IMG_20160515_062339

Melepas Kepenatan Kantor di Pulau Tidung

“Hidup bukan hanya cari uang, ada saatnya bersenang-senang”.

Sepenggal lirik lagu “Lagi Males Kerja” dari Endank Soekamti memang benar dan selalu terngiang di otak saya. Ada kalanya kita butuh liburan, melepas kepenatan dari rutinitas kantor yang padat dan serius. Karena liburan/piknik/plesir atau apalah semacamnya dapat menyegarkan pikiran dan mendongkrak semangat baru dalam beraktivitas.

Daaan…akhirnya hari yang diharapkan pun tiba. Di hari inilah saya dan rekan-rekan sekantor liburan bareng ke Pulau Tidung. Pulau kecil ini berada di Kepulauan Seribu dan masih termasuk wilayah DKI Jakarta. Di sinilah waktunya untuk bermain, bersenang-senang, bercanda sepuasnya, tanpa memikirkan deadline, revisi, cek warna, layout, desain, reshoot, dan sebagainya.

Sabtu pagi itu sekitar pukul 7.30 kami sudah tiba di Marina Ancol untuk menunggu kapal yang akan membawa kami ke Pulau Tidung. Untuk menuju ke Kepulauan Seribu, dari Jakarta bisa juga melalui Pelabuhan Muara Angke, namun di situ menggunakan perahu tradisional, sedangkan untuk speedboat melalui Marina. Ternyata saat sampai di Marina sudah ramai sekali, tampak seperti suasana mudik lebaran. Setelah mengantri lama, akhirnya kapal kami yang bernama “Pramuka Express” datang juga.

IMG_20160514_083654

Kapal yang kami naiki ini sejenis kapal cepat/speedboat. Inilah kali pertama saya menaiki speedboat untuk penyeberangan ke pulau lain, karena saya biasanya menaiki kapal nelayan tradisional yang terbuat dari kayu.

Dengan menggunakan speedboat, perjalanan dari Jakarta ke Pulau Tidung ditempuh sekitar 1.5 jam, namun jika menggunakan kapal tradisional biasa bisa sampai 3.5 jam lamanya.

Setelah 1 jam perjalanan di dalam kapal, tiba-tiba perut saya kembali bergejolak, seperti ada bayi yang nendang-nendang, bukan ingin muntah, tapi hanya ingin kentut dan berharap tidak keluar ampasnya. Memang, sehari sebelumnya saya sedang M (mencret). Sudah 3 kali saya tahan kentut selama di kapal, karena kalau saya lepaskan, khawatir orang-orang memilih menyeburkan diri ke laut. Maka dari itu di saat yang ke-4 saya mengalah dan keluar menuju dek atas untuk melepaskan angan-angan bersama angin laut.

Saat pindah ke dek atas, saya ditempatkan di samping kanan pak Nahkoda. Baru sebentar saya duduk, Fadhil tiba-tiba datang menghampiri saat  kapal sedang melaju. Langsung saja nahkoda yang berpenampilan seperti pensiunan tentara tersebut menyuruhnya untuk duduk kembali. Untung saja dia tidak disuruh push up. Penumpang yang berada di bagian atas memang dilarang berdiri saat kapal sedang melaju, karena dikhawatirkan akan jatuh terpental oleh guncangan dan angin.

Salah satu enaknya duduk di bagian atas kita bebas melihat pemandangan dan bebas boleh kentut. Tapi bagi yang tidak suka kepanasan dan rawan masuk angin, lebih baik duduk di bagian dalam yang lebih aman dan nyaman.

Pada pukul 10.45, kapal sudah sampai di dermaga Pulau Tidung. Untuk menuju ke Hotel Nirwana masih harus jalan kaki sekitar 15 menit. Saat baru pertama menjejakkan kaki di pulau ini saya cukup takjub, karena kondisinya seperti perkampungan di P. Jawa. Di Pulau Tidung ini meskipun kecil tapi ada sekolah, hotel, kantor polisi, puskesmas, bahkan kantor Lurah dan Camatnya pun bagus dan besar. Listrik dan sinyal telepon pun sangat lancar sekali di sini.

Nama Pulau Tidung sendiri sebenarnya diambil dari suku Tidung di Kalimantan Timur. Hal ini dibuktikan dengan adanya makam Raja Pandita yang mendiami di pulau ini sejak tahun 1892.

DCIM101MEDIA

DCIM101MEDIA

Setelah check in di Hotel Nirwana, kami menuju dermaga menggunakan sepeda. Di pulau ini memang banyak disewakan sepeda “perempuan”, karena memiliki keranjang di depannya yang bisa digunakan untuk menaruh barang. Setelah mencari akhirnya saya mendapatkan sepeda berwarna hitam satu-satunya, yaa paling tidak itu mengurangi kesan perempuan dari sepedanya. Saat beberapa meter berjalan ada sesuatu yang mengganjal dan gak mengenakkan. Ternyata jok sepeda yang saya naiki itu besinya sedikit keluar dan menonjol, alamat ini bisa membahayakan bagi masa depan saya, apalagi kalau saat salah rotasi dan melewati polisi tidur, wahh…bisa dibayangkan deh gimana ngilunya.

DCIM101MEDIA

Jarak dari penginapan ke dermaga jembatan cinta sekitar 3 km. Meskipun jalannya hanya tinggal lurus, tapi tetap harus berhati-hati, karena jalannya berupa gang sempit tapi ramai dengan lalu lalang kendaraan seperti sepeda dan becak motor, belum lagi anak-anak yang sering menyeberang tanpa lihat kanan kiri.

DCIM101MEDIA

Dari dermaga perjalanan dilanjutkan menuju spot snorkeling menggunakan perahu nelayan. Di spot ini terumbu karangnya cukup bagus, aktivitas ikannya sangat banyak, dan visibility nya cukup jelas. Awalnya saya kira warga lokal hanya mendampingi saat kami snorkeling, ternyata mereka ikut turun untuk menjaga, memperingatkan bila ada yang menginjak terumbu karang, dan juga membantu memotret di bawah air. Sektor pariwisata memang sangat menghidupi bagi warga Pulau Tidung.

Aktivitas yang selanjutnya adalah ke area water sport dengan menaiki beberapa wahana. Sebenernya saya kurang suka naik banana boat dan sebagainya, tapi sepertinya ada yang cukup menantang, maka dari itu saya coba untuk naik sofa boat. Wahana ini penumpangnya hanya cukup duduk menengadah ke atas sambil pegangan di sebuah air bag berbahan PVC  yang berbentuk oval, sementara itu boat yang di depan berjalan cepat dan melakukan manuver agar penumpangnya terjatuh ke dalam air. Sayang sekali saat naik sofa boat mbak Ika gak mau perahunya di-terbalikkan, padahal justru itulah sensasi yang dicari.

Saat naik wahana ini saya teringat waktu dulu sering melakukan operasi SAR air, jadi para rescuer tengkurap di pinggir perahu motor LCR yang berkecepatan tinggi dan “ngebor” membuat gelombang agar jenazah yang berada di dasar sungai bisa naik ke permukaan.

***

Gelap pun datang dan aroma ikan bakar sudah mulai menjalar. Itu tandanya saya harus segera menyingkir sementara dari penginapan :D  Saya ambil sepeda entah punya siapa, lalu pergi sendiri ke arah selatan dan mampirlah di sebuah warung pinggir pantai. Setelah memesan mie instan dan teh hangat saya sempatkan untuk ngobrol dengan bapak-bapak penduduk lokal yang ramah. Tak lama kemudian mie yang saya pesan pun sudah jadi, tapi tiba-tiba saja nafsu makan saya kembali hilang. Beginilah rasanya saat sakit, makanan seenak apapun akan terasa hambar. Sama seperti cinta, jika tidak dibumbui akan terasa hambar. #eaa

Sementara itu temen-temen yang lain lagi karaoke di pendopo, saya naik ke balkon atas menikmati suasana sambil menghitung berapa jumlah pesawat yang lewat malam itu. Untuk mengisi kekosongan dan melawan panas di tubuh agar suhu kembali normal, saya memutuskan untuk bersepeda keliling pulau sendiri. Tujuannya pantai di Jembatan Cinta, namun melewati jalur yang berbeda. Di perjalanan saya melewati pemakaman, pertokoan, dan kumpulan bapak-bapak yang sedang mabok sambil dangdutan. Untung saja gak ada waria yang mangkal di sini, jadi saya bisa sampai pantai dengan aman.

Jam menunjukkan pukul 23.30, Yasin datang menjemput, dan waktunya kembali untuk tidur di penginapan karena besok harus bangun lebih pagi untuk melihat sunrise.

***

Dyaaarr….

Saya bangun tidur lihat Fadhil udah gak ada di kasurnya, sementara matahari udah  sangat terang.

Syiiit….gak ada yang ngebangunin, padahal pengen motret sunrise. Ilham yang masih tertidur saya bangunkan, tapi dia gak minat untuk pergi dan memilih melanjutkan tidurnya.

Tanpa basa-basi, saya ambil peralatan dan langsung berangkat menuju Jembatan Cinta. Di parkiran saya mendapati sepeda hitam yang biasa saya pakai udah gak ada. Saya hanya berharap semoga yang memakai, “masa depannya” tidak terancam oleh kerusakan jok nya. Langsung aja saya pilih sepeda lain yang berwarna fuschia.

IMG_20160515_101121

Kalau hunting sunrise kesiangan itu ibarat orang yang telat sahur, bawaannya pengen ngacak-ngacak tong sampah. Dengan penuh sesal saya gowes sepeda melewati gang yang sudah mulai ramai oleh aktivitas turis lain.

IMG_20160515_062645-01

IMG_20160515_071653-01

Akhirnya sampai juga di Jembatan Cinta, tapi memang sudah ramai, maka dari itu saya berpikir bagaimana supaya tetap dapat foto sunrise meskipun ramai, matahari sudah tinggi, dan motret pakai ponsel. Saya coba melipir ke samping menjauhi jembatan dan mencari objek lain untuk foreground, lalu saya komposisikan melawan matahari, karena hal itu lebih baik daripada melawan orang tua.

REN_4561 REN_4569

DCIM101MEDIA

DCIM101MEDIA

IMG_20160515_065407

Setelah memotret saya lanjutkan perjalanan untuk mengeksplorasi Pulau Tidung kecil melewati jembatan yang panjangnya sekitar 800 meter. Menurut mitos yang beredar, konon (jangan dibalik) bagi yang meloncat dari jembatan Cinta ini akan dapat menemukan cinta sejatinya dengan cepat. Begitu juga yang loncat menggunakan kepala terlebih dahulu akan bisa cepat……………………cepat mati maksudnya.

IMG_20160515_074724

Di Pulau Tidung Kecil ini terdapat bangunan untuk kegiatan konservasi laut. Serta juga museum kerangka ikan paus. Entahlah paus jenis apa karena tidak ada penjelasannya dan saat itu sedang tidak ada petugasnya.

Saya ini orangnya sangat penasaran, ketika berkunjung ke suatu tempat ingin sekali bisa mengeksplor keseluruhan tempat itu mendapatkan informasi baru dan mempelajarinya langsung di alam. Ketika melihat dermaga di pulau ini cukup bagus saya memutuskan untuk ke sana. Di dermaga ini ada beton-beton pemecah ombak, dan tempatnya sangat artistik sekali, tapi sayang saya ke sini sendirian, tidak ada manusia lain, dan saya tidak membawa tripod, jadi tidak bisa membuat foto seperti yang saya ingin kan.

Tidak jauh dari beton pemecah ombak saya melihat sesuatu yang bulat dan berwarna coklat. Awalnya saya kira itu kelapa yang biasa digunakan untuk menyantet, tapi setelah saya dekati ternyata hanya sebuah bola berlogo contreng.

IMG_20160515_080832

Seperti biasa, saya ingin membuat foto portrait seperti Beckham, saat mencoba menendang bola itu ternyata sendalnya malah putus. Tapi tidak terlalu masalah, lebih baik putus sendal daripada putus hubungan.

DCIM101MEDIA

Dari dermaga perjalanan saya lanjutkan terus ke selatan sampai tiba di sebuah jalan yang telah tersusun rapi paving block berwarna merah. Sepertinya ini adalah jogging track. Sampai suatu ketika saya melihat ada semacam instalasi seperti tiang bangunan yang belum selesai dan di atasnya dipasangi ban, di bawahnya ditumbuhi ilalang. Entahlah apa itu fungsinya, yang pasti tempatnya cukup keren untuk pemotretan atau syuting ala film India. Tidak jauh dari sini ada tempat duduk yang terbuat dari beton dan ada jalur kecil setengah lingkaran yang tersusun oleh batu-batu kali. Saya bisa menebak kalau ini digunakan untuk pijat refleksi, jadi untuk melewatinya harus melepas alas kaki. Untung saja Pulau ini masih wilayah DKI Jakarta, coba kalau masuk Banten, pasti batu-batuannya sudah diganti dengan beling dan paku. Oh iya, di pulau ini juga terdapat makam Panglima Hitam, yaitu yang dipercaya sebagai orang pertama yang menginjakkan kakinya di Pulau Tidung.

DCIM101MEDIA

Tidak terasa matahari sudah meninggi dan baru sadar kalau SAYA LUPA PAKAI SUN BLOCK !!! dan kawos lengan panjang. Maka dari itu saya buru-buru menyudahi eksplorasi pulau ini dan kembali ke penginapan, karena kalau tidak kulit saya bisa hitam.

IMG_20160515_095349

Sesampainya di penginapan, saya melihat parkiran sepeda kosong melompong, ternyata semua pada ke Saung Cemara Kasih, siall, saya ketinggalan lagi gara-gara lupa pake sunblock, #ehh Saat sampai lokasi ternyata acara baru saja selesai, tak apalah yang penting saya jadi tahu tempat baru dan ternyata di sini lebih enak dan sepi, cocok untuk mendirikan tenda.

Siang itu kami pulang kembali menuju ke Jakarta. Kali ini saya memilih duduk di dalam kapal, karena lebih baik menahan kentut daripada kulit jadi hitam terpapar sinar matahari.

Sampai jumpa di liburan selanjutnya ^_^!

_________________________________________________________

*perjalanan ini didukung penuh oleh PT. Sophie Paris Indonesia dan Gramedia Printing.

DSC_0174

Mendaki Sang Anak Gunung Krakatau

Malam itu, 24/4/2016 sekitar pukul 00.00 kami dibangunkan oleh Bacin yang masuk ke dalam villa ex. Green Garden Anyer sambil teriak-teriak menggunakan megaphone. Setelah pikiran sadar penuh dan packing ulang barang-barang, saya bergegas menuju keluar. Dari kejauhan masih tampak kilatan-kilatan petir yang menyambar dan juga hujan yang turun di tengah laut. Saya pun teringat akan kisah letusan Gunung Krakatau yang maha dahsyat.

Ada suara guntur yang menggelegar berasal dari Gunung Batuwara. Ada pula goncangan bumi yang menakutkan, kegelapan total, petir dan kilat. Kemudian datanglah badai angin dan hujan yang mengerikan dan seluruh badai menggelapkan seluruh dunia. Sebuah banjir besar datang dari Gunung Batuwara dan mengalir ke timur menuju Gunung Kamula…. Ketika air menenggelamkannya, pulau Jawa terpisah menjadi dua, menciptakan pulau Sumatera.

Yapp, catatan dari teks Jawa Kuno mengenai letusan Gunung Krakatau Purba menghantui pikiran saya malam itu. Ada rasa takut saat mengikuti perjalanan ini, karena inilah kali pertama saya berlayar tengah malam menuju suatu pulau yang cukup berbahaya.

Ketakutan saya semakin bertambah saat briefing Adit bilang bahwa jumlah pelampung yang tersedia kurang mencukupi dengan jumlah peserta yang ikut. Jadi, orang-orang yang pintar berenang harus mengalah untuk tidak menggunakan pelampung. Dalam hati saya berharap semoga para peserta yang ikut banyak yang mahir berenang, sehingga saya bisa memakai banyak pelampung saat darurat.

Sekitar pukul 02.00 kami mulai menyeberang ke Anak Gunung Krakatau menggunakan 3 kapal nelayan. Perjalanan dari Anyer ditempuh dalam waktu 3 jam. Selama perjalanan saya sempatkan untuk tidur untuk memulihkan tenaga. Suatu ketika gelombang semakin besar dan air laut masuk ke dalam kapal sehingga membuat saya terbangun karena jeketnya basah.

Setelah semalaman terombang-ambing di lautan, pada pukul 04.53, kapal kami sudah memasuki kepulauan Krakatau. Terlihat Pulau Panjang yang seolah-olah semakin mendekat, dan di baliknya ada Anak Gunung Krakatau yang perlahan-lahan mulai terlihat.

DSC_0027DSC_0051

Lega rasanya bisa menemukan pulau ini. Tapi sayangnya butuh waktu lama untuk kapal menepi ke daratan, karena tidak adanya dermaga, sehingga membuat para awak kewalahan untuk menahan kapalnya agar tidak terseret arus. Padahal ini sudah lama sekali, tapi entah kenapa tidak dibangun dermaga untuk memudahkan  berlabuh kapal-kapal kecil.

DSC_0049DSC_0053

Di Pulau ini terdapat sebuah pos penjagaan yang dijaga oleh Polisi Hutan. Semua yang berkunjung harus melapor terlebih dahulu karena memasuki kawasan Cagar Alam yang dilindungi.

DSC_0055

Setelah Adit melakukan registrasi dan laporan kepada Polhut, saya berharap Polhut tersebut mendampingi dan memandu kami selama di gunung ini, tapi ternyata setelah ditunggu-tunggu orangnya gak datang juga. Akhirnya dengan rasa kesal kami mulai naik dan mencari tahu sendiri informasi tentang gunungnya tersebut. Padahal kami sudah membayar cukup mahal.

DSC_0052DSC_0060

Biasanya kita mendaki gunung dari titik awalnya rata-rata sudah berada di ketinggian 1000 mdpl (Meter Di Atas Permukaan Laut). Namun tidak dengan Anak Gunung Krakatau, inilah salah satu keistimewaannya, gunung ini didaki mulai dari ketinggian 0 mdpl, karena memang letaknya di tengah laut.

DSC_0103

Perjalanan pertama diawali dengan menembus hutan dan hamparan pasir hitam, tidak lama kemudian sudah mencapai batas vegetasi. Jarak dari pantai ke punggungan gunung dapat dicapai sekitar 20 menit. Setelah melewati batas vegetasi jalur sudah semakin menanjak melewati pasir dan berbatu, mirip sekali dengan Semeru. Tapi jalur gunung ini masih sangat aman, meskipun begitu tetap disarankan untuk memakai sepatu gunung.

Di sini seperti biasanya saya berjalan sendiri, sementara temen-temen satu kelompok sudah pada naik duluan. Saya memang ingin mengamati lebih lama proses pendakiannya, dan juga membayangkan bagaimana sejarah letusan yang dahsyat pada masa lalu. Alam raya memang tempat belajar paling terbaik, karena di sinilah kita bisa mengetahui keadaan yang sebenarnya terjadi, tentang sebab-akibat, dan lainnya.

DSC_0068

Saat sampai pertengahan jalan saya bertemu dengan Riska yang sedang duduk manyun sambil merapikan make up nya. Dia tampak kelelahan dan sudah menyatakan menyerah ingin turun kembali. Dari penampilannya sih dia memang salah kostum untuk mendaki gunung ini. Yaaa, seperti biasa, jika ketemu orang yang menyerah saya selalu memberinya minum, lalu menyuruhnya untuk push-up. Berhubung dia gak mau push up, maka saya tarik paksa menggunakan webbing agar bisa sampai puncak dan gak melarikan diri ke bawah.

IMG-20160425-WA0002-01DSC_0073

Setelah perjuangan menarik kambing Riska, akhirnya sampai juga di punggungan gunung. Sayang sekali….di sinilah batas aman pendakiannya yang diperbolehkan. Semenjak tahun 2011 tidak diperkenankan lagi untuk mendaki sampai puncak kawahnya, karena jalurnya sangat miring dan juga adanya bahaya gas beracun.

DSC_0091

Ibarat bisul, gunung ini juga bisa tumbuh semakin membesar dan memuntahkan lava nya jika dapur magmanya sudah penuh. Saat ini ketinggian Anak Gunung Krakatau lebih dari 300 mdpl, tapi nanti ketinggiannya bisa bertambah, karena kecepatan pertumbuhannya bisa mencapai 20 kaki pertahun.

Apakah Anak Gunung Krakatau bisa menjadi sebesar induknya dan meletus dahsyat seperti pada tanggal 27 Agustus 1883 ? Hmmm…menurut saya kemungkinan bisa terjadi, tapi itu membutuhkan waktu yang suangat luamaa.

Saat berada di punggungan ini, saya merasa berada di Pasar Bubrah Gunung Merapi, karena kontur dan batuannya mirip sekali. Dari bawah terlihat asap tipis yang keluar dari kawahnya.

DSC_0163

Di sebelah selatan tampak terlihat Pulau Rakata yang tinggi menjulang. Pulau itulah yang merupakan bagian dari induk Gunung Krakatau yang meletus secara dahsyat. Jika dilihat dari Anak Gunung Krakatau, pulau Rakata terlihat jelas sekali seperti seolah-olah terbelah teriris oleh pisau raksasa.

DSC_0056DSC_0056s

Jadi, sebelum 1883 terdapat Pulau Krakatau, Pulau Panjang, dan Pulau Sertung. Di Pulau Krakatau tersebut terdapat 3 gunung api, yaitu Rakata (atau biasa disebut Krakatau), Danan, dan Perbuatan. Lalu pada 27 Agustus 1883, Krakatau meletus dahsyat hingga menghancurkan 60% bagian pulaunya.

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_De_Anak_Krakatau_TMnr_10027438

Pada tahun 1927 setelah Krakatau meletus, muncul gunung api dari kaldera purba yang masih aktif, dan semakin lama semakin membesar. Gunung itulah yang saat ini kita kenal dengan Anak Gunung Krakatau.

IMG_20160424_090101-01DSC_0142

Setelah melakukan pengamatan, saya turun melewati jalur selatan yang memutar. Di jalur ini terlihat batuan vulkanik merah seperti di gunung Slamet. Uniknya, batuan yang merupakan lelehan lava gunung api ini meleleh ke laut sehingga menambah luas wilayah pulau ini dengan sendirinya.

DSC_0174

Sebenarnya masih banyak hal yang ingin saya ketahui dan mengeksplor tentang gunung ini, tapi waktunya terbatas, karena siang hari kami sudah harus kembali ke Anyer untuk menghindari gelombang laut yang cukup besar.

 

IMG_20160327_070550-01

Merasakan Dahsyatnya Jalur Baturaden Gunung Slamet

Ini adalah kali ketiga saya mendaki Gunung Slamet. Sebelumnya saya pernah mendaki via Bambangan (Purbalingga) 16 Agustus 2008, dan via Guci (Tegal) 20 November 2015, tepat ketika saya berulangtahun yang kesekian.

Kali ini saya mendaki dalam jumlah besar, bisa dibilang pendakian massal karena membawa peserta sekitar 50 orang, ditambah lagi panitia berjumlah 20 orang yang tergabung dalam event Cozmeed #EatSleepHike7.

Malam itu selepas pulang dari kantor, saya berangkat menuju Stasiun Pasar Senen. Sebenarnya jadwal kereta ke Purwokerto pukul 05.30, maka agar tidak terlambat saya memutuskan untuk menginap di stasiun. Saat sampai stasiun sudah ada Nazar dan bang Dedy, lalu tidak lama kemudian datang rombongan dari Bekasi. Malam itu kami menunggu pagi dengan tidur di emperan toko di dalam stasiun. Tanpa mengeset alarm, saya sudah dibangunkan oleh satpam saat menjelang Subuh.

IMG_20160324_020731-01

Sampai stasiun Purwokerto sekitar pukul 11.00, dari situ kami lanjutkan ke tempat meeting point nya yaitu di Cartenz Adventure Store. Di sini kami berkenalan dengan para peserta dari daerah lain dan mempersiapkan perbekalan untuk pendakian. Sore hari sekitar pukul 17.00 para peserta berangkat menuju Palawi di Baturaden menggunakan bis. Meskipun begitu panitia masih ada yang standby hingga pukul 11 malam, menunggu beberapa peserta yang ijin untuk datang terlambat.

IMG_20160324_163257

PicsArt_03-29-02.32.07IMG_20160324_181346IMG_20160324_171212

Hujan mulai turun ketika para peserta sampai di Pendopo Baturaden. Setelah makan malam, semua berbaur melakukan perkenalan antar peserta dan panitia, acara selanjutnya adalah pembekalan materi Manajemen Pendakian oleh bung Pherle dan presentasi “Memparodikan Permasalahan di Alam Bebas Melalui Instagram” oleh saya sendiri. Acara malam ini diakhiri dengan briefing untuk pendakian esok pagi, karena dijalur Baturaden ini tergolong panjang dan sulit sekali.

25 Maret 2016

IMG_20160325_083509

Setelah sarapan dan melakukan pemanasan, semua peserta naik menuju titik pendakian yang berada di ketinggian sekitar 630 mdpl. Di titik pendakian ini sama sekali tidak ada pintu gerbang dan penunjuk arahnya, jadi bagi yang belum pernah ke sini kemungkinan akan ambil jalan yang lurus, padahal jalur sebenarnya ada di sebelah kanan. Di sini para peserta masih bersenda gurau, padahal di depan masih banyak tanjakan terjal dan sempit yang menanti untuk dilewati.

IMG_20160325_085309

Dari titik pendakian menuju Pos 1 ditempuh sekitar 1 jam. Saat tiba di Pos 2 waktu menunjukkan pukul 12.00, waktunya istirahat makan siang. Di Pos 2 ini merupakan tempat datar yang cukup luas dan terdapat aliran air.  Setelah beristirahat dan mengisi perut, perjalanan dilanjutkan menuju Pos Tentara, yaitu tempat camp hari pertama.  Saat sampai di Pos Patok, ternyata ada beberapa pendaki yang fisiknya bermasalah, sehingga terpisah menjadi 2, namun masih ada panitia dan tim sweeper yang mendampingi.

Tiba-tiba di tengah perjalanan hujan turun dengan derasnya dan menjadi-jadi, gelap pun mulai datang, namun kami masih berjuang untuk mencapai camp Pos Tentara. Semak-semak yang tinggi dan rapat membuat kami kebingungan mencari arah jalur, dengan seksama kami lihat tanda berupa tulisan kecil berwarna oranye dari Tim Advance yang digantungkan di ranting pohon untuk membantu navigasi. Beban tas semakin berat karena guyuran air hujan, tangan saya menjadi dingin dan kaku, untung saja hati saya tidak ikutan kaku, ditambah lagi kedua paha yang kram membuat saya kesulitan untuk melangkah. Maka dari itu saya putuskan untuk berjalan perlahan membuat ritme tersendiri. Tampak 3 langkah di belakang saya ada Nespi, salah satu peserta pendakian. Kami hanya jalan berdua, sementara tim paling depan dan belakang terpaut cukup jauh. Sambil banyak berdoa saya melangkahkan kaki yang sangat berat ini agar cepat sampai Pos Tentara.

IMG_20160326_104019

Sekitar pukul 18.00 sebagian tim sudah sampai camp Pos Tentara, dan mengganti pakaian mereka dengan yang kering agar tidak hipotermia. Sementara itu sebagian peserta lainnya memutuskan camp di Pos 3 karena fisik mereka drop tidak dapat mencapai Pos Tentara sesuai dengan rencana yang telah ditentukan. Masalah yang dihadapi adalah pembagian logistik dan tenda. Ada beberapa peserta yang tendanya masih dibawa tim peserta yang di belakang, begitu juga sebaliknya dengan logistik. Untung saja yang camp di Pos Tentara masih ada tempat untuk berbagi dengan peserta yang tidak membawa tenda.

26 Maret 2016

BPRO0869BPRO0865

Aktivitas pagi ini diisi dengan menjemur pakaian dan perlengkapan yang basah, maklum kemarin sore hujannya sangat deras sekali. Ada beberapa peserta yang sedang masak dan juga melakukan hajatnya di balik semak-semak. Untuk sumber air tidak perlu khawatir, karena di pos ini ada cerukan kecil yang terdapat air bersihnya.

Setelah mendapat kabar bahwa tim yang camp di Pos 3 melakukan pergerakan ke atas, kamipun segera packing. Tapi sayangnya ada sekitar 6 peserta tidak dapat melanjutkan perjalanan ke Puncak karena kondisi fisiknya tidak memungkinkan, maka dari itu mereka pun turun kembali dengan ditemani tim sweeper.

Anggi, salah seorang peserta dari Jogja memutuskan untuk turun kembali dan tidak dapat melanjutkan perjalanan. Memang sih, pada awal pendakian dia terlihat kurang sehat, tapi setelah saya beri obat dan tasnya saya bawakan kondisinya sudah semakin membaik. Sayang sekali, di Pos ini dia menyerah, dan saya tidak bisa memaksakan kehendak. Setelah Anggi turun, ada juga peserta yang ingin menyusul turun, namanya Hakim. Peserta yang berwajah Arab ini ingin menyerah begitu saja. Saya melihat kondisinya sehat, cuma mentalnya agak “terganggu”. Maka dari itu saya beri dia motivasi dicampur dengan pisuhan dan ancaman push up. Dari situ ia berubah pikiran, dan melanjutkan perjalanan hingga tuntas.

IMG_20160326_124013IMG_20160326_120935-2

Perjalanan selanjutnya adalah menuju Plawangan atau batas vegetasi. Di sinilah kami akan bermalam di hari ke-dua. Trek dari Pos Tentara menuju Plawangan semakin banyak menanjak dan sempit. Terkadang lutut harus terpaksa bertemu dengan hidung, dan beberapa kali harus dibantu menggunakan webbing.

IMG_20160326_113320BPRO0892-01

Setelah melewati Pos 4 kami dihadapkan pada sebuah lorong sempit. Di lorong ini para pendaki harus merayap dan melepaskan carriernya, karena sempit sekali, persis seperti latihan militer. Sekitar pkl 13.00 kami sampai di Pos Badai. Pos ini berada di punggungan bukit. Untuk menuju Plawangan masih harus menanjak lagi dan melewati Pos Pertigaan. Di Pos ini merupakan pertemuan jalur Baturaden dengan jalur Sawangan. Dari sini jalur sudah semakin landai karena melewati punggungan yang bekas terbakar, sementara itu kabut perlahan menyelimuti sehingga harus hati-hati dalam memilih jalur agar tidak tersesat.

IMG_20160326_140548IMG_20160326_174326-01

IMG_20160326_150213

 

Pada pukul 14.50 sebagian peserta sudah sampai di Plawangan. Sementara itu sebagian lainnya masih dalam perjalanan. Di Plawangan ini cuacanya sangat cerah, sehingga kita bisa melihat puncak Slamet dari kejauhan.

Malam itu terasa syahdu, karena sang bulan menampakkan sinarnya yang terang di gunung ini.

27 Maret 2016 (Summit Attack !)

Setelah mendapatkan briefing tadi malam. Para peserta bangun sekitar pukul 03.00 untuk sarapan, karena harus mendaki puncak sepagi mungkin untuk menghindari kabut jika terlalu siang.

IMG_20160327_070550-01

Jalur menuju puncak Slamet sangatlah terjal dan miring, dengan medan berupa batuan vulkanik merah khas Slamet dan juga pasir. Maka dari itu disarankan menggunakan gaiter untuk mencegah pasir atau batu masuk ke sepatu dan gunakan juga trekking pole untuk membantu naik dan menopang tubuh, terlebih lagi semua peserta membawa tas carrier hingga ke puncak, jadi beban bertambah berat.

IMG_20160327_083103BPRO0929

Hakim yang sebelumnya ingin turun kembali, kali ini semangat sekali untuk mencapai puncak, ocehan untuk menyemangati saya selalu saja dia keluarkan. Yapp, kali ini saya yang bermasalah. Saya masih teringat saat terperosok di jalur Guci saat salah jalur untuk mencapai puncak 3 bulan lalu. Maka dari itu saya memutuskan untuk naik perlahan dan sangat hati-hati sekali. Kadar oksigen di sini sangat tipis. Saya selalu berhenti untuk mengatur napas setelah 10-15 langkah naik, karena kalau dipaksakan langsung naik akan merusak otak dan paru-paru.

IMG_20160327_091054

Pada pukul 08.00 para pendaki sudah sampai puncak bibir kawah. Dari sini terlihat jelas puncak jalur Guci dan juga Gunung Ciremai dari kejauhan. Untuk menuju puncak tertingginya masih harus melipir bibir kawah yang menanjak dan sempit. Perlu kehati-hatian yang sangat ekstra, mengingat jalur ini sangat sempit dan berbahaya, karena di sebelah kiri terdapat kawah menganga dan sebelah kanannya berupa jurang yang dalam, jika lengah sedikit bisa celaka. Entah seberapa dalam, yang pasti tidak sedalam cintaku padamu #eeaa

Sambil berjalan menuju puncak tertinggi, saya membuat video sendiri. Kenapa sendiri ? Karena saya sudah terbiasa begini😦

Jika mendaki dari Baturaden dan menuju ke Bambangan, maka akan melewati Puncak Tugu Surono. Puncak ini dinamakan demikian karena untuk mengenang Surono yang tewas di Puncak Gn. Slamet.

IMG_20160327_091743IMG_20160327_092418

Dari Tugu Surono untuk menuju Puncak Bambangan yang merupakan puncak tertingginya masih harus melewati bibir kawah lalu turun ke lembah dan menanjak sedikit lagi.

IMG_20160327_094559IMG_20160327_104304

Setelah puas di puncak, para peserta turun melalui jalur Bambangan. Di jalur Bambangan ini berbanding terbalik dengan Baturaden, karena sangat ramai sekali, dan banyak memiliki tempat datar untuk mendirikan tenda. Bahkan saat ini ada warung hampir di setiap posnya.

Untuk turun menuju basecamp Bambangan masih harus ditempuh lagi sekitar 4 jam perjalanan melewati banyak jalur air.

Sebagian besar peserta sudah sampai basecamp Bambangan sekitar pukul 21.00 dengan susah payah, mengingat tenaganya sudah terforsir saat mendaki dari Baturaden. Untungnya mereka semua bisa turun kembali dengan selamat dan tidak lupa membawa serta sampahnya sampai ke bawah.

IMG-20160413-WA0003

IMG_20160309_070420

Totalitas Mengamati Gerhana Matahari (tidak) Total di Bukit Pemancar

Hari ini, 9 Maret 2016 adalah peristiwa bersejarah bagi negara Indonesia, karena beberapa bagian wilayahnya dilewati oleh fenomena alam yang sangat langka, yaitu Gerhana Matahari Total. Maka dari itu Kementrian Pariwisata mengekspos dan merayakan besar-besaran kejadian ini dengan membuat beberapa event besar di wiayah yang dilewati gerhana untuk meningkatkan daya tarik kunjungan wisata di Indonesia.

Sayangnya saya tidak bisa ke tempat-tempat tersebut, karena waktu yang tidak memungkinkan. Untuk itu saya putuskan untuk mengamatinya di Bukit Pemancar di Kota Cilegon yang jaraknya tidak jauh dari rumah.

Pagi itu sekitar pukul 5.30 WIB saat masih cukup gelap, saya melaju menggunakan motor menuju Bukit Pemancar. Biasanya jalan dekat terowongan menuju Bukit Pemancar ditutup menggunakan portal, untungnya saat itu portalnya terbuka, jadi membawa motor sampai ke atas.

IMG_20160309_080356

Di puncak bukit ini terdapat Tower pemancar TVRI dan sebuah kantor, maka dari itu dinamakan Bukit Pemancar. Selain itu bukit ini juga biasa digunakan untuk take off paralayang.

IMG_20160309_070420
Hidethosi Nakata & Shinji Kagawa

Saat sampai di bukit, ternyata sudah ada beberapa orang di sana. Ada anak Mapala Krakatau yang sengaja camping di sini, ada trail runner yang mampir sebentar, dan ada juga penduduk setempat. Cukup banyak juga rupanya, karena hari ini bertepatan dengan hari libur memperingati Hari Raya Nyepi umat Hindu.

IMG_20160309_073604

Tidak lama setelah sampai lokasi, saya langsung menyiapkan peralatan fotografi. Sengaja sebelumnya saya menyiapkan kacamata khusus untuk melihat gerhana matahari. Bentuk dan bahannya mirip Kacamata 3D yang dulu biasa dipakai untuk nonton Film di RCTI seperti serial kartun Remi, komedi situasi Gara-gara, dan Ada-ada Saja. Namun bagian lensanya berwarna hitam pekat yang tidak dapat digunakan untuk melihat kecuali untuk melihat matahari atau cahaya dari las.

Peralatan fotografi yang saya bawa tidak terlalu banyak, standar seperti pada biasanya, yaitu Kamera DSLR, lensa 18-200 mm, tripod, dan juga filter CPL. Sebenernya yang cocok digunakan adalah filter Neutral Density (ND) tapi sayangnya saya gak punya, jadi saya memanfaatkan filter dari kacamata gerhana dan juga kaca untuk mengelas.

REN_3042

Matahari jingga baru menampakkan wujudnya yang sempurna ketika saya baru sampai di lokasi. Garis lingkaran yang solid dan menyinari perairan menjadi daya tarik obyek fotografi. Jarang sekali saya bisa lihat matahari terbit yang bagus dari sini, karena biasanya selalu tertutup bukit dan posisinya bergeser sekian derajat.

REN_3071 REN_3080

Dari kejauhan di sebelah kanan yang menjulang terdapat Gunung Karang yang merupakan gunung tertinggi di Banten, di sisi tengah yang bentuknya agak menyerupai perahu itu adalah Gunung Pinang (lebih tepatnya bukit). Beruntung sekali hari ini cuacanya sangat cerah, dan matahari bisa puas menampakkan wujudnya tanpa terganggu awan mendung.
REN_3092 REN_3108

Suasana menjadi semakin seru ketika bayangan bulan yang berwarna hitam sudah mulai menutupi matahari. Hal itu bisa terlihat jelas dari kacamata gerhana ataupun dari kamera. Semua orang yang hadir tampak dengan seksama memperhatikan fenomena alam yang satu ini, semuanya takjub akan kebesaran Tuhan. Di samping itu juga terdengar sayup-sayup dari beberapa masjid di kampung sekitar suara yang menyerukan ajakan masyarakat untuk melakukan sholat gerhana.

Proses gerhana matahari ini berlangsung sekitar 40 menit, tapi sayangnya di daerah Cilegon gerhananya tidak total, sehingga saya tidak mendapatkan foto matahari yang seluruhnya tertutup bayangan bulan. Yahh, meskipun begitu tidak menyurutkan niat saya untuk melihat secara langsung dan mengabadikan fenomena alam bersejarah ini, karena pengalaman ini kelak akan menjadi cerita menarik bagi anak, cucu kita nanti.

IMG_20160309_135003

 

IMG-20160126-WA0001

Mengarungi Selat Sunda Dengan Kapal Penyeberangan Termewah di Indonesia

Ini adalah kali ketiga saya menjejakkan kaki di tanah Sumatera. Dulu waktu masih muda saya udah 2x main ke Lampung tapi cuma sampai pelabuhan aja, cuma mau ngerasain naik kapal laut abis itu pulang lagi. Kali ini udah ada kemajuan, yaitu menjelajahi bukit Monumen Siger, yaa meskipun masih di wilayah pelabuhan.
Siang itu kami berangkat bertiga, saya, Adit, dan Nana. Tapi pada perjalanan ini saya berperan sebagai obat nyamuk.
Dari rumah saya di Cilegon menuju Merak ditempuh selama 30 menit, dan langsung menaiki Kapal Ferry, tapi dengan kapal yang biasa, lalu membayar tiket sebesar Rp 14.500. Jarak tempuh dari Merak ke Bakauheni sekitar 2 jam.

Ketika sampai di Bakauheni, kami makan terlebih dahulu, kemudian melanjutkan perjalanan ke atas bukit menggunakan ojeg yang ongkosnya Rp 10.000. Banyak-banyaklah berdoa jika menaiki ojeg di sini, karena tidak menggunakan helm, dan juga melawan arus lalu lintas dengan kecepatan tinggi, belum lagi jalan yang bergelombang menjadi sensasi tersendiri.

Menara Siger sebenarnya menjadi titik nol Sumatera di Selatan, namun sayang saat itu Menaranya sedang tutup, jadi kita gak bisa lihat berbagai macam koleksi seni dan budaya Lampung.

IMG-20160126-WA0001
Saat pulang, kami menaiki Kapal Portlink III. Kapal ini merupakan kapal penyeberangan besar dan termewah di Indonesia. Ketika pertama masuk ruangan saya pikir ini emoll atau hotel.

Uniknya, KMP Port Link dan RMS TITANIC dibangun di tempat yang sama, yaitu di galangan utama milik Harland and Wolff Ltd Belfast, yang bermarkas di Liverpool, Inggris. Meskipun begitu saya tidak lantas mendukung Liverpool. RMS Titanic dibangun tahun 1908, sedangkan KMP Port Link ini dibangun di tahun 1980. Bedanya, Titanic berlayar mengarungi samudera Atlantik sedangkan KMP Port Link berlayar mengarungi Selat Sunda.

Interior di dalam kapal ini sangat bagus dan terdapat fasilitas mewah seperti BAR, cafe, ruang tidur, lift, mini market, bioskop mini, dan ruang VIP.

Selain perangkat keamanan yang canggih, pelayanan di kapal ini sangat bagus, yaitu ada pemaparan bagaimana menggunakan pelampung dan penyelamatan ketika keadaan darurat oleh Sea Attendant yang cantik-cantik. Begitu juga saat waktu sholat, petugas akan mengumandangkan adzan dan membimbing penumpang ke mushola yang letaknya di lantai atas.

Namun sayang, kapal mewah ini tetap saja jadi kotor oleh kebiasaan penumpang yang membuang sampah sembarangan, merokok di dalam toilet, dan menggunakan alas kaki di tempat wudhu.

Semoga para penumpang bisa sadar akan tanggungjawabnya dan dapat menjaga semua fasilitas yang ada.

Terima kasih PT. ASDP Indonesia.