dari Cozmeed yang merupakan sponsor utama dari acara ini.

Ratusan peserta yang terdiri dari pecinta alam, pramuka, dan komunitas relawan dari berbagai daerah di Pulau Jawa ini rela berkorban menembus pekatnya kabut, dinginnya udara, dan terpaan angin kencang. Semua demi menunjukkan rasa nasionalisme dan kecintaan terhadap bangsa Indonesia.

Acara kemudian diakhiri dengan membersihkan sampah-sampah sepanjang perjalanan dari Tlogo Kuning sampai Posko Induk Cemoro Kandang. Sebagai pendaki gunung seharusnya turut bertanggung jawab menjaga kebersihan lingkungan. Karena kalau tidak dijaga dan dirawat, bukan tidak mungkin generasi penerus Indonesia tidak bisa menikmati keindahan alamnya lagi.

Detik Travel