IMG_20160327_070550-01

Merasakan Dahsyatnya Jalur Baturaden Gunung Slamet

Ini adalah kali ketiga saya mendaki Gunung Slamet. Sebelumnya saya pernah mendaki via Bambangan (Purbalingga) 16 Agustus 2008, dan via Guci (Tegal) 20 November 2015, tepat ketika saya berulangtahun yang kesekian.

Kali ini saya mendaki dalam jumlah besar, bisa dibilang pendakian massal karena membawa peserta sekitar 50 orang, ditambah lagi panitia berjumlah 20 orang yang tergabung dalam event Cozmeed #EatSleepHike7.

Malam itu selepas pulang dari kantor, saya berangkat menuju Stasiun Pasar Senen. Sebenarnya jadwal kereta ke Purwokerto pukul 05.30, maka agar tidak terlambat saya memutuskan untuk menginap di stasiun. Saat sampai stasiun sudah ada Nazar dan bang Dedy, lalu tidak lama kemudian datang rombongan dari Bekasi. Malam itu kami menunggu pagi dengan tidur di emperan toko di dalam stasiun. Tanpa mengeset alarm, saya sudah dibangunkan oleh satpam saat menjelang Subuh.

IMG_20160324_020731-01

Sampai stasiun Purwokerto sekitar pukul 11.00, dari situ kami lanjutkan ke tempat meeting point nya yaitu di Cartenz Adventure Store. Di sini kami berkenalan dengan para peserta dari daerah lain dan mempersiapkan perbekalan untuk pendakian. Sore hari sekitar pukul 17.00 para peserta berangkat menuju Palawi di Baturaden menggunakan bis. Meskipun begitu panitia masih ada yang standby hingga pukul 11 malam, menunggu beberapa peserta yang ijin untuk datang terlambat.

IMG_20160324_163257

PicsArt_03-29-02.32.07IMG_20160324_181346IMG_20160324_171212

Hujan mulai turun ketika para peserta sampai di Pendopo Baturaden. Setelah makan malam, semua berbaur melakukan perkenalan antar peserta dan panitia, acara selanjutnya adalah pembekalan materi Manajemen Pendakian oleh bung Pherle dan presentasi “Memparodikan Permasalahan di Alam Bebas Melalui Instagram” oleh saya sendiri. Acara malam ini diakhiri dengan briefing untuk pendakian esok pagi, karena dijalur Baturaden ini tergolong panjang dan sulit sekali.

25 Maret 2016

IMG_20160325_083509

Setelah sarapan dan melakukan pemanasan, semua peserta naik menuju titik pendakian yang berada di ketinggian sekitar 630 mdpl. Di titik pendakian ini sama sekali tidak ada pintu gerbang dan penunjuk arahnya, jadi bagi yang belum pernah ke sini kemungkinan akan ambil jalan yang lurus, padahal jalur sebenarnya ada di sebelah kanan. Di sini para peserta masih bersenda gurau, padahal di depan masih banyak tanjakan terjal dan sempit yang menanti untuk dilewati.

IMG_20160325_085309

Dari titik pendakian menuju Pos 1 ditempuh sekitar 1 jam. Saat tiba di Pos 2 waktu menunjukkan pukul 12.00, waktunya istirahat makan siang. Di Pos 2 ini merupakan tempat datar yang cukup luas dan terdapat aliran air.  Setelah beristirahat dan mengisi perut, perjalanan dilanjutkan menuju Pos Tentara, yaitu tempat camp hari pertama.  Saat sampai di Pos Patok, ternyata ada beberapa pendaki yang fisiknya bermasalah, sehingga terpisah menjadi 2, namun masih ada panitia dan tim sweeper yang mendampingi.

Tiba-tiba di tengah perjalanan hujan turun dengan derasnya dan menjadi-jadi, gelap pun mulai datang, namun kami masih berjuang untuk mencapai camp Pos Tentara. Semak-semak yang tinggi dan rapat membuat kami kebingungan mencari arah jalur, dengan seksama kami lihat tanda berupa tulisan kecil berwarna oranye dari Tim Advance yang digantungkan di ranting pohon untuk membantu navigasi. Beban tas semakin berat karena guyuran air hujan, tangan saya menjadi dingin dan kaku, untung saja hati saya tidak ikutan kaku, ditambah lagi kedua paha yang kram membuat saya kesulitan untuk melangkah. Maka dari itu saya putuskan untuk berjalan perlahan membuat ritme tersendiri. Tampak 3 langkah di belakang saya ada Nespi, salah satu peserta pendakian. Kami hanya jalan berdua, sementara tim paling depan dan belakang terpaut cukup jauh. Sambil banyak berdoa saya melangkahkan kaki yang sangat berat ini agar cepat sampai Pos Tentara.

IMG_20160326_104019

Sekitar pukul 18.00 sebagian tim sudah sampai camp Pos Tentara, dan mengganti pakaian mereka dengan yang kering agar tidak hipotermia. Sementara itu sebagian peserta lainnya memutuskan camp di Pos 3 karena fisik mereka drop tidak dapat mencapai Pos Tentara sesuai dengan rencana yang telah ditentukan. Masalah yang dihadapi adalah pembagian logistik dan tenda. Ada beberapa peserta yang tendanya masih dibawa tim peserta yang di belakang, begitu juga sebaliknya dengan logistik. Untung saja yang camp di Pos Tentara masih ada tempat untuk berbagi dengan peserta yang tidak membawa tenda.

26 Maret 2016

BPRO0869BPRO0865

Aktivitas pagi ini diisi dengan menjemur pakaian dan perlengkapan yang basah, maklum kemarin sore hujannya sangat deras sekali. Ada beberapa peserta yang sedang masak dan juga melakukan hajatnya di balik semak-semak. Untuk sumber air tidak perlu khawatir, karena di pos ini ada cerukan kecil yang terdapat air bersihnya.

Setelah mendapat kabar bahwa tim yang camp di Pos 3 melakukan pergerakan ke atas, kamipun segera packing. Tapi sayangnya ada sekitar 6 peserta tidak dapat melanjutkan perjalanan ke Puncak karena kondisi fisiknya tidak memungkinkan, maka dari itu mereka pun turun kembali dengan ditemani tim sweeper.

Anggi, salah seorang peserta dari Jogja memutuskan untuk turun kembali dan tidak dapat melanjutkan perjalanan. Memang sih, pada awal pendakian dia terlihat kurang sehat, tapi setelah saya beri obat dan tasnya saya bawakan kondisinya sudah semakin membaik. Sayang sekali, di Pos ini dia menyerah, dan saya tidak bisa memaksakan kehendak. Setelah Anggi turun, ada juga peserta yang ingin menyusul turun, namanya Hakim. Peserta yang berwajah Arab ini ingin menyerah begitu saja. Saya melihat kondisinya sehat, cuma mentalnya agak “terganggu”. Maka dari itu saya beri dia motivasi dicampur dengan pisuhan dan ancaman push up. Dari situ ia berubah pikiran, dan melanjutkan perjalanan hingga tuntas.

IMG_20160326_124013IMG_20160326_120935-2

Perjalanan selanjutnya adalah menuju Plawangan atau batas vegetasi. Di sinilah kami akan bermalam di hari ke-dua. Trek dari Pos Tentara menuju Plawangan semakin banyak menanjak dan sempit. Terkadang lutut harus terpaksa bertemu dengan hidung, dan beberapa kali harus dibantu menggunakan webbing.

IMG_20160326_113320BPRO0892-01

Setelah melewati Pos 4 kami dihadapkan pada sebuah lorong sempit. Di lorong ini para pendaki harus merayap dan melepaskan carriernya, karena sempit sekali, persis seperti latihan militer. Sekitar pkl 13.00 kami sampai di Pos Badai. Pos ini berada di punggungan bukit. Untuk menuju Plawangan masih harus menanjak lagi dan melewati Pos Pertigaan. Di Pos ini merupakan pertemuan jalur Baturaden dengan jalur Sawangan. Dari sini jalur sudah semakin landai karena melewati punggungan yang bekas terbakar, sementara itu kabut perlahan menyelimuti sehingga harus hati-hati dalam memilih jalur agar tidak tersesat.

IMG_20160326_140548IMG_20160326_174326-01

IMG_20160326_150213

 

Pada pukul 14.50 sebagian peserta sudah sampai di Plawangan. Sementara itu sebagian lainnya masih dalam perjalanan. Di Plawangan ini cuacanya sangat cerah, sehingga kita bisa melihat puncak Slamet dari kejauhan.

Malam itu terasa syahdu, karena sang bulan menampakkan sinarnya yang terang di gunung ini.

27 Maret 2016 (Summit Attack !)

Setelah mendapatkan briefing tadi malam. Para peserta bangun sekitar pukul 03.00 untuk sarapan, karena harus mendaki puncak sepagi mungkin untuk menghindari kabut jika terlalu siang.

IMG_20160327_070550-01

Jalur menuju puncak Slamet sangatlah terjal dan miring, dengan medan berupa batuan vulkanik merah khas Slamet dan juga pasir. Maka dari itu disarankan menggunakan gaiter untuk mencegah pasir atau batu masuk ke sepatu dan gunakan juga trekking pole untuk membantu naik dan menopang tubuh, terlebih lagi semua peserta membawa tas carrier hingga ke puncak, jadi beban bertambah berat.

IMG_20160327_083103BPRO0929

Hakim yang sebelumnya ingin turun kembali, kali ini semangat sekali untuk mencapai puncak, ocehan untuk menyemangati saya selalu saja dia keluarkan. Yapp, kali ini saya yang bermasalah. Saya masih teringat saat terperosok di jalur Guci saat salah jalur untuk mencapai puncak 3 bulan lalu. Maka dari itu saya memutuskan untuk naik perlahan dan sangat hati-hati sekali. Kadar oksigen di sini sangat tipis. Saya selalu berhenti untuk mengatur napas setelah 10-15 langkah naik, karena kalau dipaksakan langsung naik akan merusak otak dan paru-paru.

IMG_20160327_091054

Pada pukul 08.00 para pendaki sudah sampai puncak bibir kawah. Dari sini terlihat jelas puncak jalur Guci dan juga Gunung Ciremai dari kejauhan. Untuk menuju puncak tertingginya masih harus melipir bibir kawah yang menanjak dan sempit. Perlu kehati-hatian yang sangat ekstra, mengingat jalur ini sangat sempit dan berbahaya, karena di sebelah kiri terdapat kawah menganga dan sebelah kanannya berupa jurang yang dalam, jika lengah sedikit bisa celaka. Entah seberapa dalam, yang pasti tidak sedalam cintaku padamu #eeaa

Sambil berjalan menuju puncak tertinggi, saya membuat video sendiri. Kenapa sendiri ? Karena saya sudah terbiasa begini😦

Jika mendaki dari Baturaden dan menuju ke Bambangan, maka akan melewati Puncak Tugu Surono. Puncak ini dinamakan demikian karena untuk mengenang Surono yang tewas di Puncak Gn. Slamet.

IMG_20160327_091743IMG_20160327_092418

Dari Tugu Surono untuk menuju Puncak Bambangan yang merupakan puncak tertingginya masih harus melewati bibir kawah lalu turun ke lembah dan menanjak sedikit lagi.

IMG_20160327_094559IMG_20160327_104304

Setelah puas di puncak, para peserta turun melalui jalur Bambangan. Di jalur Bambangan ini berbanding terbalik dengan Baturaden, karena sangat ramai sekali, dan banyak memiliki tempat datar untuk mendirikan tenda. Bahkan saat ini ada warung hampir di setiap posnya.

Untuk turun menuju basecamp Bambangan masih harus ditempuh lagi sekitar 4 jam perjalanan melewati banyak jalur air.

Sebagian besar peserta sudah sampai basecamp Bambangan sekitar pukul 21.00 dengan susah payah, mengingat tenaganya sudah terforsir saat mendaki dari Baturaden. Untungnya mereka semua bisa turun kembali dengan selamat dan tidak lupa membawa serta sampahnya sampai ke bawah.

IMG-20160413-WA0003

IMG_20160309_070420

Totalitas Mengamati Gerhana Matahari (tidak) Total di Bukit Pemancar

Hari ini, 9 Maret 2016 adalah peristiwa bersejarah bagi negara Indonesia, karena beberapa bagian wilayahnya dilewati oleh fenomena alam yang sangat langka, yaitu Gerhana Matahari Total. Maka dari itu Kementrian Pariwisata mengekspos dan merayakan besar-besaran kejadian ini dengan membuat beberapa event besar di wiayah yang dilewati gerhana untuk meningkatkan daya tarik kunjungan wisata di Indonesia.

Sayangnya saya tidak bisa ke tempat-tempat tersebut, karena waktu yang tidak memungkinkan. Untuk itu saya putuskan untuk mengamatinya di Bukit Pemancar di Kota Cilegon yang jaraknya tidak jauh dari rumah.

Pagi itu sekitar pukul 5.30 WIB saat masih cukup gelap, saya melaju menggunakan motor menuju Bukit Pemancar. Biasanya jalan dekat terowongan menuju Bukit Pemancar ditutup menggunakan portal, untungnya saat itu portalnya terbuka, jadi membawa motor sampai ke atas.

IMG_20160309_080356

Di puncak bukit ini terdapat Tower pemancar TVRI dan sebuah kantor, maka dari itu dinamakan Bukit Pemancar. Selain itu bukit ini juga biasa digunakan untuk take off paralayang.

IMG_20160309_070420
Hidethosi Nakata & Shinji Kagawa

Saat sampai di bukit, ternyata sudah ada beberapa orang di sana. Ada anak Mapala Krakatau yang sengaja camping di sini, ada trail runner yang mampir sebentar, dan ada juga penduduk setempat. Cukup banyak juga rupanya, karena hari ini bertepatan dengan hari libur memperingati Hari Raya Nyepi umat Hindu.

IMG_20160309_073604

Tidak lama setelah sampai lokasi, saya langsung menyiapkan peralatan fotografi. Sengaja sebelumnya saya menyiapkan kacamata khusus untuk melihat gerhana matahari. Bentuk dan bahannya mirip Kacamata 3D yang dulu biasa dipakai untuk nonton Film di RCTI seperti serial kartun Remi, komedi situasi Gara-gara, dan Ada-ada Saja. Namun bagian lensanya berwarna hitam pekat yang tidak dapat digunakan untuk melihat kecuali untuk melihat matahari atau cahaya dari las.

Peralatan fotografi yang saya bawa tidak terlalu banyak, standar seperti pada biasanya, yaitu Kamera DSLR, lensa 18-200 mm, tripod, dan juga filter CPL. Sebenernya yang cocok digunakan adalah filter Neutral Density (ND) tapi sayangnya saya gak punya, jadi saya memanfaatkan filter dari kacamata gerhana dan juga kaca untuk mengelas.

REN_3042

Matahari jingga baru menampakkan wujudnya yang sempurna ketika saya baru sampai di lokasi. Garis lingkaran yang solid dan menyinari perairan menjadi daya tarik obyek fotografi. Jarang sekali saya bisa lihat matahari terbit yang bagus dari sini, karena biasanya selalu tertutup bukit dan posisinya bergeser sekian derajat.

REN_3071 REN_3080

Dari kejauhan di sebelah kanan yang menjulang terdapat Gunung Karang yang merupakan gunung tertinggi di Banten, di sisi tengah yang bentuknya agak menyerupai perahu itu adalah Gunung Pinang (lebih tepatnya bukit). Beruntung sekali hari ini cuacanya sangat cerah, dan matahari bisa puas menampakkan wujudnya tanpa terganggu awan mendung.
REN_3092 REN_3108

Suasana menjadi semakin seru ketika bayangan bulan yang berwarna hitam sudah mulai menutupi matahari. Hal itu bisa terlihat jelas dari kacamata gerhana ataupun dari kamera. Semua orang yang hadir tampak dengan seksama memperhatikan fenomena alam yang satu ini, semuanya takjub akan kebesaran Tuhan. Di samping itu juga terdengar sayup-sayup dari beberapa masjid di kampung sekitar suara yang menyerukan ajakan masyarakat untuk melakukan sholat gerhana.

Proses gerhana matahari ini berlangsung sekitar 40 menit, tapi sayangnya di daerah Cilegon gerhananya tidak total, sehingga saya tidak mendapatkan foto matahari yang seluruhnya tertutup bayangan bulan. Yahh, meskipun begitu tidak menyurutkan niat saya untuk melihat secara langsung dan mengabadikan fenomena alam bersejarah ini, karena pengalaman ini kelak akan menjadi cerita menarik bagi anak, cucu kita nanti.

IMG_20160309_135003

 

IMG-20160126-WA0001

Mengarungi Selat Sunda Dengan Kapal Penyeberangan Termewah di Indonesia

Ini adalah kali ketiga saya menjejakkan kaki di tanah Sumatera. Dulu waktu masih muda saya udah 2x main ke Lampung tapi cuma sampai pelabuhan aja, cuma mau ngerasain naik kapal laut abis itu pulang lagi. Kali ini udah ada kemajuan, yaitu menjelajahi bukit Monumen Siger, yaa meskipun masih di wilayah pelabuhan.
Siang itu kami berangkat bertiga, saya, Adit, dan Nana. Tapi pada perjalanan ini saya berperan sebagai obat nyamuk.
Dari rumah saya di Cilegon menuju Merak ditempuh selama 30 menit, dan langsung menaiki Kapal Ferry, tapi dengan kapal yang biasa, lalu membayar tiket sebesar Rp 14.500. Jarak tempuh dari Merak ke Bakauheni sekitar 2 jam.

Ketika sampai di Bakauheni, kami makan terlebih dahulu, kemudian melanjutkan perjalanan ke atas bukit menggunakan ojeg yang ongkosnya Rp 10.000. Banyak-banyaklah berdoa jika menaiki ojeg di sini, karena tidak menggunakan helm, dan juga melawan arus lalu lintas dengan kecepatan tinggi, belum lagi jalan yang bergelombang menjadi sensasi tersendiri.

Menara Siger sebenarnya menjadi titik nol Sumatera di Selatan, namun sayang saat itu Menaranya sedang tutup, jadi kita gak bisa lihat berbagai macam koleksi seni dan budaya Lampung.

IMG-20160126-WA0001
Saat pulang, kami menaiki Kapal Portlink III. Kapal ini merupakan kapal penyeberangan besar dan termewah di Indonesia. Ketika pertama masuk ruangan saya pikir ini emoll atau hotel.

Uniknya, KMP Port Link dan RMS TITANIC dibangun di tempat yang sama, yaitu di galangan utama milik Harland and Wolff Ltd Belfast, yang bermarkas di Liverpool, Inggris. Meskipun begitu saya tidak lantas mendukung Liverpool. RMS Titanic dibangun tahun 1908, sedangkan KMP Port Link ini dibangun di tahun 1980. Bedanya, Titanic berlayar mengarungi samudera Atlantik sedangkan KMP Port Link berlayar mengarungi Selat Sunda.

Interior di dalam kapal ini sangat bagus dan terdapat fasilitas mewah seperti BAR, cafe, ruang tidur, lift, mini market, bioskop mini, dan ruang VIP.

Selain perangkat keamanan yang canggih, pelayanan di kapal ini sangat bagus, yaitu ada pemaparan bagaimana menggunakan pelampung dan penyelamatan ketika keadaan darurat oleh Sea Attendant yang cantik-cantik. Begitu juga saat waktu sholat, petugas akan mengumandangkan adzan dan membimbing penumpang ke mushola yang letaknya di lantai atas.

Namun sayang, kapal mewah ini tetap saja jadi kotor oleh kebiasaan penumpang yang membuang sampah sembarangan, merokok di dalam toilet, dan menggunakan alas kaki di tempat wudhu.

Semoga para penumpang bisa sadar akan tanggungjawabnya dan dapat menjaga semua fasilitas yang ada.

Terima kasih PT. ASDP Indonesia.

DSC_0137

Sabar Gorky, Menggapai Puncak Dengan Satu Kaki

Dia hanya memiliki 1 kaki, namun keterbatasan fisik bukanlah menjadi penghalang untuk melakukan aktifitasnya menjadi seorang pendaki gunung. Orang itu adalah Sabar Gorky, seorang pendaki tunadaksa kelahiran Solo, 9 September 1968. Sabar telah menggeluti kegiatan alam bebas sejak tahun 1985. Namun nahas, pada tahun 1996 selepas kepulangannya dari pendakian ke Gunung Gede menuju Solo, Sabar terpleset ke perlintasan rel di Stasiun Karawang dan kakinya terlindas Kereta Api. Alhasil, kaki kanannya harus diamputasi sebanyak 3 kali, dan kini hanya menyisakan 5 cm dari pangkal pahanya.

Setahun setelah sembuh, Sabar mulai mendaki gunung Lawu, namun gagal. Setelah melakukan percobaan yang ke-3, akhirnya ia berhasil mencapai puncaknya. Hingga kini, setidaknya 10 gunung di Indonesia berhasil ia daki. Tidak hanya itu saja, Sabar juga telah meraih berbagai prestasi seperti medali emas kejuaraan climbing Asia di Korea Selatan tahun 2009 dan empat besar kejuaraan climbing di Perancis. Pada Desember 2011, Sabar diberi kehormatan untuk menyalakan obor pada pembukaan ASEAN Para Games di Solo dengan cara memanjat ke atas tribun stadion, lalu meluncur menggunakan flying fox.

Tidak hanya sampai di situ, kini Sabar telah berhasil mendaki puncak Gunung Elbrus di Rusia, Kilimanjaro di Afrika, dan juga Carstensz Pyramid di Papua, dan berniat menyelesaikan rangkaian pendakiannya mencapai 7 puncak dunia dengan satu kaki.

DSC_0009

Aktivitas Keseharian

Minggu pagi itu saya sempatkan berkunjung ke rumah Sabar Gorky. Kebetulan saat itu ia sedang mencari rejeki dengan mengelola jasa permainan Flying Fox di Kebun Binatang Satwa Taru Jurug yang letaknya tidak jauh dari rumahnya di Solo. Dengan dibantu anak dan istrinya, Sabar menyiapkan perlalatan panjatnya
DSC_0020Rupanya anak-anak di sekitar Kebun Binatang ini sudah tidak asing dengan wahana Flying Fox, karena telah diajarkan oleh Sabar Gorky bagaimana cara menggunakannya. Hal itu terbukti mereka bisa memasang harness sendiri dan berhasil meluncur ke seberang danau. Tentunya dengan perlengkapan standar keamanan dan diawasi oleh Sabar Gorky.

Selain mengelola Flying Fox, dia juga memiliki kios kecil yang berjualan perlengkapan pendakian. Dengan segudang pengalaman dalam mengarungi pahit-manisnya hidup, Sabar juga sering diundang ke acara-acara sebagai motivator dan tampil di acara televisi.

Kadang juga Sabar mendapat orderan dengan memanfaatkan keahlian memanjatnya untuk membersihkan gedung-gedung bertingkat. Meskipun begitu, masih banyak juga orang yang meragukan kemampuannya dalam membersihkan gedung bertingkat, karena terkait dengan fisiknya. Tapi hal itu tidak membuatnya putus asa begitu saja. Dengan keterbatasan fisiknya itu, Sabar mampu memanjat Patung Selamat Datang dan Tugu Monas di Jakarta. Hal itu dilakukan untuk membuktikan bahwa kaum difabel setara dengan orang-orang lainnya, dan juga mempunyai hak yang sama.
DSC_0137Itulah Sabar Gorky. Keterbatasan fisik tidak membuatnya putus asa dalam meraih impian. Semangat dan kegigihannya dalam menghadapi berbagai rintangan mampu mengubah paradigma orang-orang “normal” pada umumnya dalam memandang kaum difabel. Tidak ada kata “menyerah” dalam kamus Sabar Gorky, semua itu dapat terwujud dengan berdoa, usaha dan kerja keras yang bahkan harus mencapai batas maksimal kemampuan dirinya sendiri.

Rumah Botol

Rumah Botol Gunung Lawu

Bagi yang pernah mendaki Gunung Lawu via Cemoro Kandang pasti tahu tentang Rumah Botol. Letaknya sih memang agak tersembunyi dari jalur utama, tapi tidak jauh yaitu di belakang Petilasan Hargo Dalem. Rumah Botol ini sangat unik, karena memang terbuat dari botol-botol air mineral dari sampah para pendaki yang ditinggalkan begitu saja di gunung. Pada bagian dalam dindingnya dilapisi bekas kaleng sarden yang diratakan, sehingga membuat ruangan menjadi hangat.

Rumah Botol

Di bagian atasnya terdapat tower seperti antenanya itu sebenarnya hanya sebagai hiasan saja, tapi ternyata cukup berguna juga sebagai patokan untuk membantu navigasi para pendaki yang naik melalui jalur Candi Cetho. Meskipun dari luar terlihat kecil dan sempit, ternyata di bagian dalamnya cukup besar, bisa menampung sekitar 6 orang di ruangan utama. Belum lagi bagian bunkernya yang cukup besar bisa memuat 8 orang.
DSCN1500REN_1196
Selain bahannya yang unik, desain dari rumah botol pun juga unik. Tepat di samping sebelah kiri pintu terdapat tungku perapian yang biasa digunakan untuk memasak, dari tungku itu tersambung dengan cerobong asap yang menjulang ke atas, sehingga penghuni di dalamnya tetap aman dari kepulan asap. Bagian dindingnya sebelah kanan digunakan untuk menyimpan persediaan kayu bakar, dan uniknya lagi di bagian pojok bisa digunakan untuk mandi, karena terdapat penampungan air.
Mas Bowo

Adalah Bowo, seorang kreatif yang mendirikan rumah botol di ketinggian 3100 mdpl ini. Awalnya Bowo hanya prihatin terhadap sampah-sampah yang ditinggalkan pendaki, lalu pada tahun 2000 dia mulai berniat mengumpulkan sampah-sampah botol untuk dijadikan rumah singgah jika mendaki gunung Lawu. Setelah sekitar 7 tahun, rumah itu berhasil berdiri dan masih diyakininya belum selesai hingga saat ini. Berarti masih ada kemungkinan untuk dikembangkan lagi bangunannya.

B: Sebenernya aku dulu itu stress, karena gak ada kegiatan ya bikin begini.

J: Lha terus sekarang?

B: Yoo, masih stress.

J: Hahaha, aaoouu.

Beliau memang gila gunung, karena kalo udah naik gunung sampai berhari-hari, bahkan pernah sampai 40 hari mencari tanaman untuk jamu di gunung. Anaknya yang baru 5 bulan pun pernah diajak naik ke Lawu, tentunya dengan aklimatisasi terlebih dahulu.

Banyak sekali pengalamannya naik gunung. Pernah suatu ketika menggegerkan penghuni Lawu. Ketika itu dia membawa bangkai rusa ke atap rumah botol, dan malamnya langsung didatangi harimau dan mengacak-ngacak bangunan di Hargo Dalem.

Keesokan harinya Mbok Yem marah-marah karena ulahnya itu, soalnya ketika mau keluar malah ketemu harimau. Untung, harimaunya gak doyan Simbah-simbah :p

 

Selain untuk tempat singgah bagi Bowo dan keluarganya, Rumah Botol ini biasa digunakan oleh relawan dan Tim SAR menginap saat mengadakan operasi pengamanan di gunung Lawu. Maka dari itu tidak dibuka untuk pengunjung umum, karena dikhawatirkan akan kotor atau rusak oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab.
Untuk menuju Rumah Botol ini dapat ditempuh sekitar 7 jam dengan berjalan kaki dari basecamp jalur Cemoro Kandang, Kab. Karanganyar, Jawa Tengah. Aksesnya dari kota Solo naik bis jurusan Tawangmangu, lalu lanjut naik angkot ke Cemoro Kandang yang berada di ketinggian 1830 mdpl.