BPRO0482-01

Hammocking di Pulau Tangkil

Tak terasa sudah 2 jam lebih kami menyusuri jalan yang hancur parah menuju kota Bandar Lampung. Selepas dari Way Kambas, kami mengambil jalan tembus dari pertigaan yang sebelumnya kita lewati.  Saya pilih jalan itu karena menurut Google Map aksesnya lebih dekat daripada harus memutar dulu ke utara.

BPRO0431

Hari semakin gelap, jalan hancur tak kunjung usai. Karena sudah terlanjur, kami harus terpaksa ber”off road” menggunakan motor matic ini. Kali ini giliran Iqbal yang menyetir, dan saya selalu waspada mengamati jikalau ada ancaman yang datang. Maklum, sepanjang jalan ini minim sekali penerangan, karena melewati jalan panjang yang kanan kirinya berupa kebun dan semak belukar. Ternyata di jalan ini rawan sekali pembegalan, bahkan untuk mengebut atau teriak minta tolong pun rasanya percuma.

Sejenak kami berhenti di sebuah perkampungan untuk memastikan bahwa jalan yang kami pilih itu bukan jalan yang salah. Jam sudah menunjukkan pukul 21.00 tapi kota yang kita tuju belum juga sampai. Hal ini membuat kami frustasi dan emosi, dan sempat juga berpikiran untuk mencari penginapan atau masjid karena sudah terlalu lelah berkendara. Setelah yakin dengan jarak di peta digital, akhirnya kami paksakan untuk melanjutkan perjalanan. Sekitar 30 menit kemudian kami sampai juga di kota Bandar Lampung.  Target selanjutnya adalah mencari penginapan.

20160710_113050

Setelah searching di aplikasi booking online akhirnya saya pilih Guest House Palapa yang letaknya sekitar 50 meter dari Bundaran Gajah. Awalnya saya mengira penginapannya sudah tutup, karena tidak ada tanda-tanda kehidupan. Setelah saya telusuri ternyata pintu masuk lobinya berada di dalam gang sebelahnya, jadi penginapannya berada di lantai 2. Tempat ini cocok sekali buat backpacker, karena tarifnya murah. Untuk 1 kamar berdua dikenakan tarif Rp 200.000 per malamnya. Fasilitas yang didapatkan berupa kamar bersih, nyaman, ber-AC, ada televisi, wifi, dan sarapan. Tapi sayangnya di dalam kamarnya tidak ada kamar mandinya. Jadi jika ingin mandi, e’ek, atau pipis, harus ke kamar mandi di luar. Tapi jangan khawatir, karena kamar mandinya bagus, bersih, dan bisa buat selfie. Oh iya, buat yang mau indehoy, nonton bokep, ngegosip, dll, di penginapan ini bukanlah tempat yang tepat, karena dinding kamarnya bukan terbuat dari beton, tapi dari kayu/triplek tebal, jadi suara mu bisa terdengar ke kamar sebelah.

Esok paginya pukul 09.00 kami segera check out karena harus melanjutkan perjalanan. Kali ini kami blank sama sekali belum tau mau ke mana. Akhirnya salah seorang penjaga penginapan memerikan referensi, yaitu Panti Mutun yang letaknya sekitar 14 km dari sini. Dari pantai tersebut bisa juga menyeberang ke Pulau Tangkil menggunakan perahu.

BPRO0444

Setelah sampai lokasi, ternyata di sini telah ramai pengunjung, maklum hari terakhir libur lebaran. Menurutku pantainya cukup bagus dan airnya pun bersih. Tidak jauh dari pantai ini terlihat jelas Pulau Tangkil. Karena penasaran akhirnya kami mencoba ke sana dengan menyewa perahu dengan tarif Rp 60.000 untuk berdua. Sampai di pulau ini ternyata harus membayar retribusi lagi Rp 5.000. Awalnya kami bingung mau ke mana dan ngapain, karena di sini ternyata juga ramai. Akhirnya saya menelusuri sebuah jalan setapak dan melewati semak-semak, sampai tibalah di tempat berbatu dan di dekatnya terdapat tiang kayu bekas ayunan sepeti di Gili Trawangan – Lombok.

BPRO0482-01

Tanpa basa-basi saya langsung memasang hammock di tiang tersebut untuk bersantai menikmati suasana, sekaligus mengetes kekuatan hammock yang belum pernah saya pakai, karena menurut penjualnya bisa menahan berat maksimal 300 kg. Saya cukup beruntung mengeksplor hingga sampai sini, karena tempatnya bagus dan juga sepi. Namun sayang, tidak lama kemudian hujan pun turun dan memaksa kami untuk mengevakuasi barang-barang dan mencari tempat berteduh, padahal tadi ada mbak-mbak yang mau ikut santai di hammock, siapa tau dia minta dipangku sambil dibacain cerita. Ya sudahlah…akhirnya hujan pun membuyarkan impian anehku tersebut.

DSC_0122

Mencari Gajah Berbelalai Dua di Way Kambas

A : Bona Gajah Kecil Berlalai Panjang.

B : Bukan berlalai, tapi “berbelalai”.

A : Gak mauu…pokoknya Berlalai !”

A : Ya udah, terserahlahh…

Sampai sekarang masih teringat jelas bagaimana waktu kecil saya ngeyel sama papa tiap kali baca cergam Bona si gajah pink di majalah Bobo. Memang, waktu kecil saya agak kesulitan untuk melafalkan “Berbelalai”, sama halnya dengan kata “kelelawar” menjadi “kelawar”. Bagi saya, gajah merupakan hewan yang sangat unik. Banyak sekali pertanyaan yang menghinggapi selama ini, apakah gajah takut tikus ? mengapa gajah tidak bersin ketika menyedot debu ? mengapa gajah yang berat bisa berenang, sementara saya gak bisa-bisa ? mengapa gajah yang duduk dipakai buat cap sarung ? dan masih banyak lagi.

Pagi itu Iqbal sudah menunggu di Pelabuhan Merak. Awalnya saya pengen berangkat sendiri ke Way Kambas, tapi baru ingat kalo sendirian nanti gak ada yang motretin, ya sudah kami berangkat berdua naik motor dengan menyeberang menggunakan kapal Ferry. Di pelabuhan ini tidak terlalu ramai, karena yang mudik sudah pada sampai di kampung halaman masing-masing. Kapal yang kami naiki saat itu hanya kapal biasa, padahal saya berharap bisa menaiki lagi Kapal Portlink III yang mewah itu. Perjalanan dari Merak menuju Bakauheni Lampung ditempuh selama 2 jam. Jika membawa motor dikenakan tarif sebesar Rp 45.000 dan kendaraan roda 4 sekitar Rp 325.000. Cukup mahal juga ternyata.

Screenshot_2016-07-12-14-38-47

Ini adalah kali keempat saya menjejakkan kaki di tanah Sumatera. Jarak yang terjauh hanya cuma sampai menara Siger yang letaknya tidak jauh dari pelabuhan, tapi kali ini saya akan menempuh perjalanan yang sangat jauh. Sebelum melakukan perjalanan ini, saya membekali referensi dulu dari blognya Satya Winnie agar bisa sampai tujuan, namun saya memilih melewati jalur pantai timur, karena menurut orang sekitar jalannya bagus dan tidak macet, daripada harus memutar melewati kota Bandar Lampung.

IMG_20160709_105301

Dari Bakauheni menuju Way Kambas ditempuh hampir 4 jam lamanya. Saat baru melewati jalur ini saya bingung karena merasa seperti berada Bali. Selepas menara Siger, di sepanjang kanan dan kiri jalan banyak terdapat pura dan bangunan-bangunan khas umat Hindu Bali. Ternyata di daerah ini terdapat perkampungan Bali. Dari sini perjalanan masih sangat jauh, dengan melewati Way Jepara dan Rajabasa Lama. Sampai akhirnya kami menemukan plang penunjuk arah Taman Nasional Way Kambas kemudian belok kanan menyusuri jalan yang agak rusak sepanjang 7 km.

IMG_20160709_142257

Pukul 14.22 tibalah kami di pintu gerbang Taman Nasional. Ketika sampai di sini saya kembali bingung, karena sebagian besar orang di sini berbicara menggunakan bahasa Jawa, mulai dari pedagang, karyawan Alfamart, petugas Taman Nasional, pawang gajah, bahkan pengunjungnya, cuma gajahnya saja yang gak bisa, mungkin kurang sinau :p

Saat masuk lokasi sudah ramai sekali oleh warga yang berwisata libur lebaran. Dengan membayar Rp 15.000/motor (tanpa diberi tiket oleh petugas) kami masuk ke dalam dan membayar parkir Rp 5.000. Saat masuk di sini saya sangat kecewa sekali, karena banyaknya sampah berceceran ulah pengunjung yang tidak bertanggungjawab Di area ini ada taman bermain anak-anak, ada wahana menunggang gajah, tempat atraksi sepakbola gajah, dan juga rumah sakit gajah.

IMG_20160709_150858 IMG_20160709_150647

Saat selesai melakukan atraksinya, saya mencoba mendekati gajah dan menyentuh kulit bagian sampingnya. Ternyata kulitnya sangat tebal dan teksturnya mirip itu😀 Untuk membedakan gajah Sumatera yang jantan dan betina cukup mudah sekali. Jika terdapat gadingnya itu adalah gajah jantan. Selain memiliki gading, gajah Sumatera jantan juga memiliki 2 belalai, yang satu di depan dan yang satu di belakang. Suatu ketika pandangan saya tertuju pada seekor gajah jantan yang sedang ngangkang. Saya mencoba memperhatikan dengan seksama benda panjang yang berada di antara kaki belakangnya.

IMG_20160709_151323DSC_0155

“Belalai gajah yang belakang kok diam aja gak bergerak-gerak, hanya gondal-gandul ?”

Eh, ternyata itu bukan belalai, melainkan penis gajah. Untung saja saya gak bersalaman dengan “belalai” belakangnya itu, hihihi :p

Ukuran gajah Asia lebih kecil dibandingkan gajah Afrika. Ada banyak perbedaan fisik antara keduanya, seperti ukuran telinga, bentuk punggung dan kepala. Gajah Afrika memiliki 2 “bibir” pada ujung belalainya, sedangkan gajah Asia hanya 1. Semua gajah Afrika memiliki gading, baik yang jantan maupun betina, sedangkan gajah Asia hanya jantan saja yang memiliki gading.

Perbedaan Gajah Asia dan Gajah Afrika.
Perbedaan Gajah Asia dan Gajah Afrika.

Gajah-gajah yang sehabis melakukan atraksi, pada sore harinya dimandikan oleh pawangnya di kolam yang besar. Tampak gajah Pepi sedang ditunggangi oleh Pawang yang sedang mengajarkan anaknya mengendalikan gajah. Di seberang kolam itu terdapat padang rumput yang luas untuk digunakan menggembala gajah seperti layaknya menggembala sapi/kerbau. Setelah dimandikan, gajah-gajah itu digiring menuju tempat seperti lapangan lalu dirantai dan diberi makan.

DSC_0127 DSC_0100

Gajah memiliki ingatan yang sangat kuat, karena memiliki volume otak yang besar. Mereka akan berjalan di jalur yang sama meskipun tempat itu sudah berubah menjadi pemukiman. Punya ingatan kuat memang bagus, tapi akan percuma jika yang diingat hanya kenangan bersama mantan. #eeaa

Bagi pengunjung yang ingin trekking bersama gajah cukup membayar Rp 150.000/orang. Dari situ kita bisa menunggangi gajah berkeliling masuk ke hutan layaknya Tarzan selama 20 menit.

IMG_20160709_173107DSC_0112

Di tempat pengamatan gajah, jika ingin berfoto bersama gajah haruslah ada pawangnya, karena meskipun mereka sudah jinak, gajah tetaplah hewan liar yang bisa menyerang jika merasa terganggu atau terancam. Sempat juga si Iqbal dan pengunjung lainnya lari tunggang-langgang karena dikejar gajah Yeti. Padahal sebenarnya mungkin Yeti bukan bermaksud untuk menyerang, tapi ingin mengajak bermain gajah-gajahan.

IMG_20160709_173712

Matahari sudah semakin turun, para pengunjung dan pawang pun pulang ke rumah masing-masing. Belum puas rasanya berada di sini, karena masih banyak keingintahuan tentang gajah yang belum didapatkan.

Saat tiba di tempat parkir, saya mendapati motor sudah pindah tempat tidak jauh dari posisi awal. Di area parkir masih banyak pemuda setempat yang sedang rapat dan menghitung uang hasil parkir. Tinggal hanya ada motor saya dan beberapa motor orang-orang itu. Salah seorang dari mereka menduduki motor saya dan meminta tambahan uang parkir karena melewati batas waktu parkir. Padahal sebenarnya jarak waktu pengunjung lain dan kami pulang tidak terlalu jauh. Orang itu berdalih demikian. Dengan nada tinggi dan sangat tidak sopan, dia meminta uang itu, awalnya dia bilang terserah, lalu saya beri Rp 5.000 dia menolak.

“Buat apa uang segitu ?” katanya merendahkan.

“Lhahh…kan parkirnya tadi Rp 5.000, ya sudah saya tambahin 5000 lagi” balasku.

Ternyata dia minta jadi Rp 10.000, lalu saya tambahi beberapa dia tetap menggerutu. Salah seorang dari temannya sempat melerai kami untuk menyudahi perdebatan. Karena tidak mau berlama-lama karena sudah mulai gelap dan harus ke kota, akhirnya saya mengalah dan terpaksa memberi si brengsek itu Rp 10.000 tanpa keikhlasan.

Sungguh sangat kecewa sekali dengan pariwisata Indonesia, khususnya TN. Way Kambas, karena masih ada saja pungli dan pemerasan seperti ini. Semoga ditindak lanjuti oleh pihak yang berwenang.

Akhirnya dengan rasa jengkel dan penuh dendam, malam itu kami langsung melanjutkan perjalanan menuju kota Bandar Lampung…

IMG_20160515_062339

Melepas Kepenatan Kantor di Pulau Tidung

“Hidup bukan hanya cari uang, ada saatnya bersenang-senang”.

Sepenggal lirik lagu “Lagi Males Kerja” dari Endank Soekamti memang benar dan selalu terngiang di otak saya. Ada kalanya kita butuh liburan, melepas kepenatan dari rutinitas kantor yang padat dan serius. Karena liburan/piknik/plesir atau apalah semacamnya dapat menyegarkan pikiran dan mendongkrak semangat baru dalam beraktivitas.

Daaan…akhirnya hari yang diharapkan pun tiba. Di hari inilah saya dan rekan-rekan sekantor liburan bareng ke Pulau Tidung. Pulau kecil ini berada di Kepulauan Seribu dan masih termasuk wilayah DKI Jakarta. Di sinilah waktunya untuk bermain, bersenang-senang, bercanda sepuasnya, tanpa memikirkan deadline, revisi, cek warna, layout, desain, reshoot, dan sebagainya.

Sabtu pagi itu sekitar pukul 7.30 kami sudah tiba di Marina Ancol untuk menunggu kapal yang akan membawa kami ke Pulau Tidung. Untuk menuju ke Kepulauan Seribu, dari Jakarta bisa juga melalui Pelabuhan Muara Angke, namun di situ menggunakan perahu tradisional, sedangkan untuk speedboat melalui Marina. Ternyata saat sampai di Marina sudah ramai sekali, tampak seperti suasana mudik lebaran. Setelah mengantri lama, akhirnya kapal kami yang bernama “Pramuka Express” datang juga.

IMG_20160514_083654

Kapal yang kami naiki ini sejenis kapal cepat/speedboat. Inilah kali pertama saya menaiki speedboat untuk penyeberangan ke pulau lain, karena saya biasanya menaiki kapal nelayan tradisional yang terbuat dari kayu.

Dengan menggunakan speedboat, perjalanan dari Jakarta ke Pulau Tidung ditempuh sekitar 1.5 jam, namun jika menggunakan kapal tradisional biasa bisa sampai 3.5 jam lamanya.

Setelah 1 jam perjalanan di dalam kapal, tiba-tiba perut saya kembali bergejolak, seperti ada bayi yang nendang-nendang, bukan ingin muntah, tapi hanya ingin kentut dan berharap tidak keluar ampasnya. Memang, sehari sebelumnya saya sedang M (mencret). Sudah 3 kali saya tahan kentut selama di kapal, karena kalau saya lepaskan, khawatir orang-orang memilih menyeburkan diri ke laut. Maka dari itu di saat yang ke-4 saya mengalah dan keluar menuju dek atas untuk melepaskan angan-angan bersama angin laut.

Saat pindah ke dek atas, saya ditempatkan di samping kanan pak Nahkoda. Baru sebentar saya duduk, Fadhil tiba-tiba datang menghampiri saat  kapal sedang melaju. Langsung saja nahkoda yang berpenampilan seperti pensiunan tentara tersebut menyuruhnya untuk duduk kembali. Untung saja dia tidak disuruh push up. Penumpang yang berada di bagian atas memang dilarang berdiri saat kapal sedang melaju, karena dikhawatirkan akan jatuh terpental oleh guncangan dan angin.

Salah satu enaknya duduk di bagian atas kita bebas melihat pemandangan dan bebas boleh kentut. Tapi bagi yang tidak suka kepanasan dan rawan masuk angin, lebih baik duduk di bagian dalam yang lebih aman dan nyaman.

Pada pukul 10.45, kapal sudah sampai di dermaga Pulau Tidung. Untuk menuju ke Hotel Nirwana masih harus jalan kaki sekitar 15 menit. Saat baru pertama menjejakkan kaki di pulau ini saya cukup takjub, karena kondisinya seperti perkampungan di P. Jawa. Di Pulau Tidung ini meskipun kecil tapi ada sekolah, hotel, kantor polisi, puskesmas, bahkan kantor Lurah dan Camatnya pun bagus dan besar. Listrik dan sinyal telepon pun sangat lancar sekali di sini.

Nama Pulau Tidung sendiri sebenarnya diambil dari suku Tidung di Kalimantan Timur. Hal ini dibuktikan dengan adanya makam Raja Pandita yang mendiami di pulau ini sejak tahun 1892.

DCIM101MEDIA

DCIM101MEDIA

Setelah check in di Hotel Nirwana, kami menuju dermaga menggunakan sepeda. Di pulau ini memang banyak disewakan sepeda “perempuan”, karena memiliki keranjang di depannya yang bisa digunakan untuk menaruh barang. Setelah mencari akhirnya saya mendapatkan sepeda berwarna hitam satu-satunya, yaa paling tidak itu mengurangi kesan perempuan dari sepedanya. Saat beberapa meter berjalan ada sesuatu yang mengganjal dan gak mengenakkan. Ternyata jok sepeda yang saya naiki itu besinya sedikit keluar dan menonjol, alamat ini bisa membahayakan bagi masa depan saya, apalagi kalau saat salah rotasi dan melewati polisi tidur, wahh…bisa dibayangkan deh gimana ngilunya.

DCIM101MEDIA

Jarak dari penginapan ke dermaga jembatan cinta sekitar 3 km. Meskipun jalannya hanya tinggal lurus, tapi tetap harus berhati-hati, karena jalannya berupa gang sempit tapi ramai dengan lalu lalang kendaraan seperti sepeda dan becak motor, belum lagi anak-anak yang sering menyeberang tanpa lihat kanan kiri.

DCIM101MEDIA

Dari dermaga perjalanan dilanjutkan menuju spot snorkeling menggunakan perahu nelayan. Di spot ini terumbu karangnya cukup bagus, aktivitas ikannya sangat banyak, dan visibility nya cukup jelas. Awalnya saya kira warga lokal hanya mendampingi saat kami snorkeling, ternyata mereka ikut turun untuk menjaga, memperingatkan bila ada yang menginjak terumbu karang, dan juga membantu memotret di bawah air. Sektor pariwisata memang sangat menghidupi bagi warga Pulau Tidung.

Aktivitas yang selanjutnya adalah ke area water sport dengan menaiki beberapa wahana. Sebenernya saya kurang suka naik banana boat dan sebagainya, tapi sepertinya ada yang cukup menantang, maka dari itu saya coba untuk naik sofa boat. Wahana ini penumpangnya hanya cukup duduk menengadah ke atas sambil pegangan di sebuah air bag berbahan PVC  yang berbentuk oval, sementara itu boat yang di depan berjalan cepat dan melakukan manuver agar penumpangnya terjatuh ke dalam air. Sayang sekali saat naik sofa boat mbak Ika gak mau perahunya di-terbalikkan, padahal justru itulah sensasi yang dicari.

Saat naik wahana ini saya teringat waktu dulu sering melakukan operasi SAR air, jadi para rescuer tengkurap di pinggir perahu motor LCR yang berkecepatan tinggi dan “ngebor” membuat gelombang agar jenazah yang berada di dasar sungai bisa naik ke permukaan.

***

Gelap pun datang dan aroma ikan bakar sudah mulai menjalar. Itu tandanya saya harus segera menyingkir sementara dari penginapan :D  Saya ambil sepeda entah punya siapa, lalu pergi sendiri ke arah selatan dan mampirlah di sebuah warung pinggir pantai. Setelah memesan mie instan dan teh hangat saya sempatkan untuk ngobrol dengan bapak-bapak penduduk lokal yang ramah. Tak lama kemudian mie yang saya pesan pun sudah jadi, tapi tiba-tiba saja nafsu makan saya kembali hilang. Beginilah rasanya saat sakit, makanan seenak apapun akan terasa hambar. Sama seperti cinta, jika tidak dibumbui akan terasa hambar. #eaa

Sementara itu temen-temen yang lain lagi karaoke di pendopo, saya naik ke balkon atas menikmati suasana sambil menghitung berapa jumlah pesawat yang lewat malam itu. Untuk mengisi kekosongan dan melawan panas di tubuh agar suhu kembali normal, saya memutuskan untuk bersepeda keliling pulau sendiri. Tujuannya pantai di Jembatan Cinta, namun melewati jalur yang berbeda. Di perjalanan saya melewati pemakaman, pertokoan, dan kumpulan bapak-bapak yang sedang mabok sambil dangdutan. Untung saja gak ada waria yang mangkal di sini, jadi saya bisa sampai pantai dengan aman.

Jam menunjukkan pukul 23.30, Yasin datang menjemput, dan waktunya kembali untuk tidur di penginapan karena besok harus bangun lebih pagi untuk melihat sunrise.

***

Dyaaarr….

Saya bangun tidur lihat Fadhil udah gak ada di kasurnya, sementara matahari udah  sangat terang.

Syiiit….gak ada yang ngebangunin, padahal pengen motret sunrise. Ilham yang masih tertidur saya bangunkan, tapi dia gak minat untuk pergi dan memilih melanjutkan tidurnya.

Tanpa basa-basi, saya ambil peralatan dan langsung berangkat menuju Jembatan Cinta. Di parkiran saya mendapati sepeda hitam yang biasa saya pakai udah gak ada. Saya hanya berharap semoga yang memakai, “masa depannya” tidak terancam oleh kerusakan jok nya. Langsung aja saya pilih sepeda lain yang berwarna fuschia.

IMG_20160515_101121

Kalau hunting sunrise kesiangan itu ibarat orang yang telat sahur, bawaannya pengen ngacak-ngacak tong sampah. Dengan penuh sesal saya gowes sepeda melewati gang yang sudah mulai ramai oleh aktivitas turis lain.

IMG_20160515_062645-01

IMG_20160515_071653-01

Akhirnya sampai juga di Jembatan Cinta, tapi memang sudah ramai, maka dari itu saya berpikir bagaimana supaya tetap dapat foto sunrise meskipun ramai, matahari sudah tinggi, dan motret pakai ponsel. Saya coba melipir ke samping menjauhi jembatan dan mencari objek lain untuk foreground, lalu saya komposisikan melawan matahari, karena hal itu lebih baik daripada melawan orang tua.

REN_4561 REN_4569

DCIM101MEDIA

DCIM101MEDIA

IMG_20160515_065407

Setelah memotret saya lanjutkan perjalanan untuk mengeksplorasi Pulau Tidung kecil melewati jembatan yang panjangnya sekitar 800 meter. Menurut mitos yang beredar, konon (jangan dibalik) bagi yang meloncat dari jembatan Cinta ini akan dapat menemukan cinta sejatinya dengan cepat. Begitu juga yang loncat menggunakan kepala terlebih dahulu akan bisa cepat……………………cepat mati maksudnya.

IMG_20160515_074724

Di Pulau Tidung Kecil ini terdapat bangunan untuk kegiatan konservasi laut. Serta juga museum kerangka ikan paus. Entahlah paus jenis apa karena tidak ada penjelasannya dan saat itu sedang tidak ada petugasnya.

Saya ini orangnya sangat penasaran, ketika berkunjung ke suatu tempat ingin sekali bisa mengeksplor keseluruhan tempat itu mendapatkan informasi baru dan mempelajarinya langsung di alam. Ketika melihat dermaga di pulau ini cukup bagus saya memutuskan untuk ke sana. Di dermaga ini ada beton-beton pemecah ombak, dan tempatnya sangat artistik sekali, tapi sayang saya ke sini sendirian, tidak ada manusia lain, dan saya tidak membawa tripod, jadi tidak bisa membuat foto seperti yang saya ingin kan.

Tidak jauh dari beton pemecah ombak saya melihat sesuatu yang bulat dan berwarna coklat. Awalnya saya kira itu kelapa yang biasa digunakan untuk menyantet, tapi setelah saya dekati ternyata hanya sebuah bola berlogo contreng.

IMG_20160515_080832

Seperti biasa, saya ingin membuat foto portrait seperti Beckham, saat mencoba menendang bola itu ternyata sendalnya malah putus. Tapi tidak terlalu masalah, lebih baik putus sendal daripada putus hubungan.

DCIM101MEDIA

Dari dermaga perjalanan saya lanjutkan terus ke selatan sampai tiba di sebuah jalan yang telah tersusun rapi paving block berwarna merah. Sepertinya ini adalah jogging track. Sampai suatu ketika saya melihat ada semacam instalasi seperti tiang bangunan yang belum selesai dan di atasnya dipasangi ban, di bawahnya ditumbuhi ilalang. Entahlah apa itu fungsinya, yang pasti tempatnya cukup keren untuk pemotretan atau syuting ala film India. Tidak jauh dari sini ada tempat duduk yang terbuat dari beton dan ada jalur kecil setengah lingkaran yang tersusun oleh batu-batu kali. Saya bisa menebak kalau ini digunakan untuk pijat refleksi, jadi untuk melewatinya harus melepas alas kaki. Untung saja Pulau ini masih wilayah DKI Jakarta, coba kalau masuk Banten, pasti batu-batuannya sudah diganti dengan beling dan paku. Oh iya, di pulau ini juga terdapat makam Panglima Hitam, yaitu yang dipercaya sebagai orang pertama yang menginjakkan kakinya di Pulau Tidung.

DCIM101MEDIA

Tidak terasa matahari sudah meninggi dan baru sadar kalau SAYA LUPA PAKAI SUN BLOCK !!! dan kawos lengan panjang. Maka dari itu saya buru-buru menyudahi eksplorasi pulau ini dan kembali ke penginapan, karena kalau tidak kulit saya bisa hitam.

IMG_20160515_095349

Sesampainya di penginapan, saya melihat parkiran sepeda kosong melompong, ternyata semua pada ke Saung Cemara Kasih, siall, saya ketinggalan lagi gara-gara lupa pake sunblock, #ehh Saat sampai lokasi ternyata acara baru saja selesai, tak apalah yang penting saya jadi tahu tempat baru dan ternyata di sini lebih enak dan sepi, cocok untuk mendirikan tenda.

Siang itu kami pulang kembali menuju ke Jakarta. Kali ini saya memilih duduk di dalam kapal, karena lebih baik menahan kentut daripada kulit jadi hitam terpapar sinar matahari.

Sampai jumpa di liburan selanjutnya ^_^!

_________________________________________________________

*perjalanan ini didukung penuh oleh PT. Sophie Paris Indonesia dan Gramedia Printing.