img_20160815_065419-01

Punthuk Mongkrong, Destinasi Alternatif Selain Setumbu

Malam itu saat ke Jogja, saya sempatkan untuk mampir ke rumahnya Jet (@rezadiasjetrani) untuk sensus dan sedikit curhat😀 Saya bilang mau ke Punthuk Setumbu esok hari, tapi dia menyarankan lebih baik ke Punthuk Mongkrong, karena lebih bagus dan tiket masuknya pun gak semahal Setumbu. Ok baiklah, atas saran dia, saya putuskan untuk ke Punthuk Mongkrong yang lokasinya gak jauh dari Setumbu, lagipula saya udah beberapa kali ke Setumbu, mau menjajal tempat yang baru.

img-20160815-wa0028-03
Jet

Dari Jogja berangkat pukul 03.30 bersama Novi (@noviiautamii) naik motor sewaan. Saya kenal dia dari Twitternya @nebengers, dia berangkat sendirian dari Jakarta ke Jogja dan bingung mau ke mana. Kebetulan saat itu saya ada keperluan juga ke Jogja, ya sudah mending bareng aja, tapi entah kenapa dia bisa langsung percaya, padahal kan malam itu kita baru pertama ketemu. Apa dia nggak takut diculik sama saya yang berwajah syerem ini ? Itulah pertanyaan yang belum sempat saya tanyakan hingga hari ini.

DCIM101MEDIA
Novi

dsc_0259

Untuk menuju ke Punthuk Mongkrong, dari Jogja pergi ke arah Magelang, masuk kawasan Borobudur. Dari Borobudur belok kiri melewati Hotel Manohara. Setelah tiba di perempatan kecil masih lurus lagi menuju Balai Desa Giri Tengah, ikuti rambu-rambu yang ada, atau bisa juga gunakan GPS. Punthuk Mongkrong ini lokasinya lebih tinggi daripada Setumbu, maka tidak disarankan menggunakan motor matic, karena tanjakannya cukup terjal dan sempit.

Photo : Novi
Photo : Novi

Saat sampai di lokasi, ternyata sudah ada beberapa orang, tidak begitu ramai karena hari itu adalah hari Senin. Punthuk Mongkrong ini merupakan salah satu spot terbaik untuk memotret sunrise. Tapi sayang saat itu matahari tampaknya enggan menampakkan wujud sempurnanya karena terhalang kabut. Dalam memotret pemandangan itu, pertanyaannya bukanlah “Bagaimana caranya ?” tetapi “Kapan waktu terbaik ?”. Jadi meskipun kita memotret di lokasi yang sama bisa mendapatkan hasil dan mood yang berbeda, tergantung kapan kita datangnya.
img_20160815_063239-01img_20160815_061138

Di spot ini terdapat jembatan bambu yang berbentuk V, sangat bagus sekali, dan dapat dinaiki maksimal 3 orang. Selain itu juga lokasi ini disediakan jembatan gantung dan gardu pandang di pohon. Bila kita geser sedikit ke arah utara maka akan terlihat gunung Sindoro dan Sumbing. Gunung Merapi dan Merbabu pun terlihat jelas di balik awan. Oh iya, di lokasi ini juga terdapat batu yang dibuat untuk mengenang sejarah Pangeran Diponegoro dan pasukannya yang pernah beristirahat di sini.

img-20160815-wa0006-01

DCIM101MEDIA

Sebenarnya di kawasan ini ada spot lain yaitu Punthuk Sukmojoyo dan Pos Mati, tapi sayang saat itu matahari mulai meninggi yang menandakan saya harus turun dan berteduh agar kulit saya tidak menghitam😀

DCIM101MEDIA

Liburan “endoll” ke Pulau Pramuka

BANGKE !!!

Itulah kata yang pertama terlintas dan terucap dari mulut ketika turun dari mobil dan menjejakkan di wilayah ini. Karena macet, pagi itu kami terpaksa jalan kaki sekitar 200 meter ke pintu Pelabuhan Muara Angke Jakarta Utara. Bagi saya 200 meter itu tidak jauh, tapi masalahnya adalah kita harus melewati jalan yang sangat bau sampah dan menghindari genangan air kotor. Hari itu tidak turun hujan tapi air comberan hitam pekat yang sejajar dengan jalan sudah meluber ke mana-mana, bagaimana kalau hujan, mungkin airnya bisa terminum, hooeekss.

img_20160827_064824

img_20160827_065514

img_20160827_065010

Saya gak habis pikir, banyak juga pedagang yang berjualan makanan di sini, padahal untuk bernapas mencari udara normal pun sulit. Wajar saja, jika warga sini masih membeli air bersih untuk keperluan, minum, mandi, dan mencuci. Selama perjalanan menuju pelabuhan saya selalu mengumpat dalam hati, mengapa sampah-sampah di sini berserakan dan dibiarkan menggunung, membuat saluran air mampet sehingga mengeluarkan semerbak wangi comberan. Padahal, jalur ini adalah salah satu akses menuju Kepulauan Seribu, destinasi wisata yang keren di Jakarta.

Dengan penuh rasa jijik, saya berusaha menghindari cipratan air comberan dan menutup hidung menggunakan masker agar baunya tidak meresap ke dalam kalbu. Sebenarnya dulu saya sering melakukan evakuasi jenazah, baik yang masih fresh maupun sudah membusuk, tapi biasa aja. Tapi entah kenapa ketika melewati jalur ini rasanya ingin muntah. Hal itu ditambah pula dengan kelakuan para tukang ojeg yang menawarkan jasa sambil melawan arus dan berhenti di tengah-tengah jalan sehingga membuat kemacetan. Rasanya pengen menyuruh mereka semua push up di atas air kotor tersebut.

DCIM101MEDIA

Sementara itu, Ilham dan Rita sudah menunggu di pelabuhan. Kali ini Ilham yang menjadi tour leadernya, dia yang mengurus semuanya. Jadi hari itu yang berangkat berjumlah 8 orang yaitu, Yasin, Rahman, Rina, Mbak Nur, Sofyan, dan saya. Di liburan ini saya dipaksa untuk ikut oleh gank “Endol” nan shyangkraayy. Katanya, kalau saya gak ikut bakal “dipake” sama mereka. Ya sudahlah saya nurut, daripada masa depan terancam -_-

Di pelabuhan ini kapal “Srikandi” telah bersiap mengantarkan kami ke Pulau Pramuka. Ini adalah kali kedua saya traveling ke wilayah Kepulauan Seribu (Kepulauan loh yaa, bukan Pulau). Sebelumnya saya sudah pernah pergi ke Pulau Tidung, tapi menggunakan kapal cepat via Marina Ancol. Namun kali ini saya menggunakan armada yang lebih murah yaitu kapal tradisional yang terbuat dari kayu, dan memakan waktu perjalanan sekitar 3 jam menuju Pulau Pramuka.

Hamil

img_20160827_110949

Setelah terombang-ambing di lautan, akhirnya sampai di Pulau Pramuka pada pukul 11.09 WIB. Pulau ini merupakan pusat pemerintahan dari wilayah Kepulauan Seribu. Dinamakan “Pulau Pramuka” konon (jangan dibalik)  katanya dahulu dijadikan tempat Jambore Nasional Pramuka untuk pertama kalinya. Selain itu juga pulau ini disebut juga “Cyber Island” karena satu-satunya pulau di wilayah Kep.Seribu yang memiliki akses internet.

bpro0602_1472390396460

img-20160827-wa0006

Sehabis makan siang, kami lalu bergegas menuju Pulau Gosong menggunakan perahu kecil. Di pulau ini tidak terdapat apa-apa, hanya pasir putih yang timbul saat surut saja, maka dari itu kami tidak lama berada di sini karena harus menuju ke Pulau Karang Congkak sebelum gelap.

DCIM101MEDIA

Dari kejauhan saya melihat “zona hujan” yaitu suatu area yang sedang turun hujan, dan area tersebut searah dengan jalur menuju Pulau Karang Congkak. Untuk menyingkat waktu perjalanan, sang pengemudi perahu menerobos zona itu daripada harus memutar, jadi kita sempat dibuat sibuk untuk menutupi tas dan barang-barang lainnya menggunakan plastik agar tidak basah.

DCIM101MEDIA

Pulau Karang Congkak adalah pulau kecil yang ukurannya sekitar 1,5 lapangan sepakbola. Di pulau ini tidak ada penghuninya, dan juga tidak ada air tawar, maka dari itu sebaiknya dari Pulau Pramuka membawa air 1 galon untuk memasak atau membilas agar selangkangan tidak lengket dan gatal.

Di pulau ini juga tidak terdapat dermaga, sehingga harus nyemplung untuk memindahkan barang-barang dari perahu ke pulau. Tanpa berpikir lama, kami segera mendirikan tenda, karena dikhawatirkan akan turun hujan. Sementara yang cowok mendirikan tenda, kaum cewek bertugas untuk memasak.

14188177_10154394952480279_5366103618261038122_o

pano_20160828_072616

Ada satu hal yang menurut saya sangat konyol sekali. Rina sepertinya jarang ikut camping ceria di alam bebas, sehingga dia terlihat bingung dan tidak biasa pada situasi seperti ini. Setelah semua tenda berhasil didirikan, dia bertanya.

“Nurbani, hhmm…ada keset gak ?” tanyanya pada Mbak Nur.

Mbak Nur yang orangnya cablak langsung saja merespon.

“Eh, kalian denger gak Rina ngomong apa ?” tanyanya pada semua orang.

“Dia nanyain KESET !”

Sekejap saja semua orang langsung tertawa karena berpikir buat apa bawa-bawa keset untuk camping di tengah pulau kecil tak berpenghuni.

Memang, menurut orang-orang dia mengidap sindrom “Jijikan”, jadi dia gampang jijik sama sesuatu yang menurut dia kotor dan berkuman. Contohnya aja dia gak mau makan pakai piring yang habis dilap pakai tangannya Yasin, padahal piring itu bersih habis dicuci. Wahh, repot juga yah bawa peserta seperti itu untuk kegiatan alam bebas, harus ikut diksar dan sering-sering disuruh push up biar terbiasa.

img-20160827-wa0002 14107639_10154397021515279_8960662403368134388_o

Pantai memang tempat yang cocok untuk bersantai dan bermalas-malasan. Sore itu di pulau ini kami isi dengan bersantai sambil menikmati sunset dan diiringi musik nan syahdu. Rasanya tenang sekali ada di pulau kecil ini, berasa lagi survival tapi piknik mengasingkan diri dari kepenatan ibu kota. Suasana itu terasa cepat sekali karena hari sudah semakin gelap dan waktunya kami mempersiapkan hidangan malam.

14125572_10154395304500279_6667653641077649170_o

Suatu ketika saya tidak sengaja lewat belakang tenda dan melihat bayangan perempuan sedang ganti baju di dalamnya. Ternyata itu lagi-lagi ulahnya Rina. Langsung saja saya peringatkan. Sebagai pelajaran saja nihh, kalau ganti baju di dalam tenda jangan menyalakan lampu atau senter, karena lekuk badanmu akan keliatan dari luar apalagi kalau sambil berdiri, bagi kaum cowok pasti akan keliatan gondal-gandul.

Pernah lihat pertunjukan wayang kulit dari balik layar ? Nahh, konsepnya sama seperti itu, jadi cahayanya akan membentuk siluet badan kamu. Makanya kalau ganti baju di dalam tenda, usahakan tanpa penerangan, dan ganti celananya cukup sambil duduk saja. Pernah beberapa kali saya mendapati hal seperti ini, dan buat saya ibarat nonton wayang gratis. Tapi kalau cowok ya gak bakal saya tonton lahh. Masa’ jeruk makan jeruk.

Malam pun semakin gelap. Seketika saja Ilham berinisiatif untuk mengadakan sesi curhat, lebih tepatnya mengungkapkan impian. Banyak sekali impian temen-temen yang ingin segera terealisasikan di sini, seperti Mbak Nur & Sofyan yang ingin sekali punya anak, Rahman yang ingin hijrah supaya tidak cerewet, Rina yang gak pengen jijikan lagi, dan Rita yang ingin dapet jodoh dan jalan-jalan ke Jepang entah sama siapa.

Kontemplasi memang diperlukan di momen seperti ini, karena dari situlah kita bisa dengan tenang instropeksi diri, bercermin pada masa lalu, dan berpikir untuk merancang rencana ke depannya. Katanya sih, doanya orang-orang “terdampar” akan cepat dikabulkan😀

img_20160827_220936 img_20160827_220053

Sebagai penutup, malam itu kami menerbangkan lampion, seperti ritual di Borobudur saat perayaan Waisak. Setelah semuanya tertidur dan memastikan semuanya kondisi aman, saya tidur sendiri di dalam tenda. Maklumlah, masih single, apa-apa sendiri.

img_20160827_171732

Pagi pun datang menyambut bersama pelangi di balik pulau. Saya pun terbangun terakhir, yaa wajarlahh, kan tadi udah dibilangin kalo saya single.

Tidak banyak waktu kami pagi itu, karena harus segera kembali menuju Pulau Pramuka. Untungnya di pulau ini sinyal telepon dan internet cukup bagus, sehingga bisa update instagram, meskipun gak ada yang whatsapp, kan udah tau jawabannya.

img_20160828_071820_1472428861481

DCIM101MEDIA
DCIM101MEDIA

Sambil menuju ke Pulau Pramuka, kami sempatkan dulu mampir sejenak ke penangkaran hiu. Setelah itu kami lanjutkan untuk mandi di Pulau Pramuka.

DCIM101MEDIA
DCIM101MEDIA

Penangkaran Penyu 

dsc_0558

Di Pulau Pramuka ini ternyata terdapat tempat penangkaran penyu dari Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu. Tempat ini dirintis oleh pak Salim yang dulunya adalah seorang pemburu dan penjual penyu sisik (Eretmochelys imbricate). Untuk “menebus dosa” masa lalunya itu beliau kini justru menjadi aktivis melindungi dan melestarikan penyu tersebut dan menanam mangrove di sekitar kawasan Pulau Pramuka.

dsc_0550 dsc_0553

Atas jasa-jasanya tersebut, pemerintah memberikan berbagai penghargaan di bidang lingkungan dan memberikan bantuan untuk pelestarian penyu. Meskipun begitu, pemberian bantuan dari pemerintah kurang mencukupi, karena harga ikan yang semakin mahal, sehingga Pak Salim harus memutar otak agar kebutuhannya dalam pelestarian penyu dapat terpenuhi. Maka dari itu kepada para pengunjung Rumah Penyu diharapkan sumbangannya secara sukarela dan dimasukkan ke dalam kotak yang telah disediakan. Dengan begitu kita turut membantu dalam pelestarian penyu sisik ini.

dsc_0555

Oh iya, selain tempat menetaskan telur-telur penyu, Rumah Penyu ini juga merawat penyu-penyu yang sakit. Cara membedakan penyu yang sakit dan sehat cukup mudah, yaitu bila penyunya mengapung terus dan tidak bisa tenggelam ke dasar berarti penyunya sedang sakit. Bila penyunya berenang dengan cara terlentang berarti dia banyak tingkah😀

Tidak terasa jam hampir menunjukkan pukul 12.00 WIB, saya harus bergegas menyusul temen-temen lainnya ke kapal Srikandi untuk kembali ke Jakarta. Saat di kapal saya baru ingat ternyata nanti kita terpaksa harus turun lagi melalui pelabuhan Muara Angke yang super bau itu.

“Aaarrgghh….kalo bisa milih, saya mending turun di Marina aja yang gak bechyekk !!!”.

 

Estimasi Biaya :

  1. Kapal : Rp 45.000
  2. Bayar peron : Rp 2.000
  3. Sewa perahu + snorkling : Rp 600.000
  4. Dana kebersihan pulau : Rp 25.000
BPRO0482-01

Hammocking di Pulau Tangkil

Tak terasa sudah 2 jam lebih kami menyusuri jalan yang hancur parah menuju kota Bandar Lampung. Selepas dari Way Kambas, kami mengambil jalan tembus dari pertigaan yang sebelumnya kita lewati.  Saya pilih jalan itu karena menurut Google Map aksesnya lebih dekat daripada harus memutar dulu ke utara.

BPRO0431

Hari semakin gelap, jalan hancur tak kunjung usai. Karena sudah terlanjur, kami harus terpaksa ber”off road” menggunakan motor matic ini. Kali ini giliran Iqbal yang menyetir, dan saya selalu waspada mengamati jikalau ada ancaman yang datang. Maklum, sepanjang jalan ini minim sekali penerangan, karena melewati jalan panjang yang kanan kirinya berupa kebun dan semak belukar. Ternyata di jalan ini rawan sekali pembegalan, bahkan untuk mengebut atau teriak minta tolong pun rasanya percuma.

Sejenak kami berhenti di sebuah perkampungan untuk memastikan bahwa jalan yang kami pilih itu bukan jalan yang salah. Jam sudah menunjukkan pukul 21.00 tapi kota yang kita tuju belum juga sampai. Hal ini membuat kami frustasi dan emosi, dan sempat juga berpikiran untuk mencari penginapan atau masjid karena sudah terlalu lelah berkendara. Setelah yakin dengan jarak di peta digital, akhirnya kami paksakan untuk melanjutkan perjalanan. Sekitar 30 menit kemudian kami sampai juga di kota Bandar Lampung.  Target selanjutnya adalah mencari penginapan.

20160710_113050

Setelah searching di aplikasi booking online akhirnya saya pilih Guest House Palapa yang letaknya sekitar 50 meter dari Bundaran Gajah. Awalnya saya mengira penginapannya sudah tutup, karena tidak ada tanda-tanda kehidupan. Setelah saya telusuri ternyata pintu masuk lobinya berada di dalam gang sebelahnya, jadi penginapannya berada di lantai 2. Tempat ini cocok sekali buat backpacker, karena tarifnya murah. Untuk 1 kamar berdua dikenakan tarif Rp 200.000 per malamnya. Fasilitas yang didapatkan berupa kamar bersih, nyaman, ber-AC, ada televisi, wifi, dan sarapan. Tapi sayangnya di dalam kamarnya tidak ada kamar mandinya. Jadi jika ingin mandi, e’ek, atau pipis, harus ke kamar mandi di luar. Tapi jangan khawatir, karena kamar mandinya bagus, bersih, dan bisa buat selfie. Oh iya, buat yang mau indehoy, nonton bokep, ngegosip, dll, di penginapan ini bukanlah tempat yang tepat, karena dinding kamarnya bukan terbuat dari beton, tapi dari kayu/triplek tebal, jadi suara mu bisa terdengar ke kamar sebelah.

Esok paginya pukul 09.00 kami segera check out karena harus melanjutkan perjalanan. Kali ini kami blank sama sekali belum tau mau ke mana. Akhirnya salah seorang penjaga penginapan memerikan referensi, yaitu Panti Mutun yang letaknya sekitar 14 km dari sini. Dari pantai tersebut bisa juga menyeberang ke Pulau Tangkil menggunakan perahu.

BPRO0444

Setelah sampai lokasi, ternyata di sini telah ramai pengunjung, maklum hari terakhir libur lebaran. Menurutku pantainya cukup bagus dan airnya pun bersih. Tidak jauh dari pantai ini terlihat jelas Pulau Tangkil. Karena penasaran akhirnya kami mencoba ke sana dengan menyewa perahu dengan tarif Rp 60.000 untuk berdua. Sampai di pulau ini ternyata harus membayar retribusi lagi Rp 5.000. Awalnya kami bingung mau ke mana dan ngapain, karena di sini ternyata juga ramai. Akhirnya saya menelusuri sebuah jalan setapak dan melewati semak-semak, sampai tibalah di tempat berbatu dan di dekatnya terdapat tiang kayu bekas ayunan sepeti di Gili Trawangan – Lombok.

BPRO0482-01

Tanpa basa-basi saya langsung memasang hammock di tiang tersebut untuk bersantai menikmati suasana, sekaligus mengetes kekuatan hammock yang belum pernah saya pakai, karena menurut penjualnya bisa menahan berat maksimal 300 kg. Saya cukup beruntung mengeksplor hingga sampai sini, karena tempatnya bagus dan juga sepi. Namun sayang, tidak lama kemudian hujan pun turun dan memaksa kami untuk mengevakuasi barang-barang dan mencari tempat berteduh, padahal tadi ada mbak-mbak yang mau ikut santai di hammock, siapa tau dia minta dipangku sambil dibacain cerita. Ya sudahlah…akhirnya hujan pun membuyarkan impian anehku tersebut.