TIPS NAIK GUNUNG SAAT BERPUASA

DSC_0005
Bulan ramadhan adalah bulan dimana sebagian besar para pendaki muslim meliburkan diri dari segala aktifitas pendakian gunung. Tapi di bulan ini bukan berarti sama sekali tidak boleh naik gunung, karena agama tidak pernah melarang orang yang sedang berpuasa untuk mendaki gunung. Justru di bulan inilah waktu yang tepat untuk menguji diri kita dari berbagai tantangan kehidupan, bukan hanya sekedar fisik dan mental, melainkan iman dan juga ketakwaan.

Di gunung, selain kita bisa menguji seberapa batas kemampuan tubuh, juga salah satu cara untuk mensyukuri nikmat yang diberikan Tuhan. Karena menurut George Mallory, gunung itu ada untuk didaki, “Because it there…”. Jadi mendakilah gunung selama gunung itu masih ada, dan selama Tuhan masih mengijinkan. Berikut ini adalah beberapa tips naik gunung saat berpuasa ala Spheriks ^_^! Semoga bermanfaat dan membawa berkah.

1. Ketika sahur, makanlah makanan bergizi, terutama yang mengandung karbohidrat dan protein. Suplemen tambahan juga sangat diperlukan. Tapi  janganlah sekali-kali sahur dengan meminum alkohol dan makan daging babi ! Soalnya itu haram, dan dilarang agama, apalagi yang dimakan adalah daging anak babi yang lahir di luar nikah dan dimakan mentah-mentah…itu hukumnya SANGAT SUPER HARAM SEKALI !!!

2. Setelah sholat Subuh, beristirahatlah yang tenang cukup.

3. Persiapkan perlengkapan & peralatan pendakian sebelum mendaki seperti biasanya. Usahakan barang bawaan tidak terlalu berat.

4. Lakukanlah pendakian ke gunung-gunung yang jarak tempuhnya relatif singkat dan medannya tidak terlalu sulit.

5. Pendakian malam hari sangat disarankan, karena kalau haus bisa langsung minum. Tapi jangan minum alkohol, soalnya alkohol bukan minuman, tapi biasa dipakai untuk membersihkan penis saat khitanan massal.

6. Walaupun sedang berpuasa, ketika mendaki janganlah mengenakan baju koko, peci, dan sarung yang baru. Kenapa ? Takut kotor.  Karena itu akan digunakan saat lebaran.

7. Sebelum mendaki bacalah doa mendaki gunung dan lakukan pemanasan terlebih dahulu.

8. Ketika mendaki, aturlah ritme perjalanan yang konstan, jangan melangkah terlalu lebar ke samping.

9. Jangan memforsir tenaga. Bila sudah lelah segeralah beristirahat dan atur pernapasan. Atau setidaknya beristirahatlah di setiap pos yang dilewati, tapi jangan sampai minum alkohol kadaluarsa, soalnya bisa membatalkan puasa dan juga haram.

10. Selama di perjalanan haruslah tetap berpikir positif. Jangan pernah mengkhayal ketika di puncak akan ada seorang wanita cantik yang menyuapi menu berbuka puasamu sambil telanjang.

11. Harap menjaga hati, sikap, dan perkataan. Ketika tersandung atau terpeleset, janganlah kamu memaki, apalagi menyebut nama alat kelamin pacarmu dengan kencang, atau bahkan sampai menggambarnya, karena akan mengurangi pahala berpuasa.

12. Ketika melihat pemandangan yang indah, ucapkanlah Anjritt…sumpah keren banget ! Subhanallah… karena akan menambah pahala berpuasa.

13. Ketika adzan Maghrib berkumandang dari desa terdekat, segeralah berbuka puasa, dan pastikan dulu itu bukan suara rekaman adzan Subuh dari ponsel temanmu.

14. Sebelum menyantap hidangan berbuka, bacalah doa yang awalannya Allahumma laka sumtu…bukan yang awalannya Nawaitul ghusla…(soalnya itu doa mandi Junub).

15. Saat berbuka, hindari minuman yang mengandung pestisida alkohol, karena akan berdosa jika meminumnya. Tapi minumlah air putih terlebih dahulu lalu dilanjutkan dengan makanan yang mengandung kalori dan halal.

16. Ketika sudah mencapai puncak ucapkanlah Alhamdulilah, kalau perlu sampai sujud syukur.  Jika kamu berhasil melewati semua tantangan dan pantangan dari bawah sampai puncak tanpa membatalkan atau mengurangi pahala puasa, berarti kamu sudah layak dinobatkan sebagai Pendaki Super Beriman, yang Insya Allah akan masuk surga, Amin ya robbal alamin…

Ini Baru Beda, Buka Puasa di Atas Gunung Api Purba

Berbuka puasa di rumah atau tempat makan adalah suatu hal yang biasa dilakukan orang-orang pada umumnya, dan terlalu mainstream buat gw. Namun bagi yang kami memiliki jiwa petualang pasti tidak akan melewatkan momen ramadhan ini untuk tetap melakukan aktifitas bertualangnya sambil beribadah, salah satu contohnya yaitu dengan berbuka puasa di Gunung Api Purba Ngelanggeran, Patuk, Gunung Kidul, DI Yogyakarta.

Gunung Nglanggeran adalah gunung api purba, yang berbentuk bongkahan batu raksasa yang telah berumur puluhan juta tahun yang konon (jangan dibalik :p) merupakan berasal dari letusan Gunung Merapi.

Untuk akses mencapai gunung ini bisa ditempuh sekitar 1 jam dari kota Yogyakarta menuju Jl. Wonosari, lalu dari pertigaan Polsek Patuk berbelok ke kiri mengikuti petunjuk jalan yang ada (jalur alternatif).

Dengan membayar tiket masuk + parkir sebesar Rp 7.000, kita bisa langsung naik ke atas. Jalur menuju puncak gunung tidaklah sulit seperti gunung-gunung besar lainnya, karena waktu tempuh yang pendek sekitar 30 – 45 menit dari pintu masuk.

Perjalanan dimulai dengan melewati anak tangga yang berbatu dan menanjak. Sore itu  sempat turun hujan yang memaksa kami untuk berteduh. Beruntung di sepanjang jalan terdapat beberapa shelter yang bisa digunakan untuk berteduh ketika hujan. Selain itu ada banyak papan penunjuk arah, jadi tidak perlu khawatir akan tersesat jika mengikuti petunjuk dengan benar.

Beberapa puluh meter dari pintu masuk kita akan melewati lorong sempit yang diapit oleh dua buah batu besar, dan di atasnya terdapat sebongkah batu yang terjepit. Hal ini mirip sekali dengan film 127 Hours.  Sayang sekali waktu itu langit sedang mendung dan juga udah mulai gelap, jadi nggak memungkinkan untuk mendapatkan foto bagus :(.

Sesampainya di puncak, semua rasa lelah akan terbayar dengan pemandangan indah gemerlap lampu Kota Yogyakarta yang mulai menyala dan diselingi kabut di sekeliling gunung. Selain itu juga sayup-sayup terdengar lantunan adzan Magrib berkumandang dari desa terdekat yang menandakan bahwa saatnya berbuka puasa.

Sebuah pengalaman yang mengesankan dan menjadi sensasi tersendiri bisa berbuka puasa di atas gunung sambil menyaksikan matahari terbenam, walaupun saat itu matahari nggak nampak dengan sempurna. Mungkin lain waktu gw bakal eksplor tempat ini lagi…

*Versi DetikTravel nya…

Seru-seruan di Goa Pindul

Setelah sekitar 1 minggu tertunda gara-gara si Ican kena demam berdarah, akhirnya trip eksplorasi Gunung Kidul kami lanjutin. Kali ini kita berangkat berempat yaitu, gw Ican, Bayu, sama Dean. Awalnya perjalanan pengen dimulai pagi sekitar jam 10, tapi si Bayu telat dateng dari Solo, jadinya kita berangkat jam 13.30.

Untuk menuju ke Goa Pindul dibutuhkan waktu sekitar 1 jam dari Yogyakarta dengan melewati Jl. Wonosari. Pas baru nyampe pertengahan jalan, kita terjebak macet. Ternyata di sepanjang jalan itu lagi ada karnaval budaya untuk menyambut bulan ramadhan. Awalnya sih gw biasa aja, soalnya event begini emang sering di Jogja, tapi setelah itu tangan gw gatel banget pengen motret. Ya udah seketika aja posisi kemudi motor pindah ke tangan Dean, dan gw langsung turun sekaligus nyomot kamera dari dalem tas sambil berkelit menerobos kemacetan, sat..set…sat…set, pokoknya mirip Kevin Carter gitu :p Di sini waktu gw terbatas banget dan gak bisa eksplor lebih banyak, apalagi harus pake metode EDFAT, soalnya emang lagi buru-buru.

Dan sesaat mata gw tertuju sama seorang pria berbadan besar yang lagi asiknya makan lampu neon. Entah orang itu lagi kesurupan atau mabok yang jelas gw sulit ngebedainnya. Menurut gw orang ini mengerikan banget, soalnya gw dari dulu gak pernah takut sama orang manapun selama dia masih makan nasi, nah ini makannya lampu neon, gimana gak serem coba ! Dan yang anehnya lagi, gw mendapati sesosok wanita, emm….lebih tepatnya seorang pakdhe-pakdhe yang berpakaian adat wanita. Entah apa korelasinya waria dengan acara karnaval budaya menyambut bulan ramadhan, gw juga masih bingung, tapi ya begitulah Indonesia… 😦 dimaklumkan saja.

***

Di sepanjang jalan setelah melewati Bukit Bintang banyak orang yang menawarkan jasa untuk mengantar sampai Goa Pindul, mereka itu berasal dari EO atau penyedia layanan Cave Tubing di Goa Pindul. Bagi yang belum tau jalan menuju ke sana boleh memakai jasa mereka yang konon tanpa dipungut biaya alias gratis. Akses menuju Desa Bejiharjo tempat Goa Pindul berada sangat mudah, tapi karena kurangnya sign system banyak juga yang bingung. Tapi gak perlu khawatir, dari perempatan lampu merah setelah masuk Kota Wonosari langsung aja belok ke kiri, ikuti jalan utama tersebut, ada beberapa petunjuk jalan walaupun kurang jelas. Kalau nyasar tinggal pake GPS cangkem aja :p

Di Desa Bejiharjo ini ada terdapat beberapa EO yang menyediakan layanan Cave Tubing, tapi yang resmi dari Dinas Pariwisata dan terkenal adalah Dewa Bejo, soalnya ada Pak Tukijo nya, sang superhero :p. Dewa Bejo ini basecampnya di ujung jalan dekat pintu masuk. Harga tiket untuk Goa Pindul Rp 30.000, udah termasuk life jacket, ban, pemandu, kamar mandi, dan asuransi. Selain Goa Pindul, di desa ini juga terdapat objek wisata lain seperti Goa Gelatik, Goa Sriti, dan juga Sungai Oya, dan tarifnya pun berbeda.

Untuk masuk ke Goa, sebaiknya tas, ponsel, dompet, dan lain-lain dititipkan terlebih dahulu. Tapi tenang, tempat penitipannya aman kok. Untuk yang bawa kamera DSLR bisa, soalnya aliran airnya tenang banget, gak ada jeramnya, tapi jangan lupa dibungkus plastik untuk menghindari tetesan air dari atas dan juga percikan air, dan fotografernya jangan ikutan nyemplung, tetep stay di atas ban.

Waktu pengarungan goa sekitar 45 menit, nanti menjelang pintu keluar kita bisa memotret Ray of Light dari atas, tapi sayang banget, waktu itu kita dateng kesorean, udah gitu langitnya pas mendung, jadinya shutter speed dikamera jadi rendah dan gak dapet deh cahaya dari surganya 😦 Oh ya, dari titik sini kita diberi kesempatan untuk berenang, bisa juga lompat dari atas batuan di pinggir. Kalo kata Jebraw mah pecaahh abiss :p Tapi sayang banget, waktunya dibatasin soalnya ditungguin sama pemandunya, jadinya kurang puas untuk eksplor sendiri kayak di film-film petualangan gitu. Tapi gapapa, yang penting udah pernah ngerasain serunya di Goa Pindul, mungkin suatu saat bakal ke sini lagi dengan ditemani oleh wanita2 cantik :p Yang jelas, eksplorasi Gunung Kidul masih berlanjut, hahaha…aaaoouuu