Ini Baru Beda, Buka Puasa di Atas Gunung Api Purba

Berbuka puasa di rumah atau tempat makan adalah suatu hal yang biasa dilakukan orang-orang pada umumnya, dan terlalu mainstream buat gw. Namun bagi yang kami memiliki jiwa petualang pasti tidak akan melewatkan momen ramadhan ini untuk tetap melakukan aktifitas bertualangnya sambil beribadah, salah satu contohnya yaitu dengan berbuka puasa di Gunung Api Purba Ngelanggeran, Patuk, Gunung Kidul, DI Yogyakarta.

Gunung Nglanggeran adalah gunung api purba, yang berbentuk bongkahan batu raksasa yang telah berumur puluhan juta tahun yang konon (jangan dibalik :p) merupakan berasal dari letusan Gunung Merapi.

Untuk akses mencapai gunung ini bisa ditempuh sekitar 1 jam dari kota Yogyakarta menuju Jl. Wonosari, lalu dari pertigaan Polsek Patuk berbelok ke kiri mengikuti petunjuk jalan yang ada (jalur alternatif).

Dengan membayar tiket masuk + parkir sebesar Rp 7.000, kita bisa langsung naik ke atas. Jalur menuju puncak gunung tidaklah sulit seperti gunung-gunung besar lainnya, karena waktu tempuh yang pendek sekitar 30 – 45 menit dari pintu masuk.

Perjalanan dimulai dengan melewati anak tangga yang berbatu dan menanjak. Sore itu  sempat turun hujan yang memaksa kami untuk berteduh. Beruntung di sepanjang jalan terdapat beberapa shelter yang bisa digunakan untuk berteduh ketika hujan. Selain itu ada banyak papan penunjuk arah, jadi tidak perlu khawatir akan tersesat jika mengikuti petunjuk dengan benar.

Beberapa puluh meter dari pintu masuk kita akan melewati lorong sempit yang diapit oleh dua buah batu besar, dan di atasnya terdapat sebongkah batu yang terjepit. Hal ini mirip sekali dengan film 127 Hours.  Sayang sekali waktu itu langit sedang mendung dan juga udah mulai gelap, jadi nggak memungkinkan untuk mendapatkan foto bagus😦.

Sesampainya di puncak, semua rasa lelah akan terbayar dengan pemandangan indah gemerlap lampu Kota Yogyakarta yang mulai menyala dan diselingi kabut di sekeliling gunung. Selain itu juga sayup-sayup terdengar lantunan adzan Magrib berkumandang dari desa terdekat yang menandakan bahwa saatnya berbuka puasa.

Sebuah pengalaman yang mengesankan dan menjadi sensasi tersendiri bisa berbuka puasa di atas gunung sambil menyaksikan matahari terbenam, walaupun saat itu matahari nggak nampak dengan sempurna. Mungkin lain waktu gw bakal eksplor tempat ini lagi…

*Versi DetikTravel nya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s